MIMIKA – Seluruh kegiatan pendakian ke Puncak Carstensz di sepanjang tahun 2025 telah resmi ditutup pada Senin, 17 November 2025 setelah sebelumnya dibuka pada Februari 2025 lalu.
PT Tropis Cartensz Jaya yang merupakan operator lokal di Kabupaten Mimika, Papua Tengah berhasil menuntaskan ekspedisi pendakian di tahun 2025 dengan lancar.
Suksesnya aktivitas pendakian ini tidak terlepas dari kolaborasi epik dari berbagai pihak, mulai dari aparat keamanan yang bertugas, operator penerbangan, hingga kerja keras sumber daya manusia (SDM) lokal yang merupakan anak-anak Orang Asli Papua (OAP) khususnya beberapa anak-anak Amungme yang terlibat, serta seluruh pihak lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berkenaan dengan ini, Pendiri sekaligus pemilik PT Tropis Cartensz Jaya, Irfan Irianto menyampaikan terima kasih serta apresiasi terhadap para pihak yang telah bekerja sama dalam mendukung kegiatan tersebut.
Irfan mengatakan, selaku operator pendakian lokal yang ada di Mimika, ia tentu tidak menutup mata dalam melihat potensi besar yang dimiliki oleh anak-anak asli Mimika dalam mengelola sumber daya alam yang ada.
Inilah yang mendorong dirinya melibatkan puluhan anak-anak OAP khususnya warga masyarakat yang mendiami dataran tinggi Mimika dalam ekspedisi tersebut.
Misinya tak lain adalah memberikan kesempatan bagi anak-anak asli daerah untuk menjadi pelaku di atas tanahnya sendiri.
Sejauh ini, telah ada 20 orang SDM lokal yang dibina untuk mengelola pendakian tersebut, mulai dari menjadi guide, manajemen basecamp, dan lain-lain selama pendakian tersebut berlangsung.
“Sebenarnya mereka (anak-anak OAP) itu bisa, jadi saya bikin pepatanh itu; jangan jadi penonton di rumah sendiri, itu yang saya tanamkan di teman-teman. Jangan minder dengan orang yang datang dari luar, kita juga bisa,” kata Irfan, saat ditemui pada Senin (17/112025) malam.
Kata Irfan, mereka telah banyak mendapatkan ilmu selama kegiatan pendakian yang berlangsung. Menurutnya, ke depan, beberapa dari mereka sudah bisa diberikan tanggung jawab. Adapun yang masih akan diberi pendampingan.
“Mungkin Februari Maret 2025 lalu hanya ada beberapa, tapi sekarang kita sudah mulai pelan-pelan ada beberapa teman yang sudah menguasai basecamp dan mungkin ke depan kami sudah bisa kasih dia tanggung jawab,” ucap Irfan.
“Tahun ini di bulan Oktober sudah ada dua orang yang summit bawa nama bendera (salah oepartor pendakian milik beberapa anak Amungme yang berkolaborasi dengan PT Tropis Cartensz Jaya) sendiri. Jadi nanti ke depan Tropic dengan Nemangkawi kolaborasi sama-sama untuk tetap kita jalan sebagaimana mestinya,” tambahnya.
Irfan berencana, untuk meningkatkan kualitas SDM lokal dalam hal komunikasi, beberapa di antaranya akan diberangkatkan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris.
Cerita Guide Lokal yang Berhasil Taklukkan Puncak Carstensz
Kata kebanyakan orang, usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Namun, jika tidak disertai kerja keras dan niat yang tulus dengan keteguhan untuk terus belajar maka tentunya semua usaha akan sia-sia.
Hal itu berhasil ditunjukkan oleh Norbertus Beanal alias Betho dan Simon Beanal. Dua pemuda asal suku Amungme ini berhasil menunjukkan bahwa SDM lokal bisa diandalkan.
Keteguhan yang dimiliki oleh keduanya mampu membawa mereka meraih puncak setelah mengantar lima orang pendaki mancanegara untuk summit di gunung tertinggi Indonesia pada ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu.
Puncak Carstensz atau yang juga dikenal dengan Piramida Carstensz ini merupakan satu dari seven summit dunia.
Keindahan Puncak Carstensz sesungguhnya tidak dapat ditaklukkan dengan mudah karena memiliki tingkat kesulitan yang cukup kompleks. Mulai dari cuaca, ketinggian ekstrim, hingga jalur terjal dan berbatu.
Saat ditemui, Selasa (18/11/2025), Betho dan Simon pun menceritakan pengalaman mereka saat mengantar pendaki mancanegara menyelesaikan misi pendakian ke Puncak Carstensz.
Menurut Betho Beanal, mendaki gunung Carstensz butuh kemampuan, ketahanan fisik, dan mental yang tangguh untuk sampai ke puncaknya.
Betho mengaku bahwa ia memiliki latar belakang sebagai seseorang yang sudah melalang buana berkegiatan di alam terbuka.
Semasa kuliah, Betho aktif di organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Universitas Sam Ratulangi Manado.
Asam garam berkegiatan di alam terbuka telah ia cicipi. Bahkan, memasuki akhir kuliahnya, judul skripsi yang Betho buat berkaitan dengan pengembangan potensi wisata.
Kata Betho, ini dilakukan mengingat di tanah kelahirannya terdapat Puncak Carstensz yang saat ini berdiri megah mencakar langit di gugusan pegunungan Puncak Jaya.
Singkatnya, setelah menempuh pendidikan, Betho pulang ke Timika. Ia lalu bertemu dengan Irfan Irianto selaku pemilik jasa operator pendakian lokal di Timika, yakni PT. Tropis Cartensz Jaya.
Ia pun diajak bergabung bersama beberapa orang lainnya untuk terlibat dalam kegiatan pendakian di Puncak Carstensz.
Tawaran itu pun diterima, Betho bersama-sama beberapa orang lainnya kemudian berkesempatan untuk belajar mengenai manajemen pendakian.
“Kebetulan saya bertemu Bang Irfan, karena kebetulan beliau melihat kami anak-anak lokal juga (punya potensi) dan beliau juga punya bendera (perusahaan operator pendakian) lokal juga akhirnya kami bergabung,” kata Betho.
“Kami sekitar 20 orang, beliau (Irfan) sempat support kita untuk gabung. Jadi kemarin tanggal 15 November saya dengan Simon Beanal berhasil summit di ketinggian 4.884 MDPL,” lanjutnya.
Betho mengatakan, mendaki ke Puncak Carstensz membutuhkan kemampuan dalam memanjat dan mengelola tali-temali. Selain itu, kesehatan dan motivasi yang tinggi juga diperlukan.
Ia juga mengakui keberhasilan untuk sampai di puncak tertinggi itu tentu tidak terlepas dari kerja sama tim dan para pihak yang telah mendukung.
Selanjutnya, Simon Beanal yang juga merupakan Guide lokal di bawah bendera Treking Beanal Nemangkawi Ningok juga mengakui jika tidak mudah untuk menaklukkan Puncak Carstensz.
“Kemarin waktu summit itu memang susah sekali tapi puji tuhan kami bisa sampai di puncak,” tuturnya.
Lahirnya Perusahaan Penyedia Jasa Operator Pendakian Milik SDM Lokal
Keterlibatan Betho dan belasan orang lainnya dalam pendakian ke Puncak Carstensz ternyata membawa secercah cahaya.
Dengan menimba ilmu di PT Tropis Cartensz, lahirlah sebuah perusahaan penyedia jasa operator pendakian untuk mengelola pendakian ke Puncak Carstensz. Perusahaan itu diberi nama Treking Beanal Nemangkawi Ningok.
Operator ini berkolaborasi bersama PT Tropis Cartensz Jaya dalam mengelola kegiatan pendakian ke Puncak Carstensz.

Apresiasi Terhadap PT Tropis Cartensz Jaya
Billy Beanal yang bertugas membantu mengurus semua urusan transportasi bagi para pendaki dari Timika ke Basecamp Yellow Valey menyampaikan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada PT Tropis Cartensz Jaya yang telah memberdayakan SDM lokal.
Menurut Billy, PT Tropis Cartensz telah mewujudkan harapan dengan mendorong SDM lokal untuk mengambil peran dalam aktivitas pendakian. Hal ini pun membuat mereka tidak menjadi penonton di atas tanahnya sendiri.
Bahkan, dibentuknya Treking Beanal Nemangkawi Ningok tidak terlepas dari dorongan perusahaan operator pendakian milik Irfan tersebut.
“Jadi selama beberapa waktu ini saya ikuti, memang ada semangat yang tumbuh dari teman-teman (SDM lokal). Terbukti dari kerja keras, komunikasi dan sebagainya yang selalu berjalan dengan lancar,” tutur Billy.
Billy pun berharap agar kolaborasi antara Treking Beanal Nemangkawi Ningok dan PT Tropis Cartensz Jaya dapat terus berjalan dan tetap menyuguhan yang terbaik.
“Karena dua-duanya anak-anak lokal, saya tidak bilang PT. Tropis dari mana dan bendera lokal yang sekarang dibangun ini dari mana. Tapi bagaimana dua bendera ini ke depan tetap saling membangun dan tetap jalan,” ujar Billy.
Jalur Selatan Kampung Tsinga Menuju Piramida Carstensz
Ke depan, akan ada salah satu jalur pendakian baru yang nantinya akan dibuka menuju ke Puncak Carstensz.
Kata Irfan, jalur tersebut akan ditempuh dari bagian selatan Kampung Tsinga di Distrik Tembagapura, Mimika, Papua Tengah.
Jalur ini rencananya akan dibuka sebagai jalur trekking untuk membantu para pendaki beraklimatisasi. Sebab, mengingat jalur yang ada saat ini hanya melalui akses udara dengan ditempuh menggunakan helikopter dari Timika dan langsung turun ke Basecamp Yellow Valley.
Elevasi di atas ketinggian 4.884 MDPL itu memaksa tubuh manusia untuk beradaptasi lebih cepat dengan waktu yang sangat singkat.
Menurut Irfan, di akhir ekspedisi 2025, rencana dibukanya jalur sisi selatan Tsinga ini telah diawali dengan membuang tali sebagai penanda.
Ini dinilai sebagai langkah yang tepat untuk jangka panjang apabila jalur pendakian tersebut benar-benar dapat dibuka.
Tentunya dengan mengedepankan kepentingan masyarakat adat setempat serta memberi kesempatan bagi warga yang mendiami wilayah itu untuk mendorong perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Saat ini kita sudah buang tali yang untuk lewat jalur Tsinga,” tutur Irfan.
Sementara itu, Betho dan kawan-kawan pun berkomitmen agar jalur ini tetap bisa dibuka. Ia pun berharap dukungan dari para pihak dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat.
“Kemarin tanggal 15 itu kita sudah lepas tali,” kata Betho.
Simon juga mengungkapkan bahwa mereka melakukan upaya ini sebagai cikal bakal dibukanya jalur trekking melalui sisi selatan Kampung Tsinga.
“Jadi kita sudah kasih turun tali nanti tahun berikut baru kita naik buka jalur,” tutur Simon.
Billy Beanal juga menyebutkan bahwa masyarakat setempat harus diberi kesempatan untuk membuka jalur dan mengelola wisata pendakian tersebut.
Nantinya, setelah jalur berhasil dibuka, siapapun penyedia jasa operator pendakian diperbolehkan masuk dengan kendali penuh dipegang oleh masyarakat setempat.
“Jadi coba kita percayakan anak-anak lokal ini untuk mengenal alam yang ada di situ dulu, mereka amankan dan buka jalur dulu baru setelah itu mau dari operator mana yang penting benderanya itu tentang pendakian bisa masuk,” tutupnya.










