Tifa, Batu, dan Langit yang Tak Tidur | Kumpulan Puisi Rifqi Septian Dewantara

Rifqi Septian Dewantara

Minggu, 4 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi puisi Tifa, Batu, dan Langit yang Tak Tidur. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen regenerated by ChatGPT)

i

Ilustrasi puisi Tifa, Batu, dan Langit yang Tak Tidur. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen regenerated by ChatGPT)


Tanah yang Menyala di Lembah Baliem

Kabut turun seperti doa yang lupa alamat, di sela lembah, tubuh-tubuh tanah membuka diri pada pagi yang belum punya nama. Di sana, api bukan sekadar panas, ia bahasa para leluhur yang disulut dari batu dan kenangan. Ubi tumbuh dari kesabaran ibu-ibu yang menanam cinta dengan kuku, keladi direbus bersama kabar angin dari masa silam. Seorang anak lelaki meniup abu, memanggil roh yang pernah menulis sejarah di kulit babi dan duri pandan. Di langit, seekor burung melintas, mungkin burung terakhir yang tahu arti rumah. Lalu dunia terasa diam—seakan menunggu manusia kembali mengucap terima kasih pada bumi yang tak pernah menolak luka.

Baca Juga :  Semangat Kemerdekaan di Panggung Puisi: Dinas Pendidikan Papua Tengah Gelar Lomba Baca Puisi untuk Generasi Muda

(2025)


Nyanyian dari Teluk Cenderawasih

Laut di sini tidak biru, ia bening seperti mata nenek yang menatap masa lalu tanpa dendam. Di atas perahu, para nelayan mendengar desir ombak seperti bisikan dari arwah yang pernah tenggelam bersama mimpi tentang kebebasan. Sagu dibakar di tangan perempuan yang rambutnya berbau asin, ia tahu: setiap butir garam adalah kesetiaan. Seorang anak menggambar burung di pasir, lalu angin menghapusnya—begitu juga sejarah, kadang disapu sebelum sempat dihafal. Namun, ketika sore tiba, dan bayangan perahu menjadi doa panjang, laut kembali bernyanyi dalam bahasa yang tak bisa diterjemahkan manusia: bahasa yang hanya dimengerti oleh ikan, bulan, dan mereka yang masih percaya pada rumah di bawah cahaya timur.

Baca Juga :  Taji yang Patah di Atas Kepala Suku | Puisi Arnold Mansawan

(2025)


Tifa, Batu, dan Langit yang Tak Tidur

Di Wamena, tifa berdetak seperti jantung bumi yang menolak diam. Api unggun menari di antara wajah-wajah tua, setiap kerutnya adalah peta waktu. Lelaki memukul tanah dengan nada yang membuat roh turun, perempuan menatap langit dengan sabar yang diwariskan dari sagu dan hujan. Daging babi dibagi, bukan untuk kenyang—melainkan untuk mengingat bahwa lapar adalah cara alam menegur manusia. Di antara asap, seseorang berbisik: “Kita ini cuma abu yang belajar jadi cahaya.” Dan malam pun mendengarkan, tanpa bertanya apa itu merdeka. Papua, di sini doa tak pernah selesai, hanya berpindah dari tifa ke batu, dari batu ke langit, dari langit ke dada manusia yang masih berani hidup.

(2025)

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Taji yang Patah di Atas Kepala Suku | Puisi Arnold Mansawan

Berita Terkait

Minggu, 4 Januari 2026 - 18:18 WIT

Tifa, Batu, dan Langit yang Tak Tidur | Kumpulan Puisi Rifqi Septian Dewantara

Senin, 2 Juni 2025 - 07:21 WIT

Taji yang Patah di Atas Kepala Suku | Puisi Arnold Mansawan

Berita Terbaru

Lima anggota Lima pemuda yang sebelumnya tergabung dalam kelompok OPM pimpinan Joni Botak menyatakan kembali ke pangkuan NKRI di Kampung Jampul, Distrik Beoga Barat, Kabupaten Puncak, Minggu (4/1/2026). (Foto: Istimewa/Satgas Media Habema)

Hukrim

Lima Anggota OPM Kembali ke Pangkuan NKRI

Senin, 5 Jan 2026 - 23:21 WIT