Sambangi Tablanusu, Jose Alvan Ohei Bangun Mental dan Ekonomi Masyarakat Tanah Merah

Ikbal Asra

Senin, 24 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan pemuda dan warga masyarakat adat Tanah Merah menyimak materi penguatan kapasitas di Pantai Wisata Tablanusu, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu, 22 Agustus 2026. dok. panitia.

Puluhan pemuda dan warga masyarakat adat Tanah Merah menyimak materi penguatan kapasitas di Pantai Wisata Tablanusu, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu, 22 Agustus 2026. dok. panitia.

Galeripapua, Jayapura – Motivator pengembangan sumber daya manusia Orang Asli Papua, Jose Alvan Ohei, mengatakan kemajuan masyarakat adat Tanah Merah tidak bergantung pada bantuan alat atau infrastruktur, melainkan pada kualitas karakter manusianya.

Hal itu ia sampaikan di hadapan puluhan masyarakat adat Tanah Merah, termasuk para pemuda, yang duduk di bawah tenda dan lesehan di bawah pohon kelapa, dalam kegiatan Penguatan Kapasitas Masyarakat Adat Tanah Merah bertema Tangkap dengan Bijak, Kelola dengan Cerdas, Sejahtera Bersama: Membangun Ekonomi Masyarakat Adat Tanah Merah dari Potensi Laut, di Pantai Wisata Tablanusu, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Jose menyebut Tanah Merah sebagai wilayah yang sesungguhnya tidak kekurangan modal. Laut yang kaya, potensi wisata yang membentang dari Tablanusu hingga Ravenirara, serta akses jalan yang kini sudah memadai seharusnya menjadi bahan bakar kemajuan. “Harusnya daerah ini maju sekali. Karena potensinya, karena manusianya, karena wisatanya,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun bantuan pemerintah yang berulang kali dikucurkan, baik dari Kabupaten Jayapura maupun Provinsi Papua, kerap tidak berbuah hasil. “Bukan soal tools, alat. Ini bukan soal sumber daya. Tapi ini soal manusia,” ujar Jose.

Baca Juga :  8 Rumah di Kepulauan Yapen Papua Ludes Terbakar

Untuk itu, ia memperkenalkan konsep HMS sebagai kerangka membangun karakter masyarakat pesisir. H adalah Hospitality, keramahtamahan sebagai modal utama daerah wisata. Jose mengingatkan bahwa tempat yang indah tidak ada artinya jika tamu datang dan tidak merasa nyaman. “Kadang orang Papua tempatnya bagus, tapi orang datang kurang nyaman karena orang mabuk, atau sikapnya kasar,” katanya.

Huruf kedua, H, adalah Hustle yang artinya semangat pantang mundur. Jose mengingatkan bahwa nenek moyang masyarakat Tanah Merah adalah pelaut tangguh yang sanggup berlayar hingga Gunung Cycloop tampak sekecil buah kelapa. “Ini petarung lautan yang luar biasa. Masa ada masalah sedikit langsung mundur?” ujarnya.

Dari tiga pilar HMS, Jose menyebut M atau Manajemen sebagai yang paling mendesak diperkuat. Ia melihat masyarakat pesisir Papua kerap memiliki sumber daya berlimpah namun habis tanpa jejak. “Kalau kita orang pantai ini, ada banyak-banyak sampai. Tapi kalau tidak ada, kosong, satu rupiah pun tidak ada,” katanya.

Manajemen yang ia maksud bukan sekadar menabung, melainkan menginvestasikan sumber daya, termasuk mengolah ikan menjadi produk turunan agar nilai jualnya lebih tinggi, serta menyimpan hasil tangkapan di musim melimpah untuk menghadapi musim paceklik.

Baca Juga :  KPK Sita Uang Rp50,7 Miliar dan Sejumlah Barang dalam Kasus Lukas Enembe

Pilar terakhir, S atau Strength, menyangkut ketangguhan mental. Bukan kekuatan fisik, melainkan kemampuan bertahan menghadapi kegagalan dan tekanan. “Tahan waktu bikin usaha gagal, bangkit kembali. Orang mau bicara kita, orang mau apapun, kita tetap fokus,” kata Jose.

Kegiatan itu mendapat dukungan penuh dari Ketua Dewan Adat Suku Tepra, Edward Danya. Ia mengakui wilayah Tanah Merah tengah menghadapi ancaman serius dari dalam. “Miras, narkoba, ini sudah merusak di wilayah kami,” katanya.

Edward menilai kegiatan ini adalah jawaban yang selama ini dibutuhkan generasi muda Tanah Merah. Namun ia menyayangkan sedikitnya pemuda yang hadir karena informasi kegiatan baru tersebar mendekati hari pelaksanaan. “Kalau betul-betul datang banyak, pasti banyak yang tergerak,” ujarnya.

Ia meminta kegiatan serupa digelar kembali dengan jangkauan lebih luas, tidak hanya di Tablanusu tetapi juga di kampung-kampung lain di wilayah Tanah Merah. “Bagaimana kejadian ini boleh hadir kembali di wilayah kita. Mau di Tablanusu atau di kampung lain, harus dihadirkan kembali,” kata Edward.

Jose berharap ada pertemuan lanjutan yang lebih spesifik menyasar pemuda dan karang taruna Tanah Merah. “Tuhan sudah terlalu baik untuk mereka,” ujarnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Staf Ahli Menteri UMKM: Festival Bukan Ujung Pengembangan UMKM
Pemuda Lintas Paguyuban Papua Sosialisasikan Forum Komunikasi
Pesawat Aman Air Bawa BBM Tergelincir di Bandara Mulia Puncak Jaya
Tiga Hari Galang Dana, Mahasiswa Papua Kirim Donasi untuk NTT
Sekolah di Mimika Disiapkan Menuju Adiwiyata Nasional, DLH Perkuat Pendampingan
Hari Juang Polri, Polres Mimika Gelar Lomba “Jadi Kapolres Sehari” untuk Anak-Anak
75 Pasangan OAP di Mimika Timur Jauh Ikuti Nikah Massal
103 Pasangan di Mimika Ikuti Isbat dan Nikah Massal Menyambut HUT RI

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:19 WIT

Staf Ahli Menteri UMKM: Festival Bukan Ujung Pengembangan UMKM

Minggu, 20 September 2026 - 04:47 WIT

Pemuda Lintas Paguyuban Papua Sosialisasikan Forum Komunikasi

Selasa, 15 September 2026 - 19:35 WIT

Pesawat Aman Air Bawa BBM Tergelincir di Bandara Mulia Puncak Jaya

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:17 WIT

Tiga Hari Galang Dana, Mahasiswa Papua Kirim Donasi untuk NTT

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:29 WIT

Sambangi Tablanusu, Jose Alvan Ohei Bangun Mental dan Ekonomi Masyarakat Tanah Merah

Berita Terbaru

Warga dan peserta mengikuti diskusi peluncuran laporan Pusaka Bentala Rakyat di Dusun Sagu Ebha Hekhe, Kampung Sereh, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu, 7 Oktober 2026. Dusun sagu itu menjadi lokasi peluncuran laporan tentang izin kehutanan di tanah adat Papua. Galeripapua/Ikbal Asra

Organisasi

Belasan Izin Hutan Menyasar Tanah Adat Papua

Senin, 12 Okt 2026 - 06:00 WIT

Agustinus Kadepa, petani kopi dari Kampung Tuguwai, Distrik Aweidah, Kabupaten Paniai, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Utama

Ko Puaz: Kopi, Kebun, dan Mimpi yang Tumbuh di Paniai

Minggu, 11 Okt 2026 - 19:09 WIT

Didi Kurniawan, M.Kes., resmi terpilih sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Tomia Kabupaten Mimika periode 2026–2031. (Foto: KKT Mimika)

Organisasi

Didi Kurniawan Terpilih Pimpin KKT Mimika 2026–2031

Sabtu, 10 Okt 2026 - 13:57 WIT