MIMIKA – Krisis pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, memicu antrean panjang warga di depan agen resmi.
Ratusan warga terlihat mengular sejak pagi di Jalan Yos Sudarso, Distrik Wania, Senin (6/4/2026), demi mendapatkan satu tabung gas untuk kebutuhan rumah tangga.
Kelangkaan LPG yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat masyarakat berbondong-bondong mendatangi agen, termasuk PT Mitra Indimatam Nusantara di kawasan Nawaripi. Kondisi ini menciptakan kepanikan terbatas di tengah aktivitas kota yang tetap berjalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemilik PT Mitra Indimatam, Andi Tajerimin, menjelaskan bahwa tersendatnya pasokan dari Sulawesi Selatan menjadi penyebab utama krisis tersebut.
Menurutnya, pengiriman tabung kosong ke Makassar sebenarnya telah dilakukan seperti biasa, namun distribusi kembali mengalami hambatan akibat dinamika di lapangan dan persoalan kuota wilayah.
Untuk mengantisipasi praktik spekulasi, pihak agen memberlakukan pembatasan pembelian satu tabung per rumah tangga.
“Tidak kosong, Ini hanya menunggu pasokan dari Sulsel. Masalahnya, belas kasihan masyarakat di sini antre. Saya juga tidak mau orang-orang membeli di sini lalu menjual seenaknya. Karena sudah saya perhatikan ada orang sudah beli antre lagi, di simpan di mobil, sudah penuh baru jalan,” ujar Andi saat diwawancarai wartawan, Senin.
Situasi di lapangan menunjukkan ketimpangan distribusi. Saat ini, hanya PT Mitra Indimatam yang masih memiliki stok terbatas, sementara dua agen resmi lainnya belum dapat melayani masyarakat karena masih menunggu pasokan.
Sementara itu, Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Rayon II Papua Tengah, Junaedi Kala, menegaskan bahwa kebijakan pembatasan merupakan langkah darurat untuk menjaga ketersediaan LPG.
“Ini bukan mengambil, melainkan upaya agar distribusi LPG semakin terjamin dengan rencana pasokan langsung dari SPBE di wilayah Regional Papua Maluku,” ungkapnya.
Pertamina tengah menyiapkan strategi untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah dengan mengoptimalkan distribusi melalui Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Regional Papua Maluku. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat distribusi serta menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
“Sedang kami perhitungkan dan koordinasikan. Nanti diupdate lagi untuk kapan tanggal pastinya. Yang pasti kebijakan yang diambil nantinya akan bersama Pemda demi mementingkan kepentingan masyarakat Mimika,” tambah Junaedi.
Saat ini, stok yang tersedia diperkirakan hanya mampu bertahan selama lima hingga enam hari, terdiri dari sekitar 2.000 tabung ukuran 5,5 kilogram dan 1.000 tabung ukuran 12 kilogram.
Pertamina mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Warga juga diminta mematuhi aturan pembelian satu tabung per keluarga guna memastikan distribusi yang adil di tengah keterbatasan pasokan.


























