Suara Pepohonan | Kumpulan Puisi De Eka Putrakha

De Eka Putrakha

Minggu, 30 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi puisi Suara Pepohonan (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen regenerated by Gemini AI)

Ilustrasi puisi Suara Pepohonan (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen regenerated by Gemini AI)

Suara Pepohonan

Sebelum masuk ke tanah ini kau perlu bersihkan hati agar dapat mendengar pesan alam. Bukan hanya dari bisikan desir angin, atau gemericik air, atau juga para penghuni belantara. Melainkan belantara itu sendiri. Suara pepohonan, di situlah arwah bersemayam serupa para tetua memberikan petuah.

Pada setiap daunnya telah dituliskan garis hidup. memulai tunas dan kuncup hingga gugur kembali menuju tanah leluhur seiring rentangan waktu. Garis usia di mana angka dipeluk pepohonan hijau. Lantas, kau akan dapat mendengarkan detak hidup. Memulai perjalanan dari dekapan honai seiring rapal mace bersenandung menuju ruang kehangatan yang abadi.

Di dalam kehijauan itu, singkaplah dengan jemarimu yang penuh doa dan harapan. Kau akan jumpai kedamaian yang dicari. Namun, kelak jangan sesekali kau kotori tanah ini dengan jemarimu juga. Sebab telunjuk dapat mendekam bisikan, membungkam ucapan, membisukan suara, memenjarakan segala harapan.

07.2026

Disatukan Kekuatan

Dan aku tahu
ketika puisiku mulai rapuh
tetap kutulis sepenuh hati
berhati-hati
berhari-hari

Mungkin akan lama menjadi
renungku setiap kali mengkaji
di titik ini perasaanku acap diuji
berkali-kali
berlari-lari

Semakin lama semakin dekat
puisiku masih tertatih dan merintih
tunggulah sebentar saja, pintaku
ber—
serakan sudah
bait demi bait
aksaraku patah!

Namun hatimu tidak serapuh itu
waktu akan selalu menunggumu
menunggu kepingan semangat itu
biarlah patah
kan tumbuh lagi
biarlah pecah
kan disatukan lagi

Aku kembali berdiri
mengabarkan sebuah perjalanan
warna-warni kehidupan
pahit-manis perasaan
telah disatukan kekuatan
terlahir dari ketidakberdayaan

24.06.2026


Di Antara Degup Gempita

i. Aku pulang dijemput oleh kata
kerinduan yang berkali-kali aku tulis
pada bait yang kadang kala sakit
juga puisi yang tengah berpura diobati
kali ini kubawa serta semuanya
kurawat luka sepanjang perjalanan
jangan ada air mata sebelum
pertemuan kata itu akan berlangsung

ii. Nyatanya bait puisiku tergores juga
hingga pada akhirnya kulangkahkan
kaki seraya berlari menjauh
kurentangkan jarak pada liku jalan
sampai …
seseorang datang memelukku hangat
dalam riuh keramaian dihadirkannya
tenang— aku terdiam meredam
segala sangsi yang baru saja kuajak berlari
“di sini tempatmu kini, yang mengajak
pulang ke rumah”

iii. Pada pertengahan tahun ini
juni berada di antara degup gempita
luka akan segera disembuhkan
aku menertawakan rasa kecewa
dibawa waktu yang telah berlalu itu
kini kutanam perlahan-lahan
benih aksara seraya menimbunnya
bersama separuh doaku yang tersisa
“tumbuhlah …”

iv. Waktu meninggalkan kenangan
dalam rangkaian bait tak lagi sakit
kubawa keriuhan itu bersama
hatiku yang terkadang menyepi
ada yang kubawa serta dari pertemuan
yaitu; teruslah merindu, sebab padanya
ada pelukan yang selalu menenangkan
— juga memenangkan hati

30.06.2026

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

GMNI Mimika Sulap Sentra Kuliner Jadi Panggung Puisi dan Denyut Literasi
Tifa, Batu, dan Langit yang Tak Tidur | Kumpulan Puisi Rifqi Septian Dewantara
Taji yang Patah di Atas Kepala Suku | Puisi Arnold Mansawan

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 05:55 WIT

Suara Pepohonan | Kumpulan Puisi De Eka Putrakha

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:15 WIT

GMNI Mimika Sulap Sentra Kuliner Jadi Panggung Puisi dan Denyut Literasi

Minggu, 4 Januari 2026 - 18:18 WIT

Tifa, Batu, dan Langit yang Tak Tidur | Kumpulan Puisi Rifqi Septian Dewantara

Senin, 2 Juni 2025 - 07:21 WIT

Taji yang Patah di Atas Kepala Suku | Puisi Arnold Mansawan

Berita Terbaru

Ilustrasi puisi Suara Pepohonan (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen regenerated by Gemini AI)

Sastra

Suara Pepohonan | Kumpulan Puisi De Eka Putrakha

Minggu, 30 Agu 2026 - 05:55 WIT