Taji yang Patah di Atas Kepala Suku
Aku berdiri di hutan leluhur
Dengan bulu cenderawasih yang bukan lagi lambang wibawa
Melainkan sisa-sisa ingatan akan martabat yang dirampas
Dari kepala yang dulu dijunjung
Kini ditundukkan oleh dusta yang berakar
Aku kepala suku
Bukan dari mulut yang mengaku
Tapi dari darah, dari tanah, dari tulang nenek moyang
Yang terkubur dalam tanah basah Papua
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun lihatlah…
Datang mereka yang ringan lidahnya
Menyebut diri ‘kepala’
Tanpa luka di telapak kaki
Tanpa lumpur perjuangan di jemari
Mereka mengaku anak adat
Padahal adat mereka adalah kemauan sendiri
Mereka mengaku orang Papua
Tapi tidak pernah menangis saat hutannya ditebang
Tidak pernah melawan saat tanahnya dijual
Tidak pernah berdiri saat saudara diasingkan
Harga diriku dicuri
Bukan dengan senjata
Tapi dengan klaim
Dan gelar palsu yang dipoles rapi
Orang-orang bertepuk tangan untuk aktor
Sementara kepala suku sejati
Terdiam di hutan
Dilupakan zaman
Aku hanya ingin harga diri,
bukan pujian
Bukan tahta
Bukan nama
Cukup diakui bahwa menjadi kepala suku
Bukan soal siapa paling keras bicara
Tapi siapa yang paling tulus menjaga
..









