SORONG – Ikatan Pelajar Mahasiswa/i Paniai (IPMAPAN) se-Kota Studi Sorong, Papua Barat, melaksanakan diskusi tentang dampak teknologi terhadap kesehatan di asrama serta lingkungan, Jumat (30/5/2025).
Diskusi yang digelar di Asrama Paniai, Jalam Malibela, KM. 11,5, Lorong II Meuwo, Distrik Klawalu, Kota Sorong itu menghadirkan pemateri Seniorita Yulita Yogi, yang berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Papua Sorong , Program Studi Sarjana Farmasi.
Topik yang dibahas dalam diskusi itu yakni seputar dampak signifikan, baik positif maupun negatif dari teknologi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yulita Yogi pada diskusi awal menjelaskan tentang manfaat teknologi yang dapat meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan di asrama, di mana bisa mempermudah diagnosis dan mempengaruhi, serta mendukung pola hidup asrama yang lebih sehat.
Alat elektronik dan perangkat pintar pun dapat membantu dan mengatasi persoalan di ruang belajar sehingga lebih maklumat dan efektif.
“Namun, penggunaan teknologi yang berlebihan juga dapat menimbulkan masalah seperti gangguan tidur, masalah kesehatan fisik, kecanduan digital, dan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi lingkungan asrama Paniai serta di luar asrama,” ujar Yulita.
Sementara Nataniel Yogi, Selaku Ketua Asrama Paniai, yang berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Papua Sorong, Program Studi Kesehatan Masyarakat, menjelaskan bahwa teknologi seperti telemedicine memungkinkan konsultasi dengan dokter dari jarak jauh.
“Itu sangat bermanfaat bagi penghuni asrama paniai maba maupun mala yang mungkin memiliki keterbatasan akses ke fasilitas medis,” tuturnya.
Seniorita IPMAPAN Ance Degei, yang berkuliah di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong (UNIMUDA), menjelaskan bahwa alat-alat medis canggih dan sistem rekam medis digital pun sangat membantu dokter dalam mendiagnosa penyakit dengan lebih cepat dan akurat, serta memudahkan pengelolaan data pasien.
Mahasiswa IPMAPAN, Oktavianus Mote, mengutip aplikasi dan perangkat pintar seperti smartwatch dapat memantau aktivitas fisik, pola tidur, dan data kesehatan lainnya.
“Itu pun dapat mendorong untuk penghuni Mahasiswa asrama Paniai, untuk menjaga kebugaran dan kesehatan mental, dan itu menjadi sorotan utama bagi kami penghuni asrama setempat nya,” kata Oktavianus.
Di samping itu, anggota mahasiswi IPMAPAN, Dalmince Gobay, menjelaskan teknologi dapat mempermudah proses administrasi di asrama seperti pendaftaran pasien, pencatatan rekam medis, dan pengolahan data kesehatan, sehingga lebih efisien dan teratur.
Anggota Mahasiswa IPMAPAN, Melkison Adii, mengatakan setidaknya paparan cahaya biru dari layar gawai sebelum tidur dapat mengganggu produksi melatonin, sehingga menyebabkan gangguan tidur.
“Penggunaan gawai dalam waktu lama dapat menyebabkan nyeri leher, mata tegang, dan kelelahan otot,” jelas Adii.
Senada Merry L Pigome, menyebut penggunaan teknologi yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan interaksi sosial.
“Paparan terus-menerus terhadap media sosial dan berita dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan perasaan tidak cukup. Hal ini perlu diurangi dan mengatasinya,” tuturnya.
Dari diskusi ini, Yulita Yogi, mengambil kesimpulan bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan dapat mengurangi interaksi tatap muka, yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan emosional.
“Teknologi memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesehatan di asrama, tetapi juga memiliki risiko yang perlu diwaspadai,” terangnya.
Oleh karena itu, lanjut Yulita, penting bagi penghuni asrama Paniai untuk menggunakan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab.
“Batasi penggunaan gawai sebelum tidur, hindari penggunaan gawai yang berlebihan, dan jaga keseimbangan antara aktivitas online dan offline,” pungkasnya.









