YAHUKIMO – Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka, mengeluarkan pernyataan terbuka berisi ancaman terhadap tenaga guru, tenaga kesehatan, serta pihak-pihak yang dianggap mendukung Pemerintah Indonesia.
Ancaman itu ia sampaikan melalui rekaman suara yang dirilis Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB pada Kamis (19/2/2026).
“Kepada seluruh warga yang ada di wilayah Yahukimo, saya selaku komandan operasi wilayah Yahukimo menyampaikan beberapa hal: yang pertama, tenaga guru, tenaga dokter, yang sementara terlibat dalam bidang itu, segera keluar karena yang terlibat, kami tetap tidak segan-segan akan tembak. Itu yang pertama,” tegasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga mengancam siapa pun yang dianggap mendukung agenda pemerintah Indonesia. “Yang kedapatan membela orang kulit putih, tidak akan segan-segan kami akan tembak.”
Tak hanya itu, seruan pembakaran fasilitas publik turut disampaikan dalam rekaman tersebut.
“Rumah guru harus dibakar. Rumah kesehatan, kantor kesehatan, gedung sekolah harus dibakar. Kios, pokoknya bangunan-bangunan dari pemerintah kolonial Indonesia harus dibakar,” tandasnya.
Mayor Kopitua Heluka menyebut Yahukimo sebagai “zona merah” dan “zona militer”, serta meminta warga yang tidak berkepentingan meninggalkan wilayah tersebut.
“Karena Yahukimo adalah zona merah, Yahukimo adalah zona militer, oleh sebab itu, saya berharap kepada rakyat Yahukimo segera kosongkan wilayah atau mempersiapkan diri kembali ke budaya, yaitu bikin kebun, buka lahan untuk ke depan.”
Ia juga mengimbau masyarakat sipil agar tidak terlibat dalam konflik bersenjata. “Saya berharap keluarga maupun orang tua yang ada di Yahukimo tidak perlu terlibat dalam perang gerilya antara TPNPB-OPM melawan kolonial Indonesia.”
Lebih lanjut secara khusus, ia menyampaikan pesan kepada ASN, tokoh agama, guru, dan tenaga kesehatan yang merupakan orang asli Papua.
“Kepada pegawai PNS atau hamba-hamba Tuhan atau guru atau tenaga kesehatan orang Papua yang terlibat dalam itu, mohon segera (jika) ada apa-apa, segera hindari, keluar dari tempat, karena tujuan kami jelas bahwa Yahukimo harus mogok. (Itu) sudah masuk dalam target TPNPB-OPM.”
“Maka itu, titipan rekaman ini bisa sampaikan kepada keluarga yang ada di mana-mana. Mungkin (itu pesan) dari kami KOMNAS TPNPB Kodap XVI Wilayah Yahukimo. Selamat malam, selamat berjuang, semoga Tuhan Yesus memberkati,” pungkasnya.
Situasi Yahukimo Kian Rawan
Kabupaten Yahukimo dalam beberapa waktu terakhir memang menjadi salah satu wilayah dengan eskalasi keamanan yang meningkat di Papua Pegunungan.
Sejumlah insiden kekerasan terhadap warga sipil maupun aparat keamanan dilaporkan terjadi di beberapa distrik, termasuk Distrik Dekai sebagai pusat pemerintahan kabupaten.
Sebelumnya, seorang wanita penjual pinang dilaporkan menjadi korban penikaman oleh orang tak dikenal (OTK) di Kompleks Ruko Blok A, Distrik Dekai. Korban mengalami luka tusuk di bagian pundak kanan dan sempat mendapat perawatan medis.
Selain itu, aparat keamanan juga dilaporkan meningkatkan patroli dan pengamanan di sejumlah titik strategis menyusul berbagai informasi terkait potensi gangguan keamanan.
Pernyataan terbuka dari Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo ini berpotensi memperburuk kondisi psikologis masyarakat, terutama tenaga pendidik dan tenaga kesehatan yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan dasar di wilayah pedalaman Papua.
Pelayanan Publik Lumpuh
Seperti yang diketahui pula, Pemerintahan Kabupaten Yahukimo melalui Dinas Kesehatan pun telah menerbitkan surat pemberitahuan tentang penutupan fasilitas pelayanan kesehatan.
Surat bernomor 400.7/16/DINKES/2026 itu menyampaikan bahwa fasilitas dan sarana pelayanan kesehatan, termasuk milik swasta (apotik dan laboratorium) ditutup untuk sementara waktu.
Penutupan telah dimulai sejak tanggal 18 Februari 2026 dan akan dibuka kembali setelah ada kesepakatan jaminan keamanan dari Pemerintah Daerah, pihak gereja, tokoh adat, dan masyarakat.
Keputusan penutupan pelayanan kesehatan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena adanya kasus teror yang sudah berlangsung di sejumlah fasilitas kesehatan.
Adapun kasus-kasus teror yang telah terjadi beberapa waktu lalu di antaranya percobaan pembakaran gedung Puskesmas Dekal; percobaan pembakaran mobil ambulans Puskesmas Aplim dan Puskesmas Brasa; teror terhadap tenaga medis dan tenaga kesehatan di RSUD, Puskesmas Dekal, Puskesmas Aplim dan Puskesmas Brasa; serta tuduhan terhadap tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagai aparat TNI-Polri (intelijen).








