TIFA Creative Getarkan Pantai Kei dengan Tarian Pangkur Sagu dari Papua

Endy Langobelen

Minggu, 26 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TIFA Creative menarikan tarian Pangkur Sagu dalam acara Festival Pesona Meti Kei 2025. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

TIFA Creative menarikan tarian Pangkur Sagu dalam acara Festival Pesona Meti Kei 2025. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

MALUKU TENGGARA — Hujan yang sempat mengguyur pesisir Pantai Hoar, Kampung Danar, pada Minggu (26/10/2025) siang, tak mampu memadamkan semangat sepuluh penari muda asal Mimika.

Di bawah langit kelabu yang perlahan cerah, langkah-langkah kaki mereka menandai awal dari sebuah pertemuan budaya yang menggetarkan hati: tarian Pangkur Sagu oleh TIFA Creative.

Festival Pesona Meti Kei 2025 siang itu seakan berhenti sejenak ketika suara musik mulai menggema di udara lembap. Para penari dari Papua Tengah itu menari dengan penuh totalitas—mengisahkan kisah kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari sagu, sumber pangan yang sarat makna di tanah Papua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak lama, lingkaran penonton semakin rapat. Warga Maluku Tenggara dari berbagai kampung mendekat, mengelilingi para penari yang tubuhnya telah basah oleh peluh dan hujan.

Tatapan mata mereka penuh rasa kagum, terpukau oleh gerak tubuh yang kuat namun lembut, penuh harmoni antara manusia dan alam.

“Begitu mereka tampil, setelah itu masyarakat langsung membaur pada tarian selanjutnya yaitu seka. Bahkan masyarakat ikut menarikan tarian Seka bersama-sama. Itulah Indonesia—berbeda tapi satu,” ujar Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, saat diwawancarai usai menyaksikan penampilan tersebut.

Dari kiri, Art Director TIFA Creative, Alfo Smith; Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun; dan Ketua Umum TIFA Creative, Dina Merani. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Dari kiri, Art Director TIFA Creative, Alfo Smith; Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun; dan Ketua Umum TIFA Creative, Dina Merani. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Panggung Kolaborasi Timur

Penampilan TIFA Creative bukan sekadar hiburan. Ia menjadi jembatan, mempertemukan dua wilayah di gugusan timur Nusantara—Papua dan Kei—melalui bahasa universal: seni dan tari.

Baca Juga :  Penghijauan Serentak, Polres Mimika Tanam 1.000 Pohon Mangrove di Poumako

Kelompok TIFA Creative sendiri diundang secara khusus oleh Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara untuk mengisi rangkaian acara, salah satunya Wet Warat, sebuah tradisi menarik tali di pesisir pantai saat laut surut.

“Konsepnya kami sesuaikan dengan semangat festival. Kalau Meti Kei berbicara tentang laut dan ikan, maka kami hadir dengan Pangkur Sagu, simbol kehidupan masyarakat pesisir Papua. Laut memberi ikan, tanah memberi sagu—dua hal yang menyatukan kami,” ujar Alfo Smith, Art Director TIFA Creative.

Tak berhenti di situ, TIFA Creative menutup penampilannya dengan mengajak masyarakat menari bersama dalam tarian Seka, tarian khas Suku Kamoro dari pesisir Mimika.

“Kami ingin masyarakat merasakan sendiri sukacita yang terkandung dalam gerak tarian Papua,” lanjut Alfo.

TIFA Creative menarikan tarian seka bersama masyarakat Maluku Tenggara. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
TIFA Creative menarikan tarian seka bersama masyarakat Maluku Tenggara. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Dan benar saja, Pantai Hoar di siang itu berubah menjadi ruang perayaan. Gelak tawa bercampur dengan ritme musik pertunjukan tarian Pangkur Sagu dan sorakan penonton.

“Panitia bahkan sampai kewalahan karena masyarakat terus meminta foto bersama. Itu bentuk cinta dan rasa penasaran mereka terhadap kami TIFA Creative,” kata Alfo bangga.

Seni Sebagai Bahasa Persaudaraan

Festival Pesona Meti Kei 2025 menjadi momentum penting bagi kolaborasi lintas wilayah timur Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Bupat dan Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob dan Emanuel Kemong, hadir langsung bersama rombongan dari Mimika untuk memperkuat kerja sama antar-daerah di bidang pariwisata dan budaya.

Baca Juga :  TIFA dan Diskop Kolaborasi Hadirkan Warna Baru Perayaan HUT Mimika ke-29

“Kami ingin membangun ekosistem wisata di pantai selatan Papua dan Maluku. Festival seperti Meti Kei dan Festival Bakau di Mimika bisa menjadi simpul yang menghidupkan UMKM dan ekonomi kreatif,” ujar Johannes Rettob dalam video wawancara yang diterima Galeripapua.com, Minggu sore.

Ia juga menuturkan rencana besar untuk menyinergikan berbagai festival budaya di wilayah timur—dari Festival Asmat, Festival Biak, hingga Meti Kei—agar bisa dipromosikan secara bersama sebagai satu paket wisata budaya timur Indonesia.

Foto bersama TIFA Creative, masyarakat Maluku Tenggara, dan Pimpinan Daerah dari Mimika dan Maluku Tenggara. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Foto bersama TIFA Creative, masyarakat Maluku Tenggara, dan Pimpinan Daerah dari Mimika dan Maluku Tenggara. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, menyambut gagasan tersebut dengan antusias.

“Kita akan saling mengunjungi dan mengangkat potensi daerah masing-masing. Ini langkah yang baik untuk memperkuat kebersamaan sekaligus memperkenalkan warisan budaya kita,” ujarnya.

Dari Mimika untuk Indonesia Timur

Bagi TIFA Creative, panggung di Pantai Hoar hanyalah awal. Mereka akan kembali tampil pada puncak Festival Pesona Meti Kei 2025 di Ohoililir pada Senin (27/10/2025) siang, membawakan tarian Papuan Body—sebuah karya yang merepresentasikan keberagaman budaya dari seluruh Tanah Papua.

“Besok kami ingin memberikan sesuatu yang lebih besar. Papuan Body ini tentang identitas, tentang manusia Papua dari timur sampai barat. Kami ingin masyarakat Kei merasakannya,” tutur Alfo Smith.

Foto bersama TIFA Creative dengan masyarakat Maluku Tenggara. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Foto bersama TIFA Creative dengan masyarakat Maluku Tenggara. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Di balik setiap langkah tarian, tersimpan pesan yang lebih dalam: tentang persaudaraan, tentang semangat lintas laut, dan tentang bagaimana kesenian bisa menjahit kembali jalinan kebinekaan.

Sore itu di Kampung Danar, di antara pasir basah dan sorak bahagia penonton, tarian Pangkur Sagu bukan hanya sebagai tarian biasa, tapi sebagai jantung dari sebuah pertemuan. Sebuah pertemuan yang membuktikan bahwa di ujung timur Nusantara, budaya bukan sekadar warisan—ia adalah jembatan yang menyatukan.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PAPEDA Summit 2026 Dorong Masyarakat Adat Jadi Penentu Arah Pembangunan Papua
SMA Negeri 1 Sentani Juarai Lintas Alam Cycloop Perdana
Meriahkan HUT RI, LMA Puncak Gelar Jalan Sehat: Serukan Ilaga Aman dan Damai
Timika Fest 2026 Meriah, Ribuan Warga Padati Konser Kemerdekaan di Mimika
Kapolres Cup Adu Skill Barista di Mimika, Kopi Papua Jadi Arena Kompetisi
Lomba Rakyat di Waena, Pemuda Heram dan Kepala Suku Ohee Hidupkan Semangat HUT ke-81 RI
Lanal Timika Semarakkan HUT Ke-81 RI dengan Beragam Lomba
Semarak HUT RI ke-81, Lomba Puisi Dorong Siswa SLB Papua Tengah Berani Berkarya

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 14:02 WIT

PAPEDA Summit 2026 Dorong Masyarakat Adat Jadi Penentu Arah Pembangunan Papua

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:15 WIT

SMA Negeri 1 Sentani Juarai Lintas Alam Cycloop Perdana

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:40 WIT

Meriahkan HUT RI, LMA Puncak Gelar Jalan Sehat: Serukan Ilaga Aman dan Damai

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:57 WIT

Timika Fest 2026 Meriah, Ribuan Warga Padati Konser Kemerdekaan di Mimika

Senin, 17 Agustus 2026 - 21:04 WIT

Kapolres Cup Adu Skill Barista di Mimika, Kopi Papua Jadi Arena Kompetisi

Berita Terbaru