Film Dokumenter Pesta Babi Resmi Dirilis di YouTube JubiTV

Ikbal Asra

Sabtu, 23 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PSN - Ratusan alat berat ekskavator berjejer di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, Senin, 8 Desember 2025. Alat berat ini untuk mendukung proyek strategis nasional lumbung pangan dan energi yang menjadi sorotan dalam film dokumenter Pesta Babi. Galeripapua/ Pusaka Bentala Rakyat.

PSN - Ratusan alat berat ekskavator berjejer di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, Senin, 8 Desember 2025. Alat berat ini untuk mendukung proyek strategis nasional lumbung pangan dan energi yang menjadi sorotan dalam film dokumenter Pesta Babi. Galeripapua/ Pusaka Bentala Rakyat.

Galeripapua, Jayapura – Aula Gereja Katolik Kristus Terang Dunia, Jayapura, menjadi lokasi peluncuran resmi film dokumenter Pesta Babi-Kolonialisme di Zaman Kita di kanal YouTube JubiTV, Jumat, 22 Mei 2026. Peluncuran ini menandai berlanjutnya gelombang nonton bareng (nobar) dan diskusi publik yang sebelumnya digelar di lebih dari 1.800 titik di Indonesia dan luar negeri.

Peluncuran film dilakukan secara simbolis oleh Vincen Kwipalo, tokoh Masyarakat Adat Yei sekaligus narasumber dalam dokumenter tersebut. Film garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale itu diproduksi melalui kolaborasi Ekspedisi Indonesia Baru, Watchdoc, Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke.

Para kolaborator menyatakan publikasi film melalui YouTube diharapkan dapat memperluas akses publik terhadap isu-isu yang dihadapi Masyarakat Adat Papua, sekaligus menjaga ruang diskusi dan solidaritas tetap hidup di tengah berbagai upaya pembubaran dan intimidasi terhadap kegiatan nobar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Apresiasi sebesar-besarnya untuk masyarakat, komunitas, mahasiswa, dan berbagai kolektif yang tetap berkumpul untuk nobar dan mendiskusikan situasi di Papua secara kritis. Di tengah menyempitnya ruang demokrasi dan cepatnya arus informasi, masih ada keberanian untuk tetap duduk bersama, berdiskusi, dan merawat solidaritas di ruang-ruang yang tidak selalu aman,” kata Susi Haryanti, Direktur Ekspedisi Indonesia Baru.

Baca Juga :  Divonis Bebas, Johannes Rettob Terharu Disambut Warga Timika

Tokoh Masyarakat Adat Yei, Vincen Kwipalo, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang terus mengalir dari penonton film Pesta Babi, termasuk para penyelenggara nonton bareng yang tetap menggelar pemutaran meski menghadapi intimidasi dan pembubaran. Menurut Vincen, solidaritas yang muncul dari berbagai daerah menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap situasi yang dialami Masyarakat Adat di Papua.

“Saya sudah berkomitmen untuk terus berjuang sampai kapan pun. Saya melihat sendiri di Jayapura, di Jakarta, dan di berbagai tempat lain, teman-teman yang nobarnya dibubarkan tetap bertahan. Itu seolah-olah mereka ikut berdiri bersama kami di atas Tanah Papua,” ujar Vincen.

Film Pesta Babi merekam situasi di Papua selatan, termasuk perampasan tanah, eksploitasi sumber daya alam, dan pengerahan aparat keamanan dalam proyek lumbung pangan dan energi nasional. Dalam dokumenter itu disebutkan sekitar 2,5 juta hektare tanah dan hutan adat milik berbagai suku di selatan Papua dibuka untuk proyek strategis nasional, termasuk pengembangan bioetanol dan biodiesel sawit.

Baca Juga :  TIFA Kembali Masuk KEN 2026, Siap Melompat ke Panggung Internasional Juli Mendatang

Film tersebut juga menyoroti perjuangan Masyarakat Adat Malind, Yei, Awyu, dan Muyu dalam mempertahankan tanah adat melalui jalur hukum, aksi solidaritas, hingga perlawanan langsung di lapangan, seperti pemasangan palang adat dan penyelenggaraan pesta babi.

Cypri Jehan Paju Dale mengatakan film dokumenter itu diharapkan menjadi rujukan untuk diskusi yang lebih mendalam mengenai situasi Papua. Menurut dia, film tersebut merekam kondisi genting yang sedang berlangsung dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Pesta Babi bukan hanya cerita untuk diketahui, tetapi juga meminta tanggapan dan jawaban,” kata Cypri.

Tim kolaborasi Pesta Babi mencatat adanya penghalangan nobar di sedikitnya 52 titik di berbagai daerah di Indonesia. Bentuk penghalangan disebut meliputi intimidasi, persekusi, hingga pembubaran kegiatan. Sejumlah penyelenggara terpaksa membatalkan acara, sementara sebagian lainnya memindahkan lokasi atau menggelar nobar secara tertutup.

Selain penghalangan nobar, tim kolaborator juga menemukan maraknya pembajakan film di YouTube. Sedikitnya 150 akun disebut mengunggah versi penuh film tanpa izin. Pelanggaran hak cipta tersebut telah dilaporkan kepada YouTube dan sejumlah tautan telah dihapus secara bertahap

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Juang Polri, Polres Mimika Gelar Lomba “Jadi Kapolres Sehari” untuk Anak-Anak
Raih Penghargaan Pelayanan Terbaik, Polres Mimika Diusulkan Naik Tipe Jadi Polresta
Hari Masyarakat Adat Sedunia: LEPEMAWIL Soroti Hilangnya Tanah dan Melemahnya Lembaga Adat
Blapos TIFA Management: Dari Freestyle Jalanan Menuju Panggung Besar
75 Pasangan OAP di Mimika Timur Jauh Ikuti Nikah Massal
103 Pasangan di Mimika Ikuti Isbat dan Nikah Massal Menyambut HUT RI
Bangkitkan Mental Pemuda Papua, Jose Alvan Ohei Kenalkan ONOMI
Penguatan Peran Kla dan Marga Dinilai Jadi Kunci Percepatan Pembangunan Ekonomi Papua

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 16:12 WIT

Hari Juang Polri, Polres Mimika Gelar Lomba “Jadi Kapolres Sehari” untuk Anak-Anak

Rabu, 12 Agustus 2026 - 17:25 WIT

Raih Penghargaan Pelayanan Terbaik, Polres Mimika Diusulkan Naik Tipe Jadi Polresta

Minggu, 9 Agustus 2026 - 11:18 WIT

Hari Masyarakat Adat Sedunia: LEPEMAWIL Soroti Hilangnya Tanah dan Melemahnya Lembaga Adat

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:48 WIT

Blapos TIFA Management: Dari Freestyle Jalanan Menuju Panggung Besar

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:35 WIT

75 Pasangan OAP di Mimika Timur Jauh Ikuti Nikah Massal

Berita Terbaru