Tidak Terbukti OPM, Enam Warga yang Ditangkap TNI di Mimika Dibebaskan

Endy Langobelen

Jumat, 6 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Enam warga sipil yang sempat ditangkap aparat TNI karena diduga sebagai anggota TPNPB-OPM. (Foto: Istimewa)

Enam warga sipil yang sempat ditangkap aparat TNI karena diduga sebagai anggota TPNPB-OPM. (Foto: Istimewa)

MIMIKA – Enam warga yang sebelumnya diamankan dalam insiden penindakan di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, akhirnya dibebaskan setelah menjalani pemeriksaan oleh aparat keamanan.

Keenam orang tersebut sempat ditangkap oleh aparat Koops TNI Papua karena diduga terkait dengan kelompok bersenjata TPNPB-OPM dalam peristiwa yang terjadi pada Senin (2/3/2026).

Dalam foto-foto yang beredar di masyarakat, mereka terlihat diamankan aparat dengan mata dililit lakban sebelum dibawa ke Markas Kodim 1710/Mimika untuk menjalani pemeriksaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keenam warga sipil yang sempat ditangkap aparat TNI ditutup matanya menggunakan lakban. (Foto: Istimewa)
Keenam warga sipil yang sempat ditangkap aparat TNI ditutup matanya menggunakan lakban. (Foto: Istimewa)

Penangkapan itu sempat memicu kekhawatiran keluarga dan masyarakat setempat. Mereka menyatakan bahwa orang-orang yang ditangkap merupakan warga sipil yang tidak memiliki keterlibatan dengan kelompok bersenjata.

Setelah menjalani pemeriksaan, keenam warga tersebut akhirnya dibebaskan pada Selasa (3/3/2026) malam sekitar pukul 23.30 WIT.

DPRK Mimika Koordinasi Hingga Warga Dibebaskan

Ketua Panitia Khusus (Pansus) Penanganan Konflik Kemanusiaan DPRK Mimika, Anton N. Alom, mengatakan pihaknya ikut terlibat dalam proses koordinasi hingga akhirnya keenam warga tersebut dipulangkan.

“Pertama itu saya mengucap syukur kepada Tuhan. Kedua itu saya ucapkan banyak terima kasih kepada Komandan Kodim selaku komando kewilayaan,” ujarnya.

Anton menjelaskan bahwa penangkapan tersebut terjadi saat aparat melakukan penyisiran setelah menerima informasi adanya pergerakan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.

Menurutnya, aparat mendapat informasi bahwa beberapa orang melarikan diri ke arah lokasi tertentu setelah dua pucuk senjata ditemukan oleh Satgas.

“Karena ada indikasi setelah dapatkan dua pucuk senjata, (ada yang) lari ke arah di situ. Itu informasi yang teman-teman dari Satgas dapat. Karena ada informasi itu, mereka masuk penyisiran,” jelasnya.

Ia mengatakan dalam proses penyisiran itu aparat mengambil tindakan terhadap orang-orang yang bergerak dan hendak berlari.

“Dan pada saat penyisiran itu ada yang lari. Yang bergerak dan lari itu yang ditembak. Kalau yang diam, ditangkap. Setelah ditangkap, demi sebuah informasi mereka harus borgol dan mereka harus tutup mata,” katanya.

Keenam warga yang sebelumnya ditahan akhirnya dibebaskan setelah masyarakat dan anggota DPRK Mimika melakukan koordinasi dengan aparat TNI. (Foto: Istimewa)
Keenam warga yang sebelumnya ditahan akhirnya dibebaskan setelah masyarakat dan anggota DPRK Mimika melakukan koordinasi dengan aparat TNI. (Foto: Istimewa)

Setelah dilakukan pemeriksaan selama 1×24 jam, kata Anton, aparat tidak menemukan keterlibatan keenam orang tersebut dengan kelompok bersenjata.

Baca Juga :  Satgas ODC Serahkan Yuni Enumbi dan Barang Bukti Ratusan Amunisi ke Kejari Jayapura

“Setelah periksa 1×24 jam, kalau mereka masyarakat, otomatis dibebaskan,” ujarnya.

Ia menambahkan pihaknya memastikan bahwa para warga tersebut memang merupakan masyarakat sipil, salah satunya diketahui menjabat sebagai Ketua RT di wilayah SP12.

“Dan kami terlibat dalam pembebasan itu karena kami tahu itu warga masyarakat. Salah satunya Ketua RT 07 di SP12 Blok 8. Itu ada nama-namanya itu. Dengan rombongannya 6 orang bekerja sama dengan Komandan Kodim, dengan kami,” katanya.

Anton menegaskan bahwa dari sisi kemanusiaan, pihaknya meminta agar warga tersebut dipulangkan karena tidak terbukti terlibat dengan kelompok bersenjata.

“Dari sisi kemanusiaan, saya bilang, ah itu masyarakat, pulangkan. Karena yang penting sudah ambil dokumen, data-data sudah lengkap. Nah itu yang dilakukan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Komandan Kodim 1710/Mimika dan jajaran yang merespons koordinasi tersebut.

“Saya juga terima kasih kepada Dandim dan semua jajarannya atas kerja sama yang baik. Ini wilayah kita, kita semua menginginkan semua damai, aman, tenang, tenteram,” katanya.

Tokoh Masyarakat Sempat Minta Warga Sipil Dipulangkan

Sebelum pembebasan keenam warga itu, salah satu tokoh masyarakat di SP12 Blok 8, MK, juga menyampaikan permintaan agar aparat membebaskan warga yang ditahan karena mereka merupakan masyarakat sipil.

“Kami mau mengajukan (terkait 6 orang) yang TNI-Polri tahan itu. Sebab Wainus Kogoya ini dia warga (yang) menetap di SP12 Blok 8. Terus dia ini warga sipil, dia termasuk Ketua RT juga. Jadi, TNI-Polri tolong lepaskan dia karena dia ini sebagai tokoh. Dan tolong sementara ini kami belum lihat dia juga ini,” ujarnya.

Masyarakat di SP12 meminta aparat TNI membebaskan keenam warga yang ditangkap di Tembagapura. (Foto: Istimewa)
Masyarakat di SP12 meminta aparat TNI membebaskan keenam warga yang ditangkap di Tembagapura. (Foto: Istimewa)

Ia saat itu juga meminta penjelasan mengenai keberadaan warga lain yang ikut diamankan.

“Itu yang kami ajukan. Terus Nopenius lagi, dia ini pengungsi dari Ilaga. Sementara dia bersama warga penduduk di sini SP12. Jadi tolong kasih penjelasan supaya kami bisa tahu. Sementara ini kami masih cari (keberadaan mereka) juga ini,” katanya.

Baca Juga :  Polisi Dalami Peran Anan Nawipa, Pelaku Pembunuhan Danramil Aradide

“Dan satu poin lagi, Wainus Kogoya dia naik itu dia punya camp tempat cari makan itu di Tembagapura. Itu yang dia naik cari makan baru dia ditahan itu,” imbuhnya

Aparat Harus Jeli Melihat Situasi di Lapangan

Lebih lanjut Anton menegaskan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan keenam orang tersebut tidak memiliki keterlibatan dengan kelompok bersenjata.

“Tidak ditemukan (keterlibatan dengan OPM). Semua datanya lengkap. Tidak terbukti mereka dari kelompok bersenjata. Jadi itu yang benar-benar masyarakat jadi kami pulangkan,” katanya.

Meski demikian, ia menilai situasi keamanan di wilayah Tembagapura tetap harus menjadi perhatian karena sering kali masyarakat sipil menjadi korban dalam konflik bersenjata.

Ia juga mengingatkan agar aparat dan pemerintah setempat lebih jeli melihat situasi di lapangan serta mencegah provokasi dari pihak luar.

“Jangan sampai ada masyarakat dari luar, kelompok-kelompok yang memprovokasi, mereka masuk. Akibat dari orang di luar masuk, yang kena bukan mereka, karena pasukan kelompok-kelompok TPNPB-OPM itu licik. Mereka akan lari tapi yang akan jadi korban itu masyarakat,” ujarnya.

Warga Sipil Dilaporkan Tewas dalam Insiden

Untuk diketahui insiden penindakan di Tembagapura itu juga menimbulkan korban jiwa. Seorang pria bernama Eanus Mom dilaporkan meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Pihak keluarga menerima jenazah Eanus Mom di rumah duka, Jalur 4, Distrik Kwamki Narama, Mimika, Papua Tengah, Selasa (3/3/2026) sore. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Pihak keluarga menerima jenazah Eanus Mom di rumah duka, Jalur 4, Distrik Kwamki Narama, Mimika, Papua Tengah, Selasa (3/3/2026) sore. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Anton mengatakan pihaknya pun telah meminta agar jenazah korban yang diketahui sebagai warga sipil dipulangkan kepada keluarga untuk dimakamkan secara layak.

“Jadi yang korban di tengah jalan ini karena kami ketahui dan juga status dia sebagai masyarakat, ya kami minta ke pimpinan daerah dalam hal ini komando kewilayahan, Komandan Kodim 1710 Mimika tolong bawa pulang mayat supaya keluarganya makamkan secara layak,” ujarnya.

Ia menyebut jenazah akhirnya dipulangkan dan dimakamkan oleh keluarga. “Jadi puji Tuhan, kemarin tanggal 4 mereka makamkan di Jalur 4 Kwamki Narama oleh keluarga sendiri,” katanya.

Sementara itu, terkait korban lain yang disebut meninggal dalam kejadian tersebut, Anton mengaku pihaknya tidak memantau langsung prosesnya.

“Korban yang satunya lagi, kami tidak monitor maka secara adat mereka bakar, kremasi di TKP,” ujarnya.

Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi semua pihak agar situasi keamanan di wilayah Tembagapura dapat dijaga bersama.

“Ini wilayah kita, kita semua menginginkan semua damai, aman, tenang, tenteram,” katanya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fakta Baru Serangan Mile 50 Tembagapura: KKB Menyamar, Tumpangi Mobil Aparat
Polisi Tangkap Pelaku Penyerangan dan Perampasan Senjata di Mimika
Masyarakat Adat Malind Gugat Izin Proyek Jalan 135 km di Merauke
Insiden Penindakan di Tembagapura Sisakan Duka dan Perbedaan Keterangan
Polisi Olah TKP Keributan yang Berujung Penyerangan Aparat di Mimika
Jenazah Sipil Korban Penindakan Aparat Tiba di Kwamki Narama
Polisi Tangkap Jaringan PIS, Diduga Penyebar Propaganda via Medsos
Balap Liar Marak Saat Ramadan, Sat Lantas Polres Mimika Turunkan Tim Khusus

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 05:56 WIT

Fakta Baru Serangan Mile 50 Tembagapura: KKB Menyamar, Tumpangi Mobil Aparat

Jumat, 6 Maret 2026 - 21:32 WIT

Tidak Terbukti OPM, Enam Warga yang Ditangkap TNI di Mimika Dibebaskan

Jumat, 6 Maret 2026 - 19:48 WIT

Polisi Tangkap Pelaku Penyerangan dan Perampasan Senjata di Mimika

Jumat, 6 Maret 2026 - 01:02 WIT

Masyarakat Adat Malind Gugat Izin Proyek Jalan 135 km di Merauke

Rabu, 4 Maret 2026 - 21:56 WIT

Insiden Penindakan di Tembagapura Sisakan Duka dan Perbedaan Keterangan

Berita Terbaru

*Stadion Wania Imipi Diasesmen Polda untuk Liga 4 PSSI Papua Tengah* MIMIKA – Menjelang bergulirnya kompetisi Piala Gubernur Liga 4 PSSI Papua Tengah musim 2025/2026 pada 9 Maret 2026 mendatang, kesiapan Stadion Wania Imipi SP... _Baca selengkapnya:_ https://galeripapua.com/stadion-wania-imipi-diasesmen-polda-untuk-liga-4-pssi-papua-tengah/