NDUGA — Pagi belum sepenuhnya terang ketika suara baling-baling memecah kesunyian Distrik Gearek, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Subuh, sekitar pukul 05.00 WIT, 10 Desember 2025—tepat pada Hari Hak Asasi Manusia Sedunia—helikopter-helikopter militer dilaporkan berputar rendah di atas kampung.
Bagi warga Gearek dan sekitarnya, bunyi itu bukan hal asing. Ia adalah isyarat bahaya yang sudah berulang kali mereka kenali: tanda untuk meninggalkan rumah, membawa anak-anak, dan mencari perlindungan ke hutan.
Hari itu menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang berujung pada pengungsian massal, korban jiwa, dan Natal yang kembali dirayakan dalam ketakutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari HAM yang Berubah Menjadi Hari Ketakutan
Informasi yang dihimpun dari warga, anggota DPRK Nduga, dan Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) menyebutkan, pada 10 Desember 2025 aparat keamanan diduga melakukan operasi udara di Distrik Gearek menggunakan sejumlah helikopter. Aktivitas ini berlanjut pada 11 dan 12 Desember 2025.
Anggota DPRK Nduga Komisi C, Matius Kerebea, melalui pesan suaranya pada 14 Desember 2025, menegaskan bahwa operasi itu terjadi bertepatan dengan Hari HAM.
“Tanggal 10 Desember, pada saat Hari HAM Sedunia, TNI-Polri melakukan penyerangan lewat udara menggunakan 6 helikopter. Itu di hari pertama. Dan hari kedua, 3 helikopter yang beroperasi di Distrik Gearek,” ujar Matius.

Menurut keterangan warga kepada YKKMP, dua hari pertama diwarnai pemantauan menggunakan drone. Situasi memuncak pada 12 Desember 2025 ketika helikopter kembali melintas rendah dan diduga melakukan penyerangan di sekitar permukiman warga.
Direktur Eksekutif YKKMP, Theo Hesegem, dalam siaran persnya pada 15 Desember 2025, menyebut serangan terjadi sejak subuh.
“Menurut salah satu masyarakat setempat, pada subuh sekitar pukul 05.00 WIT, helikopter mulai berputar di udara di daerah Gearek dan melakukan penyerangan tempat tinggal anggota TPNPB,” kata Theo.
Namun, dampaknya meluas ke warga sipil. Sejumlah rumah dilaporkan rusak, dan satu helikopter disebut melakukan pendropan pasukan.
Warga Lari ke Hutan, Data Menghilang
Kepanikan menyebar cepat. Warga meninggalkan kampung tanpa sempat membawa bekal memadai. Sebagian bersembunyi di hutan-hutan, sebagian lain mencoba berjalan kaki menuju Distrik Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga.

Masalahnya, hingga beberapa hari berlalu pascakejadian, belum ada satu pun pengungsi yang dilaporkan tiba di Kenyam.
“Kami sangat khawatir,” kata Matius Kerebea kala itu. “Sudah sampai lima hari, kami belum mendapatkan informasi terkait tempat di mana masyarakat Gearek mengungsi. Belum ada satu pun yang tiba di Kenyam.”
Situasi ini memperlihatkan krisis lain: ketiadaan data resmi. Negara tidak mengetahui dengan pasti ke mana warganya pergi.
Suara dari Wakil Rakyat: Natal yang Selalu Trauma
Peristiwa ini memantik reaksi keras dari Anggota DPR Provinsi Papua Pegunungan daerah pemilihan Nduga, Semianus Wandikbo. Lewat pesan suara yang diterima redaksi Galeripapua.com pada pertengahan 14 Desember 2025, politisi Partai Gelora itu menyampaikan kekecewaannya.
“Kami minta sekali-kali biarkanlah kami Natal, biarkan kami sukacita, damai sejahtera, karena kami bersyukur kelahiran Tuhan Yesus,” ujar Semianus.
Semianus menegaskan bahwa Desember di Nduga selalu identik dengan trauma.

“Setiap Desember ini, hadiah Desember, hadiah Natal ini selalu saja kami makan bom-bom. Ini bahaya dan kami tidak ingin terjadi, tapi hari ini terjadi,” sesalnya.
Ia mendesak Presiden RI, Panglima TNI, Kapolri, Pangdam, hingga Pangkogab untuk menarik aparat militer dari Distrik Gearek dan Pasir Putih.
“Biarkan masyarakat saya Natal dengan damai, jangan dalam keadaan trauma,” tegas Semianus.
Investigasi Lapangan: Kampung Kosong dan Anak yang Tewas
Kebenaran di lapangan baru terkuak ketika Ans Serera, Anggota DPRK Nduga sekaligus Ketua Fraksi Gabungan NIS, bersama Tim Kemanusiaan turun langsung ke Distrik Gearek pada 18–20 Desember 2025.
Mereka menemukan kampung-kampung kosong dan rumah-rumah rusak berat.
“Saya turun langsung ke lapangan dan melihat bagaimana situasi di sana. Kampung kosong, rumah rusak, dan masyarakat terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri,” ujar Ans setelah rombongan kembali ke Kenyam, 20 Desember 2025.

Dari keterangan warga, Ans mengungkap adanya korban jiwa. Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, Aristina Giban, dilaporkan meninggal dunia akibat terkena tembakan. Ibunya, Wina Kerebea, mengalami luka. Hingga saat itu, jenazah Aristina belum diserahkan kepada keluarga.
Dalam perjalanan pengungsian, korban kembali berjatuhan. Elius Baye (25 tahun) dilaporkan meninggal dunia di hutan saat perjalanan menuju Kali Kabur akibat sakit dan kekurangan makanan.
“Ini sudah menjadi krisis kemanusiaan,” kata Ans. “Perempuan dan anak-anak tidak boleh menjadi korban.”
Jalan Kemanusiaan dan Baliho Perlindungan
Di tengah kekosongan negara, YKKMP bersama DPRK dan perwakilan pemerintah daerah mengambil inisiatif. Mereka memasang baliho perlindungan warga sipil di Distrik Gearek dan Pasir Putih sebagai simbol jaminan keamanan.
Setelah pemasangan baliho, pengungsi mulai kembali. Theo Hesegem menyebut warga yang mengungsi ke Kampung Yunusugu, Kabupaten Asmat, mulai pulang pada 18 Desember 2025.

“Setelah pemasangan baliho, pengungsi yang berada di Kampung Yunusugu, Kabupaten Asmat, telah kembali ke Distrik Pasir Putih pada 18 Desember 2025 dan menempati kembali rumah mereka,” ujar Theo dalam keterangan tertulisnya pada 23 Desember 2025.
Rindu Natal di Kampung
Pada 22 Desember 2025, Bupati Nduga, Yoas Beyon, menemui 71 pengungsi di halaman SD Inpres Kenyam. Seorang ibu pengungsi menceritakan kronologi penyerangan yang dilakukan aparat militer. Ia pun menyampaikan harapannya.
“Kami rindu mengikuti Natal di kampung kami sendiri,” katanya kepada Bupati.
Mendengar jeritan warganya, Bupati Yoas Beyon berjanji memfasilitasi pemulangan para pengungsi.
“Saya berharap mungkin besok tanggal 23 Desember 2025, bapak ibu sudah bisa kembali mengikuti Natal di sana (Gearek),” ujar Yoas.

Pemerintah Kabupaten Nduga juga mengalokasikan dana Rp200 juta untuk memfasilitasi pemulangan pengungsi.
Potret Besar Papua: Pengungsian yang Berulang
Apa yang terjadi di Gearek sesungguhnya bukan peristiwa tunggal. Laporan YLBHI Papua dalam Cengkeraman Militer: Situasi HAM 2023–2025 mencatat 76.228 pengungsi internal dalam periode tersebut.
“Akibat pengedropan pasukan sejak 2018 sampai 2025, khusus untuk periode 2023–2025, kami mendata sekitar 76.228 orang menjadi pengungsi,” kata Emanuel Gobay saat peluncuran laporan di Jakarta, 16 Desember 2025.
Kata dia, mayoritas pengungsi adalah perempuan dan anak-anak. Sekolah terhenti. Ladang kebun ditinggalkan. Trauma diwariskan.

Natal dan Pertanyaan yang Tertinggal
Hingga akhir Desember 2025, pihak aparat, baik TNI maupun Polri, belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan operasi udara di Distrik Gearek.
Sementara itu, warga Nduga kembali ke kampung dengan luka yang belum sembuh. Natal akhirnya dirayakan—bagi sebagian—di rumah yang rusak, dengan ingatan akan anak-anak yang tak kembali.
Di Nduga, suara rotor helikopter masih menjadi penanda. Bukan hanya tentang perang, tetapi tentang sebuah pertanyaan yang terus menggantung: sampai kapan Natal di Papua harus dirayakan dalam pengungsian?










