Stunting di Mawokauw Jaya Sisa 5 Kasus, Kepala Kampung: Harus Ada Perhatian Ekstra dari Pemerintah Daerah

Sabtu, 17 September 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Kampung Mawokauw Jaya, Edison Rafra.

Kepala Kampung Mawokauw Jaya, Edison Rafra.

MIMIKA – Penanganan dan pencegahan kasus stunting pada anak masih menjadi program prioritas bagi Kampung Mawokauw Jaya, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, Papua.

Hal itu ditandai dengan pengalokasian anggaran yang dilakukan oleh Pemerintah Kampung Mawokauw Jaya demi menekan peningkatan angka kasus stunting di kampung tersebut.

Kepala Kampung Mawokauw Jaya, Edison Rafra saat ditemui di bilangan Jalan Yos Sudarso pada Sabtu (17/9/2022) mengatakan bahwa dalam tahun ini, pihaknya telah menganggarkan dana sebesar Rp 50 juta untuk penanganan stunting.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Untuk stunting, tahun ini kami anggarkan Rp 50 juta dari dana desa,” ujarnya.

Dana tersebut, kata Edi, digunakan untuk melakukan beberapa agenda seperti sosialisasi pola hidup sehat, pendampingan secara langsung, serta pemberian makanan tambahan berupa susu, biskuit, kacang hijau, dan makanan-makanan bergizi lainnya.

“Itu sudah kita lakukan selama 9 bulan berjalan dalam tahun ini. Jadi setiap bulan itu kita melakukan pendampingan melalui posyandu maupun terjun langsung ke masyarakat sehingga angka stunting yang dulunya besar, sekarang menurut data dari Puskesmas itu tersisa 5 kasus,” jelasnya.

Meski sudah berupaya secara maksimal, Edi mengakui bahwa upaya tersebut masih memiliki banyak kekurangan. Dia mengeluhkan bahwa sejauh ini Kampung Mawokauw Jaya yang merupakan wilayah lokus stunting belum mendapatkan perhatian dari Pemda Mimika.

Baca Juga :  Ribuan Peserta PBI-JK yang Dinonaktifkan Bisa Reaktivitas, Ini Syaratnya

Edi mengungkapkan, penanganan dan pencegahan stunting di Kampung Mawokauw Jaya selama ini hanya dilakukan secara mandiri tanpa sentuhan langsung dari OPD terkait.

“Kampung Mawokauw Jaya ini sudah menjadi kampung lokus stunting dari tahun 2020 sampai 2021. Namun, perhatian dari Pemda yakni Dinas Kesehatan dan dinas-dinas terkait lainnya tidak ada. Artinya kita tidak pernah mendapatkan sentuhan langsung dari Pemda untuk bagaimana caranya menangani stunting ini,” tuturnya.

“Padahal kampung ini kan wilayah lokus stunting yang mana seharusnya ada anggaran dari Pemda untuk penanganan stunting. Tapi kenapa tidak disalurkan? Kenapa hanya bergantung pada dana desa saja?” imbuhnya.

Kalau memang dari tahun ke tahun seperti itu terus, menurut Edi, angka kasus stunting bakal sulit untuk diturunkan. Sebab, masih banyak kekurangan bila hanya mengandalkan dana desa.

“Untung secara mandiri ini kita kerjakan dengan maksimal. Kalau tidak, jangan harap kasus stunting itu akan turun. Makanya jangan heran kalau kampung-kampung yang lokus stunting kemudian stuntingnya tidak turun, itu karena hanya mengandalkan dana desa saja,” tegas Edi.

Baca Juga :  Bayi yang Ditemukan di Depan Kantor Klasis Mimika Kini Masuk Panti Asuhan

“Sehingga memang harus ada perhatian yang ekstra dari Pemerintah Daerah. Dinas Kesehatan mungkin lakukan pendampingan kesehatan, atau Dinas Lingkungan Hidup lakukan sosialisasi tentang kebersihan lingkungan. Stunting ini kan disebabkan oleh banyak hal, bukan hanya dari makanan tapi juga pola hidup, kemudian lingkungan. Sejauh ini tidak ada kegiatan seperti itu dari Dinas terkait,” jelasnya melanjutkan.

Oleh karena itu, Edi berharap Pemerintah Daerah juga dapat membantu pemerintah kampung dengan terjun langsung ke lapangan untuk bersama-sama melakukan penanganan dan pencegahan stunting di kampung-kampung, khususnya Kampung Mawokauw Jaya.

“Harapan kami, kan stunting ini menjadi program nasional. Artinya menjadi perhatian khusus dari pusat, sehingga paling tidak Pemerintah Daerah ini juga harus melihat stunting ini sebagai sesuatu yang urgent untuk diselesaikan. Jangan hanya buat program kemudian tidak ada di masyarakat, tidak direalisasikan. Kalau memang suatu daerah menjadi lokus stunting, berarti di situ banyak anak-anak yang menderita stunting. Berarti perlu ada perhatian dan kerja sama antar OPD juga Pemerintah Kampung untuk menekan peningkatan kasus stunting ini,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Evaluasi Program Pusjaki dan Kaka Sehat, Dinkes Mimika Tekankan Hal Ini
Dinkes Mimika Perkuat Mutu Layanan Kesehatan Melalui Pelatihan ILP dan Orientasi Keselamatan Pasien
6 Puskesmas Pelosok Mimika Lulus Penilaian BLUD
Dinas Kesehatan Mimika Uji Kelayakan 6 Puskesmas Pesisir dan Pegunungan Jadi BLUD
Tekan Risiko Kanker Serviks, Loka POM Mimika Tuntaskan Vaksinasi HPV bagi 300 Perempuan
Dinkes Mimika Gandeng RSUD dan RSMM Jalankan Program MCU, Skema Subsidi Masih Dikaji
DPRK Soroti Kekosongan Pimpinan Puskesmas Jita, Kapus Bantah Ada Biaya Rujukan Pasien
Dua Kasus Kaki Gajah Ditemukan di Timika, Dinkes Mimika Kejar Target Bebas Filariasis 2030

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:02 WIT

Evaluasi Program Pusjaki dan Kaka Sehat, Dinkes Mimika Tekankan Hal Ini

Rabu, 19 Agustus 2026 - 19:10 WIT

Dinkes Mimika Perkuat Mutu Layanan Kesehatan Melalui Pelatihan ILP dan Orientasi Keselamatan Pasien

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 14:52 WIT

6 Puskesmas Pelosok Mimika Lulus Penilaian BLUD

Jumat, 14 Agustus 2026 - 16:08 WIT

Dinas Kesehatan Mimika Uji Kelayakan 6 Puskesmas Pesisir dan Pegunungan Jadi BLUD

Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:46 WIT

Tekan Risiko Kanker Serviks, Loka POM Mimika Tuntaskan Vaksinasi HPV bagi 300 Perempuan

Berita Terbaru

Proses evakuasi salah satu korban penyanderaan KKB di Kabupaten Mimika. (Foto: Istimewa/Satgas Humas Operasi Damai Cartenz)

Hukrim

1 Korban Sandera KKB Berhasil Dievakuasi ke Timika

Senin, 14 Sep 2026 - 15:25 WIT