MIMIKA – Pasokan LPG di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, masih mengalami keterbatasan seiring rencana pengalihan titik suplai yang hingga kini belum diputuskan.
Kondisi itu membuat distribusi belum sepenuhnya stabil, meski pihak Pertamina memastikan penyaluran tetap berjalan.
Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Regional Papua Tengah, Junaedi Kala, mengatakan bahwa proses pengalihan supply point masih dalam tahap pembahasan bersama pemerintah daerah, termasuk terkait penetapan Harga Jual Eceran (HJE).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pengalihan supply ini masih kami rapatkan bersama Pemda. Jadi Pertamina tidak bergerak sendiri, semua dibicarakan bersama, termasuk penyesuaian harga jika nantinya pengambilan suplai dialihkan ke Ambon,” ujarnya.
Selama belum ada keputusan resmi, suplai LPG untuk wilayah Timika masih mengandalkan pengiriman dari Makassar dan Surabaya.
“Untuk saat ini, masyarakat tidak perlu khawatir, karena pengambilan masih dari Makassar dan Surabaya. Insya Allah kondisi LPG di Timika akan membaik,” tambahnya.
Junaedi menjelaskan, untuk LPG non-subsidi, komponen ongkos distribusi telah diperhitungkan dalam harga jual eceran. Sementara LPG subsidi tetap mendapatkan intervensi pemerintah melalui harga tebus yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, keterbatasan pasokan di tingkat agen mulai dirasakan. Agen LPG Haji Andi Tajrimin, owner PT Mitra Indimata, menyebut pihaknya masih menunggu tambahan suplai dari Sulawesi Selatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Intinya kita siap melayani masyarakat, tapi sekarang kita masih menunggu suplai dari Sulawesi Selatan. Kalau suplai lancar, tidak akan terjadi kelangkaan seperti ini,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, dari sekitar 6.000 tabung yang tersedia di Makassar, baru sekitar 2.000 lebih yang terisi dan berhasil dikirim ke Timika. Kondisi ini membuat distribusi belum mampu memenuhi lonjakan permintaan.
“Kita kasihan masyarakat yang harus antre. Kami juga tidak ingin ada pihak yang mengambil keuntungan dengan menimbun lalu menjual dengan harga tinggi,” tegasnya.
Untuk mencegah penyelewengan, agen telah memberlakukan pembatasan pembelian satu tabung per orang. Namun, praktik kecurangan masih ditemukan di lapangan.
“Masih ada yang membeli berulang kali dengan menyimpan tabung di mobil. Ini yang kami harap bisa diawasi oleh pihak terkait,” katanya.
Saat ini, stok LPG 12 kilogram di tingkat agen diperkirakan segera habis. Sementara itu, tabung ukuran 5,5 kilogram dan 50 kilogram masih tersedia. Harga LPG 12 kilogram juga dipastikan tetap berada di angka Rp350.000 per tabung.
Terkait rencana pengalihan suplai ke Ambon, Haji Andi menyampaikan keberatannya karena dinilai berpotensi meningkatkan harga serta menambah risiko distribusi.
“Kalau ambil dari Ambon, kemungkinan harga akan lebih mahal. Selain itu, proses pengambilan LPG itu tidak mudah, harus melalui pengecekan ketat untuk keamanan. Di Makassar, tenaga kami sudah berpengalaman,” ungkapnya.
Ia memperkirakan, tambahan pasokan dapat tiba dalam waktu sekitar satu minggu, bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan armada pengangkut.
Baik Pertamina maupun agen berharap percepatan suplai segera terealisasi agar kelangkaan LPG di Mimika dapat teratasi dan kebutuhan masyarakat kembali terpenuhi secara normal.


























