YAHUKIMO – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XVI Yahukimo Korowai, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM), mengklaim telah melakukan aksi penembakan di kawasan Kali Biru, Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada Senin (27/4/2026).
Hal itu disampaikan oleh pimpinan TPNPB Kodap XVI Yahukimo Korowai, Mayor Mackar Sobolim, yang diteruskan oleh Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, melalui Siaran Pers III Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB.
“Pada hari Senin, 27 April 2026 kami telah melakukan penembakan terhadap dua orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang menyamar sebagai ASN hingga mengalami kritis,” Mayor Mackar Sobolim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Penembakan tersebut terjadi di Kali Biru, Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo di bawah pimpinan saya bersama Lampion Heluka dan pasukan,” imbuhnya.
Selain itu, dia juga mengklaim bahwa pasukannya telah menembaki dua unit mobil hingga mengalami kerusakan pada bagian pintu dan bodi kendaraan.
“Kami menegaskan kepada aparat militer Indonesia agar jangan menyembunyikan seluruh agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang ditembak, aksi ini benar-benar kami yang lakukan dan siap bertanggung jawab,” tandasnya.
Lebih lanjut Mayor Mackar Sobolim mengungkapkan bahwa sejak Minggu (26/4/2026), pihaknya telah mengeluarkan ultimatum kepada seluruh pengendara yang melintas di wilayah yang mereka sebut sebagai zona perang.
Mereka meminta seluruh sopir dan pengguna sepeda motor untuk menurunkan kaca mobil maupun membuka helm saat melintas, dengan alasan untuk mengidentifikasi pihak yang dicurigai sebagai aparat intelijen.
“Dan hal tersebut tidak diindahkan maka hari ini kami sudah eksekusi dua orang dan dua unit mobil,” tegasnya.
Mayor Mackar Sobolim menyatakan telah menetapkan Yahukimo sebagai wilayah perang dan meminta warga pendatang atau yang mereka sebut sebagai warga imigran Indonesia untuk segera meninggalkan daerah tersebut.
Mereka secara khusus menyebut profesi seperti ASN, tukang bangunan, tukang ojek, sopir taksi, guru, hingga tenaga kesehatan yang disebut ditempatkan oleh aparat militer Indonesia agar segera dievakuasi dari wilayah konflik.
“Warga imigran Indonesia dan aparat militer agar segera keluar dari wilayah Yahukimo karena Yahukimo kami sudah tetapkan sebagai wilayah perang sehingga kami ketemu dimanapun siap tembak,” tegasnya.
“Hal ini perlu kami sampaikan demi keamanan dan jaminan keselamatan bagi warga sipil di wilayah konflik bersenjata,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, kepolisian dari Satgas Humas Operasi Damai Cartenz menyebutkan bahwa korban yang ditembak berjumlah satu orang berinisial RK (29 tahun).
Korban merupakan warga sipil dan berprosesi sebagai tenaga profesional di lingkungan Pemerintah Daerah Yahukimo.
Korban mengalami luka serius pada bagian leher dan harus dirujuk ke rumah sakit di Jayapura untuk menjalani perawatan intensif.
Wakil Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, AKBP Andria, menjelaskan insiden penembakan terjadi sekitar siang hari ketika korban sedang dalam perjalanan di wilayah Distrik Dekai.
Tembakan yang dilepaskan pelaku mengenai leher kiri korban dan menyebabkan delapan luka tambahan yang diduga berasal dari pecahan proyektil.






















