OPINI – Perubahan iklim global bukan lagi merupakan ancaman yang abstrak bagi mahkluk hidup, melainkan realitas global terkini yang semakin dirasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari manusia di berbagai negara di belahan bumi.
Cuaca yang ekstrem, naiknya suhu bumi dan kenaikan permukaan air laut, perubahan pola musim yang lebih sering terjadi, ini menunjukan fenomena bahwa dunia sedang menghadapi tantangan lingkungan yang kompleks, yang dampaknya terasa semakin nyata.
Opini ingin mengajak kita semua melihat lebih jauh bagaimana dampak pengaruh perubahan iklim yang tidak hanya menjadi ancaman keberlangsungan ekosistem, tetapi juga memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu implikasi yang paling mencolok adalah peningkatan resiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan, dan seharusnya menjadi perhatian kita di Tanah Papua, khususnya yang berdomisili di Mimika, Papua Tengah.
Menurut Intergovermental Panel On Climate Change (IPCC), tren perubahan iklim global, curah hujan yang tidak stabil, dan intensifikasi kejadian ekstrem, memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan penyebaran penyakit berbasis lingkungan, salah satunya seperti malaria.
Mekanisme dan dampak curah hujan yang tinggi di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, ini memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap siklus penularan malaria, karena kondisi ini menciptakan lingkungan ideal dan habitat yang sempurna bagi perkembangbiakan larva nyamuk Anopheles betina, yang merupakan vektor utama penular parasit Plasmodium.
Siklus dan Vektor Anopheles
Peningkatan suhu global telah berdampak pada distribusi vektor penyakit, termasuk nyamuk Anopheles yang cenderung berkembang biak lebih cepat dan menyebar ke daerah yang sebelumnya tidak terjangkau akibat suhu yang lebih hangat (Gething, 2022).
Selain itu, peningkatan suhu juga mempercepat siklus hidup parasit malaria dalam tubuh nyamuk, yang mengarah pada peningkatan jumlah kasus malaria di berbagai wilayah (Reiner Jr, 2023).
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Siklusnya melibatkan dua inang: manusia (fase aseksual di hati dan darah) dan nyamuk (fase seksual/sporogoni).
Anopheles bertindak sebagai vektor, aktif menggigit pada malam hari, dan berkebang biak digenangan air. Nyamuk Anopheles adalah genus serangga dari Famili Culicidae (Sub famili: Anophelinae) yang dikenal sebagai vektor utama penyakit malaria.
Nyamuk ini memiliki siklus hidup metamorfosis sempurna dalam 7-14 hari, melalui tahap: telur ─ larva ─ pupa ─ dewasa , yang di bedakan berdasarkan morfologi sayap, struktur larva, serta DNA. Tiga tahap awal berlangsung di air. Nyamuk betina bertelur satu persatu di permukaan air, yang menetas dalam 2-3 hari menjadi larva yang hidup sejajar di permukaan air.
Karakteristik Geografis dan Epidemologi Malaria di Mimika
Kabupaten Mimika di Papua Tengah merupakan wilayah dengan tingkat endemisitas malaria tertinggi di Indonesia, dengan kondisi alam berupa wilayah pesisir, rawa-rawa, dan hutan yang sangat luas dengan curah hujan yang sangat tinggi hampir sepanjang tahun, sehingga meyediakan banyak tempat perindukan nyamuk (breeding sites), dengan adanya genangan air, saluran air terbuka, semak belukar, dan vegetasi padat di sekitar pemukiman meningkatkan resiko penularan, yang sangat mendukung perkembang biakan nyamuk Anopheles Sp.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinkes Papua Tengah, dr. Agus (dalam https://Jubi.id/papua-tengah/2026) mengatakan akumulasi kasus malaria di delapan kabupaten di Papua Tengah pada 2025 mencapai 205.068 kasus.
Sebanyak 190.597 kasus atau 80 % dari jumlah kasus malaria itu ada di Kabupaten Mimika. Jadi, kasus malaria tertinggi sementara di Papua Tengah ada di Kabupaten Mimika.
Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax adalah jenis yang paling dominan ditemukan. Terutama pada kasus berat, P. vivax sering menyebabkan relaps (kekambuhan). Data menunjukkan setidaknya 70% kasus malaria di Mimika adalah kasus relaps atau kambuh kembali, karena kurangnya disiplin mengkonsumsi obat, juga masyarakat tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungan (http://antarpapua.com).
Malaria di Mimika menyerang semua kelompok usia, termasuk anak-anak dan orang dewasa. Puncak penularan sering kali berkaitan dengan musim hujan yang meningkatkan populasi nyamuk, di lingkungan yang kurang bersih seperti genangan genangan air di saluran saluran air akibat curah hujan tinggi, sampah dan lain sebagainya, dan didukung oleh perilaku masyarakat seperti sering keluar malam tanpa pelindung diri.
Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Vektor Malaria di Mimika
Akibat dari perubahan iklim antara lain meningkatnya suhu dan curah hujan, dimana keduanya merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi siklus hidup vektor malaria dan transmisinya.
Perubahan curah hujan juga mempengaruhi kejadian malaria, dimana adanya jeda terjadinya hujan disuatu daerah dapat meningkatkan risiko kejadian malaria (Rubuga et al., 2024).
Perubahan iklim memiliki pengaruh signifikan terhadap vektor malaria (Anopheles sp.) di Kabupaten Mimika yang secara langsung berdampak pada peningkatan risiko penularan penyakit. Faktor iklim seperti suhu udara, kelembaban, dan curah hujan berperan krusial dalam siklus hidup nyamuk dan parasit malaria.
Dampak Pemanasan Global terhadap Transmisi Malaria
Pemanasan global berdampak signifikan terhadap transmisi malaria di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, terutama melalui peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan.
Faktor-faktor itu menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi perkembangbiakan nyamuk Anopheles.
Kondisi Lingkungan dan Perilaku Masyarakat
Kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, merupakan faktor utama tingginya endemisitas penyakit tular vektor (terutama malaria) di wilayah ini.
Interaksi antara kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat tersebut dapat dilihat dari beberapa hal berikut:
1) Saat curah hujan tinggi menciptakan banyak genangan air, rawa-rawa, dan saluran air yang tidak mengalir di sekitar pemukiman warga, menjadikan habitat utama larva nyamuk Anopheles.
2) Kondisi fisik bangunan perumahan pemukiman warga terutama di daerah pinggiran yang masih berdinding kayu/papan dengan ventilasi yang tidak berkasa, serta tidak tertutup dengan rapat dan juga jarak antara rumah warga yang berdekatan dan padat ini memudahakan nyamuk masuk ke dalam rumah dan menggigit penghuni.
3) Jarak Pemukiman warga dengan Habitat nyamuk (rawa, hutan, kebun, kali, sungai) kurang dari 100 meter memiliki resiko penularan malaria sangat tinggi.
4) Kurangnya kesadaran warga yang beraktifitas pada malam hari tanpa pelindung, ini pun beresiko pada gigitan nyamuk Anopheles.
Upaya Pengendalian Malaria di Tengah Perubahan Iklim
Pemerintah Kabupaten Mimika bekerja sama dengan berbagai lembaga seperti Kementrian kesehatan (kemenkes), Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amugme dan Kamoro (YPMAK), serta PT Freeport Indonesia menggalakan Program “Tempo Kas Tuntas”, yang merupakan singkatan dari Tanggulangi Eliminasi Malaria Melalui Periksa darah, Obati, dan Awasi Kepatuhan Pengobatan Sampai Tuntas.
Inovasi ini berfokus pada intervensi pada manusia dan vektor melalui upaya penemuan kasus, pengobatan sesuai standar,bpengawasan konsumsi obat sampai tuntas, pemantauan pasca-pengobatan, serta intervensi vektor pada daerah dengan kasus positif (https://kemenkes.go.id, 2024).
Pada akhirnya, menghangatnya bumi ini bukanlah sekedar prediksi ilmiah, tetapi kenyataan yang kini mempercepat penularan malaria di Tanah Mimika.
Untuk menghadapi ancaman nyata ini, sangat diharapkan seluruh elemen di Mimika untuk segera mengambil tindakan strategis, mulai dari Dinas Kesehatan dan pemangku kebijakan segera menggeser strategi responsif menjadi prediktif berbasis data iklim, serta memperbaiki infrastruktur sanitasi di wilayah Mimika.
Serta diperlukan kesadaran masyarakat untuk konsisten menjaga kebersihan lingkungan dan menuntaskan pengobatan antimalaria guna mencegah resistensi parasit. Melalui sinergi nyata antara kebijakan adaptasi iklim dan kesadaran masyarakatlah, penularan malaria di tengah pemanasan global dapat putus secara tuntas demi masa depan Mimika yang lebih sehat.
Penulis: Tirza Natalia Agaki.S.Si.Gr (Mahasiswa Magister Biologi Konservasi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih) dan Pembimbing Prof.Dr. Lisye Iriana Zebua, M.Si (Dosen pada Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih)






















