Galeripapua, Jayapura – Motivator pengembangan sumber daya manusia Orang Asli Papua, Jose Alvan Ohei, mengatakan kemajuan masyarakat adat Tanah Merah tidak bergantung pada bantuan alat atau infrastruktur, melainkan pada kualitas karakter manusianya.
Hal itu ia sampaikan di hadapan puluhan masyarakat adat Tanah Merah, termasuk para pemuda, yang duduk di bawah tenda dan lesehan di bawah pohon kelapa, dalam kegiatan Penguatan Kapasitas Masyarakat Adat Tanah Merah bertema Tangkap dengan Bijak, Kelola dengan Cerdas, Sejahtera Bersama: Membangun Ekonomi Masyarakat Adat Tanah Merah dari Potensi Laut, di Pantai Wisata Tablanusu, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Jose menyebut Tanah Merah sebagai wilayah yang sesungguhnya tidak kekurangan modal. Laut yang kaya, potensi wisata yang membentang dari Tablanusu hingga Ravenirara, serta akses jalan yang kini sudah memadai seharusnya menjadi bahan bakar kemajuan. “Harusnya daerah ini maju sekali. Karena potensinya, karena manusianya, karena wisatanya,” katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun bantuan pemerintah yang berulang kali dikucurkan, baik dari Kabupaten Jayapura maupun Provinsi Papua, kerap tidak berbuah hasil. “Bukan soal tools, alat. Ini bukan soal sumber daya. Tapi ini soal manusia,” ujar Jose.
Untuk itu, ia memperkenalkan konsep HMS sebagai kerangka membangun karakter masyarakat pesisir. H adalah Hospitality, keramahtamahan sebagai modal utama daerah wisata. Jose mengingatkan bahwa tempat yang indah tidak ada artinya jika tamu datang dan tidak merasa nyaman. “Kadang orang Papua tempatnya bagus, tapi orang datang kurang nyaman karena orang mabuk, atau sikapnya kasar,” katanya.
Huruf kedua, H, adalah Hustle yang artinya semangat pantang mundur. Jose mengingatkan bahwa nenek moyang masyarakat Tanah Merah adalah pelaut tangguh yang sanggup berlayar hingga Gunung Cycloop tampak sekecil buah kelapa. “Ini petarung lautan yang luar biasa. Masa ada masalah sedikit langsung mundur?” ujarnya.
Dari tiga pilar HMS, Jose menyebut M atau Manajemen sebagai yang paling mendesak diperkuat. Ia melihat masyarakat pesisir Papua kerap memiliki sumber daya berlimpah namun habis tanpa jejak. “Kalau kita orang pantai ini, ada banyak-banyak sampai. Tapi kalau tidak ada, kosong, satu rupiah pun tidak ada,” katanya.
Manajemen yang ia maksud bukan sekadar menabung, melainkan menginvestasikan sumber daya, termasuk mengolah ikan menjadi produk turunan agar nilai jualnya lebih tinggi, serta menyimpan hasil tangkapan di musim melimpah untuk menghadapi musim paceklik.
Pilar terakhir, S atau Strength, menyangkut ketangguhan mental. Bukan kekuatan fisik, melainkan kemampuan bertahan menghadapi kegagalan dan tekanan. “Tahan waktu bikin usaha gagal, bangkit kembali. Orang mau bicara kita, orang mau apapun, kita tetap fokus,” kata Jose.
Kegiatan itu mendapat dukungan penuh dari Ketua Dewan Adat Suku Tepra, Edward Danya. Ia mengakui wilayah Tanah Merah tengah menghadapi ancaman serius dari dalam. “Miras, narkoba, ini sudah merusak di wilayah kami,” katanya.
Edward menilai kegiatan ini adalah jawaban yang selama ini dibutuhkan generasi muda Tanah Merah. Namun ia menyayangkan sedikitnya pemuda yang hadir karena informasi kegiatan baru tersebar mendekati hari pelaksanaan. “Kalau betul-betul datang banyak, pasti banyak yang tergerak,” ujarnya.
Ia meminta kegiatan serupa digelar kembali dengan jangkauan lebih luas, tidak hanya di Tablanusu tetapi juga di kampung-kampung lain di wilayah Tanah Merah. “Bagaimana kejadian ini boleh hadir kembali di wilayah kita. Mau di Tablanusu atau di kampung lain, harus dihadirkan kembali,” kata Edward.
Jose berharap ada pertemuan lanjutan yang lebih spesifik menyasar pemuda dan karang taruna Tanah Merah. “Tuhan sudah terlalu baik untuk mereka,” ujarnya.









