Jubir OPM Buka Suara soal Penembakan 3 Pegawai di Jayawijaya

Endy Langobelen

Sabtu, 12 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Juru Bicara Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom. (Foto: TPNPB-OPM)

Juru Bicara Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom. (Foto: TPNPB-OPM)

JAYAWIJAYA – Juru Bicara Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, menyatakan penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Distrik Muliama, Papua Pegunungan, merupakan tindakan yang dilakukan pasukan TPNPB dari Komando Daerah Pertahanan (Kodap) III Ndugama.

Pernyataan itu disampaikan Sebby melalui video berdurasi 13 menit 34 detik pada Kamis (10/9/2026), sehari setelah tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya tewas ditembak di Kampung Muliama.

Sebby mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya dari pasukan TPNPB Kodap III Ndugama, tiga korban tersebut ditembak setelah melarikan diri ketika rombongan mereka diperiksa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini karena kemarin tiga orang ditembak mati. Laporan TPNPB dari Kodap III Ndugama sangat jelas, mereka sampaikan bahwa tiga orang itu mereka melarikan diri, jadi kita tembak. Yang lain tidak ditembak karena mereka bersedia diperiksa,” kata Sebby.

Ia menyebut keberadaan pasukan TPNPB Kodap III Ndugama kini telah meluas hingga ke wilayah Lembah Baliem.

Sebby bahkan menyatakan Wamena mulai dianggap sebagai wilayah perang karena terdapat pasukan TPNPB yang beroperasi di kawasan tersebut.

“Oleh karena itu apa pun alasannya, suka tidak suka, ya kami ikuti sesuaikan keadaan situasi ini,” ujarnya.

Menurut Sebby, TPNPB telah berulang kali menyampaikan peringatan agar warga pendatang tidak memasuki wilayah yang mereka klaim sebagai wilayah konflik bersenjata.

Peringatan tersebut, kata dia, tidak hanya ditujukan bagi orang yang datang untuk bekerja, tetapi juga mereka yang menjalankan pelayanan sosial.

“Dengan demikian kami tegaskan sekali lagi bahwa wilayah perang ini orang imigran Indonesia tidak diizinkan masuk beroperasi. Entah Anda mengklaim itu pelayanan gereja kah, pelayanan kesehatan kah, pendidikan kah, pertanian kah, segala macam, dilarang masuk,” kata Sebby.

Lebih lanjut Sebby juga mengklaim tiga pegawai Dinas Pertanian yang tewas dalam penembakan tersebut merupakan bagian dari apa yang ia sebut sebagai Indonesian Security Force.

“Jadi tiga orang yang kemarin ditembak itu bagian dari Indonesian Security Force. Mereka datang untuk mengambil alih, menduduki wilayah kami, merampas hak-hak kekayaan alam kami sampai membunuh orang yang punya hak adalah orang asli Papua,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan warga pendatang di Papua tidak dapat dipisahkan dari kepentingan pemerintah Indonesia. Sebby karena itu meminta orang asli Papua mengambil alih pekerjaan yang selama ini dilakukan tenaga kerja dari luar Papua.

Baca Juga :  Pelantikan Pengurus BPD KAPP Baru Dinilai Cacat Formil, Emus Kogoya Tuntut Hal Ini

Menurutnya, orang asli Papua yang telah memperoleh pendidikan dan memiliki keterampilan harus diberikan kesempatan untuk bekerja di daerahnya sendiri.

“Orang Papua itu kan sudah sekolah. Sekolah itu sama dengan orang Indonesia. Dibina mereka memiliki kredibilitas, kemampuan mereka, inteligensi mereka, pengetahuan mereka sesuai dengan masing-masing fungsi keterampilan yang mereka belajar,” katanya.

“Mereka harus memiliki persiapan, mereka yang harus kerja, orang asli Papua yang harus kerja. Bukan imigran yang didatangkan dari Jawa sana, Toraja sana, Sulawesi sana, Sumatera sana,” lanjutnya.

Dalam video tersebut, Sebby juga menyinggung adanya laporan dari pasukannya mengenai seorang perempuan, salah satu korban, yang disebutnya telah dicurigai sebelum peristiwa penembakan.

Ia mengklaim perempuan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas intelijen yang dikirim dari Jakarta.

“Dan kami juga sudah terima laporan sebelumnya, pasukan bilang lapor ke kami bahwa ada perempuan ini dicurigai. Perempuan yang ada wartawan mungkin sudah terima foto di bawah itu, itu kami sudah terima laporan jauh-jauh sebelumnya,” kata Sebby.

“Mereka bilang, jubir (juru bicara) ini kami ikuti ini, ada satu agen intelijen yang dikirim dari Jakarta,” lanjutnya.

Sebby kemudian menyatakan bahwa siapa pun, termasuk orang asli Papua, yang menurut mereka menjadi kaki tangan TNI dan Polri akan dianggap sebagai bagian dari pihak yang berseberangan dengan TPNPB.

“Oleh karena itu siapapun orang imigran atau orang asli Papua menjadi kaki tangan militer dan polisi Indonesia, agen TNI-Polri wajib dibersihkan,” ujarnya.

Sebby mengatakan TPNPB telah memberikan peringatan kepada warga sipil agar menghindari wilayah yang mereka anggap sebagai daerah perang.

Ia kembali meminta warga pendatang yang berada di wilayah tersebut untuk meninggalkan kawasan konflik dan kembali ke daerah asal mereka.

“Dengar baik, sudah dengar? Berarti yang kepala batu itu Anda sendiri. Baru pertanyaannya, siapa suruh kamu datang di Papua orang-orang Indonesia ini? Cari apa? Siapa suruh datang dan cari apa?” kata Sebby.

Ia secara khusus memasukkan Wamena sebagai wilayah yang menurutnya kini mulai menjadi area perang.

“Sekali lagi kami ingatkan tinggalkan wilayah perang. Termasuk Wamena sekarang mulai wilayah perang. Kalau mau hidup pulang ke kampungmu di sana. Kami tidak mengizinkan Anda masuk di sini,” ujarnya.

Baca Juga :  CSR Freeport Disorot, Masyarakat Tsinga, Banti dan Aroanop Dinilai Masih Tertinggal

Sebby juga meminta masyarakat tidak mempercayai jaminan keamanan dari aparat TNI dan Polri.

“Jangan dengar tentara polisi bilang kami ada keamanan di sini, omong kosong itu. Jangan dengar. Jangan pikir TPNPB takut,” katanya.

Dalam pernyataan yang sama, Sebby kembali menegaskan bahwa TPNPB menganggap perjuangan mereka sebagai perang pembebasan nasional Papua.

Ia menyebut konflik bersenjata yang berlangsung di sejumlah wilayah Papua sebagai bagian dari perjuangan untuk memperoleh kembali kemerdekaan yang menurutnya telah dirampas Indonesia.

“Indonesia pikir TPNPB bilang perang itu main-main. Ini perang pembebasan nasional Bangsa Papua untuk merebut kembali hak kemerdekaan yang dirampas oleh Indonesia,” ujarnya.

Sebby juga menyebut sejumlah wilayah seperti Ndugama, Puncak Jaya, Puncak, Intan Jaya, Tolikara, Maybrat, Pegunungan Bintang, Yahukimo, dan Lanny Jaya sebagai wilayah konflik bersenjata.

Ia menegaskan TPNPB akan melanjutkan perlawanan dan meminta pemerintah Indonesia maupun masyarakat untuk memahami posisi kelompoknya.

“Jadi perang pembebasan sudah dimulai. Revolusi tahapan sedang berjalan, revolusi tahapan akan dimulai. Jadi Anda pikir kami bicara itu omong kosong, bicara main-main, tidak,” kata Sebby.

Selain penembakan di Muliama, Sebby juga menyinggung kematian empat anggota TPNPB di Yahukimo yang menurutnya terjadi dalam operasi aparat keamanan.

Ia membantah peristiwa tersebut sebagai baku tembak dan menuduh keempat anggotanya ditangkap sebelum ditembak.

“Kami juga mengutuk pembunuhan empat anggota kami di Yahukimo. Itu bukan baku tembak, mereka menyergap dan menangkap. Mereka menutup mata dan menembak. Itu melanggar hukum perang humanitas internasional,” ujarnya.

Sebby meminta kelompok kemanusiaan dan pekerja HAM internasional memperhatikan kasus tersebut serta menilai apa yang disebutnya sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional.

Sementara itu, terkait penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, aparat sebelumnya menyatakan ketiga korban merupakan bagian dari rombongan 11 orang yang melakukan perjalanan dari Wamena menuju Distrik Muliama untuk meninjau kegiatan cetak sawah.

Penembakan terjadi sekitar pukul 15.53 WIT saat rombongan dalam perjalanan kembali menuju Wamena. Berdasarkan pendalaman awal aparat, rombongan tersebut diduga dihadang kelompok bersenjata dan kemudian dipisahkan. Delapan orang lainnya yang merupakan warga asli Papua, termasuk seorang anak kecil, disebut tidak menjadi korban.

Aparat menduga pelaku berasal dari kelompok bersenjata dari wilayah Nduga dan masih melakukan penyelidikan untuk memastikan identitas serta keterlibatan pihak yang bertanggung jawab.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nikolaus Alome Imbau Masyarakat Jaga Keamanan dan Tidak Terlibat Perang Suku di Mimika
Pemuda Adat Papua Tolak PAPEDA Summit, Soroti Perdagangan Karbon
Bawa 27 Tuntutan, Mahasiswa dan Warga Mimika Demo di Kantor DPRK
Layangkan Surat Terbuka, LBH TPRA Desak Pemerintah Tetapkan Darurat Nasional Kebakaran Hutan Biak
LMA dan FPHS Tsingwarop Kritik Menteri HAM, Desak Tak Ikut Campur Urusan Pengalihan Dana 10 Persen dari Freeport
Peringati 4 Tahun Kasus Mutilasi di Mimika, Keluarga Korban: Jangan Beri Remisi Pelaku!
Komunitas Ojol Jayapura Nyatakan Dukungan terhadap Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Sambangi DPRK, Amungsa Foundation dan UNICEF Dorong Perda Malaria di Mimika

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 00:13 WIT

Jubir OPM Buka Suara soal Penembakan 3 Pegawai di Jayawijaya

Minggu, 6 September 2026 - 21:16 WIT

Nikolaus Alome Imbau Masyarakat Jaga Keamanan dan Tidak Terlibat Perang Suku di Mimika

Kamis, 3 September 2026 - 22:20 WIT

Pemuda Adat Papua Tolak PAPEDA Summit, Soroti Perdagangan Karbon

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:38 WIT

Bawa 27 Tuntutan, Mahasiswa dan Warga Mimika Demo di Kantor DPRK

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:55 WIT

Layangkan Surat Terbuka, LBH TPRA Desak Pemerintah Tetapkan Darurat Nasional Kebakaran Hutan Biak

Berita Terbaru

Kepala BPBJ Mimika, Anton Pasoro. (Foto: Istimewa)

Pemerintahan

76,83 Persen Paket Proyek Mimika Didelegasikan ke BPBJ

Jumat, 11 Sep 2026 - 15:29 WIT

Tim Satuan Reskrim Polres Mimika melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dugaan pembunuhan seorang warga di area belakang Indekos Warna Warni, Jalan Kelimutu, Timika, Papua Tengah. (Foto: Istimewa)

Peristiwa

Seorang Pria Ditemukan Tewas dalam Indekos di Mimika

Kamis, 10 Sep 2026 - 15:16 WIT