MIMIKA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini potensi cuaca ekstrem di wilayah Papua Tengah untuk tiga hari ke depan.
Merespons ancaman tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mimika langsung bersiap memitigasi dampak buruk di lapangan.
Kepala BPBD Kabupaten Mimika, Agustina Rahaded, menyatakan pihaknya tengah menyusun surat imbauan resmi untuk disebarluaskan kepada masyarakat, khususnya di kawasan kelolaan yang masuk dalam peta rawan bencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami dari BPBD hari ini menyiapkan imbauannya untuk disampaikan ke masyarakat, terutama di enam distrik yang ada di wilayah kota hingga Mapurjaya dan Poumako,” kata Agustina saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (18/5/2026).
Agustina mengimbau warga di area perkotaan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman angin kencang, petir, dan pohon tumbang.
Saat hujan lebat disertai badai guntur terjadi, warga disarankan untuk tetap berada di dalam rumah.
Selain mengantisipasi cuaca ekstrem, ia juga mengingatkan warga kota untuk menjaga kebersihan drainase guna mencegah banjir luapan.
“Masyarakat harus sadar kebersihan lingkungan. Kalau lingkungan bersih, otomatis kita dijauhkan dari rintangan, khususnya banjir,” ujarnya.
Ancaman Longsor dan Banjir Rob
Berdasarkan peta rawan bencana milik BPBD Mimika, karakteristik ancaman di setiap wilayah memiliki tipologi yang berbeda.
Untuk wilayah pegunungan seperti Distrik Tembagapura, tanah longsor menjadi ancaman utama yang membayangi warga.
Guna memantau pergerakan tanah saat curah hujan tinggi, BPBD terus melakukan koordinasi intensif dengan aparat distrik setempat.
Kondisi berbeda dihadapi oleh warga di kawasan pesisir, seperti Distrik Mimika Barat (Kokonao), Mimika Tengah (Atuka), dan Amar.
Wilayah-wilayah pesisir ini kerap menjadi langganan banjir rob atau luapan air pasang laut akibat fenomena alam tahunan.
“Di Kokonao, Atuka, dan Amar itu sering terkena banjir rob, air pasang naik berkisar 40 hingga 45 sentimeter. Itu masuk dalam peta rawan bencana kami,” jelas Agustina.
Atas dasar itu, BPBD meminta para nelayan lokal untuk sementara waktu tidak melaut hingga kondisi gelombang dan cuaca kembali teduh.
Warga pesisir juga diminta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika air laut mulai menggenangi pemukiman.
Mulai 19 Mei 2026, Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Mimika dijadwalkan turun langsung ke lapangan untuk melakukan edukasi dan sosialisasi mitigasi secara masif.
“Kita tidak boleh lengah. Edukasi dan pencegahan harus terus disampaikan kepada masyarakat agar kita siap menghadapi banjir, longsor, kebakaran, maupun pohon tumbang,” pungkas Agustina.






















