Dewan Adat Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Benahi Mamberamo Raya

Ikbal Asra

Minggu, 14 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Dewan Adat Mamberamo Raya, Albert Bilasi. GaleriPapua/Ikbal Asra

Ketua Dewan Adat Mamberamo Raya, Albert Bilasi. GaleriPapua/Ikbal Asra

KASONAWEJA, GALERIPAPUA – Ketua Dewan Adat Mamberamo Raya Albert Bilasi mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi pemerintahan dan pembangunan di kabupaten yang dijuluki “Negeri Seribu Misteri Sejuta Harapan”. Menurut dia, absennya kepemimpinan yang efektif telah membuat masyarakat kehilangan arah dan berbagai persoalan dasar tak kunjung terselesaikan.

Albert mengibaratkan kondisi pemerintahan saat ini seperti kapal tanpa nahkoda. Tidak adanya pemimpin yang hadir dan memimpin daerah, kata dia, membuat masyarakat menjadi korban. “Saya sangat kecewa. Sangat disayangkan sekali ketika tidak ada nahkoda kapal yang membawa kapal ini sampai lima tahun ke depan,” kata Albert saat diwawancarai.

Menurut Albert, masyarakat adat kerap mempertanyakan kondisi pemerintahan kepada dirinya. Namun sebagai pemimpin adat, dia mengaku kesulitan menjawab karena banyak persoalan yang selama ini dikeluhkan warga belum mendapat penyelesaian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya merasa terbebani. Masyarakat datang bertanya, bupati bagaimana? Sementara kehidupan masyarakat begini-begini saja. Tidak ada kepala, tidak ada ekor. Akhirnya masyarakat seperti anak ayam yang tercerai-berai,” ujarnya.

Albert menilai kondisi tersebut diperparah oleh hubungan yang tidak harmonis antara bupati dan wakil bupati. Konflik di tingkat pimpinan daerah, menurut dia, berdampak langsung terhadap pelayanan publik dan pelaksanaan pembangunan. “Masyarakat yang menjadi korban. Kondisi sekarang jauh lebih buruk dibandingkan beberapa tahun lalu,” katanya.

Selain menyoroti kepemimpinan daerah, Albert juga mengkritik pengelolaan pembangunan yang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dia menduga terdapat praktik yang menghambat pelaksanaan proyek-proyek pembangunan sehingga manfaatnya tidak dirasakan masyarakat.

Baca Juga :  Disdukcapil Mimika Bersama KPUD dan Bawaslu Musnahkan Ribuan KTP Invalid

Albert bahkan meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun langsung melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan di Mamberamo Raya.

“Kami berharap KPK turun melihat langsung kondisi di sini supaya masyarakat tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.

Menurut Albert, masyarakat Mamberamo Raya saat ini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar yang seharusnya sudah dapat diselesaikan setelah daerah tersebut berstatus kabupaten selama bertahun-tahun.

Salah satu persoalan utama adalah infrastruktur jalan. Dia meminta pemerintah pusat melanjutkan pembangunan jalan darat menuju Kampung Eri, wilayah Mamberamo Barat hingga Barapasi yang hingga kini sulit dijangkau.

Selain itu, masyarakat juga meminta kelanjutan pembangunan ruas Trans Papua yang menghubungkan Kaso dan Kabupaten Sarmi. Jalan tersebut, kata Albert, telah direncanakan sejak masa pemerintahan Bupati John Tabo, namun hingga kini belum terselesaikan. “Kami minta jalan itu dilanjutkan karena masyarakat sangat membutuhkan akses darat untuk membuka keterisolasian kampung-kampung,” katanya.

Albert juga meminta pemerintah mengaspal jalan utama dan melibatkan kontraktor yang diawasi langsung pemerintah pusat agar pembangunan berjalan sesuai perencanaan.

Keluhan lain yang disampaikan masyarakat adalah mangkraknya pembangunan lapangan terbang yang telah lama direncanakan. Menurut Albert, masyarakat adat bahkan telah menyerahkan tanah untuk pembangunan fasilitas tersebut tanpa meminta ganti rugi.

Baca Juga :  IKBT Mimika Tebar Semangat Membangun Lewat Perayaan Syukur Natal dan Tahun Baru

“Tanah sudah kami berikan secara cuma-cuma. Pekerjaan sudah mulai, tetapi sampai sekarang tidak selesai,” ujarnya.

Di sektor pelayanan dasar, Albert menyoroti pasokan listrik yang belum stabil serta belum tersedianya akses air bersih bagi sebagian masyarakat.

Menurut dia, banyak warga masih menggali sumur sendiri dan memikul air untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut dinilai memprihatinkan mengingat Mamberamo Raya telah berdiri sebagai kabupaten selama hampir dua dekade. “Air bersih sampai sekarang belum ada. Masyarakat masih berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasar,” katanya.

Persoalan serupa juga terjadi di bidang pendidikan. Albert mengatakan banyak anak sekolah harus berjalan kaki hingga delapan kilometer setiap hari untuk mencapai sekolah.

Karena itu, masyarakat meminta pemerintah menyediakan sedikitnya dua unit kendaraan operasional untuk mengantar dan menjemput pelajar di wilayah pedalaman.

“Satu kendaraan untuk wilayah sini dan satu lagi untuk Brumeso. Anak-anak kasihan harus berjalan jauh setiap hari,” ujarnya.

Albert berharap pemerintah pusat memberikan perhatian lebih besar terhadap kondisi masyarakat Mamberamo Raya. Sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, kata dia, warga hanya ingin menikmati pembangunan dan pelayanan dasar yang layak seperti daerah-daerah lain di Indonesia.

“Kami tidak meminta yang berlebihan. Kami hanya ingin jalan, listrik, air bersih, pendidikan, dan pelayanan yang baik untuk masyarakat,” kata Albert.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Satgas ODC Identifikasi Tujuh Terduga Pelaku Pembunuhan Pilot AMA
Puluhan Personel Polri Naik Pangkat di Mimika, Ini Pesan Kapolres
Festival Cahaya Kreasi Papua Tengah Ditutup, Pemprov Dorong Pembinaan Talenta Pelajar
Dinas Sosial dan BBPPKS Jayapura Visitasi Akreditasi Yayasan Amungsa Cares Papua
Film Dokumenter Pesta Babi Resmi Dirilis di YouTube JubiTV
Final Kapolda Cup II akan Diramaikan Legenda Timnas dan Komika Yewen, Simak Jadwalnya
Kunjungi Pulau Karaka, Kapolda Papua Tengah Bawa Layanan Medis dan Motivasi Pendidikan
Gol Semata Wayang Antar SMA Negeri 3 Kokonao ke Perempat Final Kapolda Cup II

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 17:09 WIT

Satgas ODC Identifikasi Tujuh Terduga Pelaku Pembunuhan Pilot AMA

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:01 WIT

Puluhan Personel Polri Naik Pangkat di Mimika, Ini Pesan Kapolres

Sabtu, 27 Juni 2026 - 22:35 WIT

Festival Cahaya Kreasi Papua Tengah Ditutup, Pemprov Dorong Pembinaan Talenta Pelajar

Sabtu, 27 Juni 2026 - 19:47 WIT

Dinas Sosial dan BBPPKS Jayapura Visitasi Akreditasi Yayasan Amungsa Cares Papua

Minggu, 14 Juni 2026 - 00:01 WIT

Dewan Adat Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Benahi Mamberamo Raya

Berita Terbaru

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Mimika, Inosensius Yoga Pribadi (kiri), dan Vice President Government Relations PT Freeport Indonesia, Lenny Josephina (kanan), menandatangani Berita Acara Serah Terima hibah 11 kilometer pipa HDPE di area operasional dataran rendah PTFI, Mile 34, Mimika, Papua Tengah, Kamis, 9 Juli 2026. Dok. PTFI

Freeport

PTFI Serahkan Hibah 11 Km Pipa HDPE ke Pemkab Mimika

Jumat, 10 Jul 2026 - 14:39 WIT