Banjir Tahunan di Wania Mimika: Warga Pasrah Menunggu Air Surut

Endy Langobelen

Selasa, 19 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dimianak Katagame, warga Kelurahan Kamoro Jaya (kawasan penduduk Suku Amungme), menyusuri jalan raya kampung yang terendam banjir. Semakin masuk ke kampung, air banjir semakin dalam. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Dimianak Katagame, warga Kelurahan Kamoro Jaya (kawasan penduduk Suku Amungme), menyusuri jalan raya kampung yang terendam banjir. Semakin masuk ke kampung, air banjir semakin dalam. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

MIMIKA – Selama sepekan terakhir, warga Distrik Wania di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, harus hidup dalam genangan banjir yang merendam rumah dan kebun mereka.

Dari Kelurahan Kamoro Jaya hingga Jalan Anggrek, keluhan warga sama: banjir sudah menjadi “langganan tahunan”, tapi solusi permanen dari pemerintah tak kunjung datang.

“Air naik begini otomatis kita punya tanaman mati semua. Petatas, singkong, ubi-ubi ini tidak ada panen lagi,” keluh Yapo Murib, warga Kelurahan Kamoro Jaya, Selasa (19/8/2025) siang, sambil menunjukkan kondisi kebunnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yapo Murib, warga Kelurahan Kamoro Jaya, menunjukkan kondisi kebunnya sehabis terendam banjir.(Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Sejak awal Agustus, hujan deras turun nyaris setiap hari. Kali Marah—sungai yang melintas di kampung itu—tak lagi mampu menampung debit air.

Luapan sungai masuk ke halaman rumah warga, bahkan hampir masuk ke 55 pintu rumah di kawasan pemukiman Suku Amungme itu.

Banjir Setiap Tahun ketika Hujan

Bagi Dimianak Katagame, warga Kelurahan Kamoro Jaya (kawasan penduduk Suku Amungme), banjir bukan peristiwa baru.

“Setiap kali hujan pasti banjir. Ini sudah biasa. Kalau air naik, kita tinggal di rumah keluarga. Kita punya kebun juga sudah tenggelam, busuk semua. Ubi, singkong, keladi, tidak bisa panen,” ujarnya pasrah.

Suara serupa datang dari Iriana Katagame yang juga merupakan warga Kelurahan Kamoro Jaya (kawasan penduduk Suku Amungme).

Iriana Katagame, warga Kelurahan Kamoro Jaya (kawasan penduduk Suku Amungme). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Ia menyebut pemerintah setiap tahun hanya datang membawa bantuan makanan, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah.

Baca Juga :  OPM Bertanggung Jawab Atas Penembakan di Dekai, Minta Pendatang Keluar dari Yahukimo

“Tidak usah kasih makanan terus. Kita tanam sendiri makanan. Tapi banjir tiap tahun begini terus. Pemerintah harus kasih masuk alat berat, bersihkan got, kasih saluran besar,” katanya dengan nada kesal.

Bagi warga, banjir sudah menjadi simbol keterpinggiran. “Kali Marah” bukan hanya nama sungai, tapi juga metafora untuk kemarahan mereka terhadap pemerintah yang dianggap membiarkan persoalan berulang.

Parit yang Tak Mampu Menampung

Menurut warga sekitar, penyebab utama banjir adalah parit yang terlalu kecil dan dangkal.

“Kuncinya itu alat berat harus gali kali kecil. Kalau tidak, banjir terus. Air dari kali itu kalau meluap, banjir bisa sampai dada orang dewasa,” jelas Iwan, warga yang sering beraktivitas di kampung itu.

Di kawasan lain, Jalan Anggrek, Suardi harus berjaga siang malam menguras air yang masuk ke rumahnya.

Warga Jalan Anggrek, Suardi, berdiri depan rumahnya yang terendam banjir. Ia berupaya menguras banjir menggunakan mesin alkon. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

“Setiap dua jam kita pakai alkon kasih keluar air. Sudah dua hari begini. Drainasenya tidak lancar, jadi air balik masuk rumah,” ujarnya saat ditemui Galeripapua.com di depan rumah.

Pembangunan yang makin padat membuat air hujan tak punya ruang untuk meresap, sehingga meluap ke pemukiman.

Baca Juga :  Petugas Kebersihan di Timika Temukan Jasad Bayi di Tumpukan Sampah

Pemerintah: “Tanggung Jawab Bersama”

Kepala Distrik Wania, Merlin Temorubun, mengakui banjir merendam sejumlah titik di wilayahnya, mulai dari Nawaripi, Lorong SMA Negeri 1, hingga Kamoro Jaya.

“Air di sana sempat setinggi pinggang orang dewasa. Kami sudah laporkan ke Bupati dan OPD teknis untuk ditindaklanjuti,” katanya ketika diwawancarai di depan SMA Negeri 1 Mimika.

Kepala Distrik Wania, Merlin Temorubun. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Namun ia juga menyinggung rendahnya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.

“Tumpukan sampah di drainase membuat air tersumbat dan kembali masuk rumah warga. Jadi ini tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah,” tegasnya.

Faktor Alam dan Cuaca

Secara klimatologis, curah hujan tinggi di Mimika memang bukan hal baru. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV di Mimika, Aji Supraptaji, menjelaskan bahwa wilayah Timika tidak mengenal musim kemarau.

“Sepanjang tahun hujan, dengan rata-rata di atas 300 milimeter per bulan. Puncaknya Juli-Agustus, jadi kondisi hujan sekarang sebenarnya normal,” ujarnya saat ditemui di Kantor BMKG Mimika, Selasa (19/8/2025) siang.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV di Mimika, Aji Supraptaji. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

BMKG memperkirakan curah hujan mulai berkurang pertengahan September. Tetapi banjir berulang di Wania menunjukkan persoalan bukan semata faktor alam, melainkan juga infrastruktur dan tata ruang yang tidak memadai.

Siklus yang Tak Pernah Putus

Setiap tahun warga Wania harus kehilangan kebun, rumah terendam, dan aktivitas lumpuh. Bagi banyak keluarga, itu berarti kehilangan sumber pangan sekaligus pendapatan.

Pemerintah berjanji akan menindaklanjuti laporan, tapi di lapangan warga masih harus mengungsi ke rumah kerabat atau menguras air dengan alkon.

Tampak banjir di halaman depan salah satu rumah di Kampung Kamoro Jaya (kawasan penduduk Suku Amungme). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Tampak banjir di halaman depan salah satu rumah di Kelurahan Kamoro Jaya (kawasan penduduk Suku Amungme). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

“Kasih beras bisa habis, tapi kalau kebun mati kita mau makan apa?” keluh Mama Iriana.

Pertanyaan itu menggantung, sama seperti genangan yang menutup kampung mereka—menjadi pengingat bahwa banjir di Wania bukan sekadar bencana alam, melainkan juga bencana tata kelola.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seorang Pria Tewas Ditembak Polisi di Mimika
Pengaruh Miras Bawa Parang, Pria Tewas Dipanah di Kwamki Narama Mimika
OPM Klaim Tembak 3 Mata-mata dan 1 Polisi di Yahukimo
Seorang Polisi Gugur di Yahukimo, Diduga Diserang OTK
Api Melahap Pesawat Perintis AMA di Yahukimo, Penyelidikan Masih Berlangsung
Petugas Kebersihan di Timika Temukan Jasad Bayi di Tumpukan Sampah
Dua Kelompok Saling Serang di Timika, Seorang Warga Terluka Kena Panah
Seorang Pria di Mimika Dibacok OTK

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 00:50 WIT

Pengaruh Miras Bawa Parang, Pria Tewas Dipanah di Kwamki Narama Mimika

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:20 WIT

OPM Klaim Tembak 3 Mata-mata dan 1 Polisi di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 - 04:45 WIT

Seorang Polisi Gugur di Yahukimo, Diduga Diserang OTK

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:49 WIT

Api Melahap Pesawat Perintis AMA di Yahukimo, Penyelidikan Masih Berlangsung

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:17 WIT

Petugas Kebersihan di Timika Temukan Jasad Bayi di Tumpukan Sampah

Berita Terbaru

Jenazah korban tergeletak di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Mimika, dengan sejumlah panah menancap di sekujur tubuhnya. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video amatir)

Hukrim

Pembunuhan di Kwamki Narama, Polisi Buru Pelaku Utama

Selasa, 4 Agu 2026 - 10:00 WIT

Ketua I KNPB Pusat Warpo Wetipo (kanan) didampingi Juru Bicara KNPB Pusat Ogram Wanimbo menyampaikan pernyataan sikap dalam aksi KNPB di Jayapura, Senin, 3 Agustus 2026. KNPB menyerukan pembukaan akses bantuan kemanusiaan internasional ke wilayah konflik di Papua serta mendorong penyelesaian konflik melalui jalur internasional. GaleriPapua/ Ikbal Asra.

Organisasi

KNPB Desak ICRC Tekan Indonesia Buka Akses Kemanusiaan di Papua

Senin, 3 Agu 2026 - 22:47 WIT

Aparat kepolisian hendak mengevakuasi jenazah korban ke RSUD Mimika. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Hukrim

Kronologi Seorang Pria Tewas Ditembak Polisi di Mimika

Minggu, 2 Agu 2026 - 18:40 WIT