NABIRE — Momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia yang jatuh pada 9 Agustus dimanfaatkan Executive Committee (Exco) Partai Buruh Papua Tengah untuk mengajak publik meningkatkan kesadaran akan hak dan budaya masyarakat adat.
Acara peringatan digelar di Sekretariat Partai Buruh Papua Tengah, berlokasi di kompleks Kodim 753 Nabire.
Menase Ugedi Degei, S.Sos, Ketua II Exco Papua Tengah, menegaskan bahwa hari ini penting untuk mengangkat persoalan yang dihadapi komunitas adat di wilayah Meepago dan Papua Tengah pada umumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hari Masyarakat Adat Internasional adalah pengingat bahwa hak, budaya, dan kebutuhan masyarakat adat harus dijaga. Ini berbeda dengan Hari Buruh Internasional yang fokus pada perjuangan kaum pekerja,” kata Degei, Sabtu (9/8/2025).
Ia menjelaskan, Hari Buruh Internasional atau May Day memperjuangkan isu-isu buruh, seperti jam kerja dan kondisi kerja yang layak.
Sementara Hari Masyarakat Adat Internasional merayakan keberadaan dan pengetahuan masyarakat adat, sekaligus mendorong perlindungan terhadap hak-hak mereka.
Menurut Degei, lembaga kemasyarakatan adat memegang peran strategis dalam membangun partisipasi publik, meningkatkan kualitas hidup, dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat adat.
“Kita bicara soal jati diri, warisan budaya, dan kedaulatan yang melekat pada tanah dan alam,” ujarnya.
Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia sendiri diperingati setiap 9 Agustus sejak ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1994.
Tahun ini, peringatan di Papua Tengah menjadi ajang penguatan solidaritas antara organisasi politik, pemerhati adat, dan komunitas lokal.
“Selamat Hari Masyarakat Adat Sedunia 2025,” ucap Degei, menutup sambutannya.








