JAYAPURA – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Sentani menyerukan masyarakat Papua dan non-Orang Asli Papua (OAP) untuk mengikuti aksi nasional pada 15 Agustus 2026. Seruan itu disampaikan KNPB Sentani pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Ketua KNPB Wilayah Sentani, Sadracks Lagowan, mengatakan aksi tersebut akan mengangkat tema “Papua, Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan”. Menurut dia, aksi merupakan kelanjutan dari demonstrasi yang digelar pada 3 Agustus 2026. “15 Agustus nanti adalah panggung politik bagi rakyat Tabi dan seluruh masyarakat Papua untuk bersuara,” kata Sadrak dalam keterangan tertulisnya kepada GaleriPapua, Selasa, 11 Agustus 2026.
KNPB Sentani mengimbau masyarakat menyiapkan berbagai perlengkapan aksi, seperti pamflet dan alat budaya tradisional. Mereka juga menyerukan konsolidasi dan mobilisasi massa menuju sejumlah titik aksi di Sentani, Kabupaten Jayapura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sadrak mengatakan panggung politik akan disediakan untuk memberi ruang bagi masyarakat menyampaikan aspirasi terkait situasi hak asasi manusia dan kemanusiaan di Papua. KNPB Sentani juga menyerukan masyarakat adat Tabi dan wilayah Mamta ikut dalam aksi tersebut. Mereka mengajak masyarakat berkumpul dan menyampaikan aspirasi secara damai.
Dalam pernyataannya, KNPB menyoroti sejumlah persoalan di Papua, termasuk kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). KNPB menyebut terdapat lebih dari 543 kasus keracunan yang berkaitan dengan program tersebut.
Klaim mengenai jumlah kasus keracunan itu disampaikan KNPB tanpa merinci sumber data yang digunakan. KNPB juga mengaitkan program MBG dengan kebijakan pemerintah yang mereka nilai memperluas peran militer dalam urusan sipil.
Selain itu, KNPB menyebut sekitar 125.931 orang masih menjadi pengungsi akibat konflik dan kekerasan di sejumlah wilayah Papua. Mereka juga menyampaikan klaim mengenai jumlah penduduk asli Papua yang disebut tersisa sekitar dua juta jiwa.
Klaim mengenai jumlah penduduk asli Papua dan pengungsi tersebut belum disertai rincian sumber data dalam pernyataan KNPB Sentani. Menurut Sadrak, aksi 15 Agustus merupakan kesempatan bagi masyarakat Papua menyampaikan tuntutan mengenai perlindungan hak asasi manusia dan penyelesaian persoalan kemanusiaan di Papua.
“Kita rakyat Papua harus bersatu tanpa membedakan suku, agama, ras demi masa depan demokrasi dan kemanusiaan di tanah kita,” ujarnya.
KNPB Sentani mengajak masyarakat mengikuti aksi secara damai. Mereka juga meminta pemerintah dan pemangku kepentingan mendengarkan aspirasi masyarakat serta mencari penyelesaian atas persoalan konflik dan kemanusiaan di Papua.
Juru Bicara KNPB Pusat, Ogram Wanimbo, mengatakan pihaknya masih melakukan konsolidasi menjelang aksi tersebut. Menurut dia, KNPB akan memfasilitasi konsolidasi rakyat selama 24 jam untuk mempersiapkan aksi.
“Tetap KNPB akan memediasi rakyat, 1×24 jam konsolidasi untuk kasih turun terus,” kata Ogram kepada awak media, 3 Agustus 2026.







