Stunting dan Malaria Jadi Ancaman Ganda bagi Anak di Mimika

Rachmat Julaini

Rabu, 8 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Amungsa Foundation, dr. Enny Kenangalem. (Foto: Istimewa)

Direktur Amungsa Foundation, dr. Enny Kenangalem. (Foto: Istimewa)

MIMIKA – Direktur Amungsa Foundation, dr. Enny Kenangalem, menegaskan bahwa stunting dan malaria kini menjadi ancaman ganda bagi anak-anak di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Hal itu ia sampaikan usai menghadiri diseminasi hasil studi baseline Program PASTI, Rabu (8/4/2026), yang menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam penanganan stunting di wilayah Papua.

Dr. Enny menjelaskan bahwa masalah stunting di Mimika masih cukup tinggi, khususnya pada anak usia di bawah dua tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi itu diperburuk oleh tingginya paparan penyakit infeksi seperti malaria yang secara langsung memengaruhi status gizi anak dan ibu hamil.

Ia menekankan bahwa kejadian stunting dan infeksi malaria memiliki hubungan yang erat, karena malaria dapat memperparah kondisi gizi anak, sementara anak yang sudah mengalami stunting juga lebih rentan terserang infeksi berulang.

Data terbaru menunjukkan 15,2 persen bayi di Mimika lahir dengan berat badan rendah (BBLR), sebuah kondisi yang menjadi faktor awal risiko stunting.

“Selain itu, meskipun sebagian besar ibu hamil telah menerima Tablet Tambah Darah (TTD), lebih dari 60 persen di antaranya belum mengonsumsi sesuai standar. Situasi ini meningkatkan risiko anemia serta berbagai komplikasi kehamilan yang dapat berdampak pada kesehatan bayi,” jelas dr. Enny.

Baca Juga :  Dinkes Mimika Gelar Pengobatan Gratis di Lokasi Eks Pasar Swadaya

Pada kelompok anak, malaria yang terjadi berulang kali terbukti menurunkan nafsu makan, mengganggu penyerapan nutrisi, dan menyebabkan penurunan berat badan. Kondisi tersebut berpotensi memicu wasting yang kemudian berkembang menjadi stunting.

Sebaliknya, anak dengan gizi buruk juga lebih mudah terserang penyakit infeksi, termasuk malaria, sehingga menciptakan siklus yang sulit diputus tanpa intervensi menyeluruh.

Menurut dr. Enny, layanan kesehatan dasar seperti Posyandu, Pustu, dan Puskesmas memang telah tersedia di berbagai wilayah Mimika, namun akses terhadap layanan tersebut belum merata.

Faktor geografis, terbatasnya sarana dan prasarana, serta kapasitas kader di tingkat kampung masih menjadi hambatan dalam memastikan layanan berjalan optimal.

Di sisi lain, kondisi sosial ekonomi masyarakat turut memengaruhi pola konsumsi dan penyediaan gizi dalam keluarga.

“Layanan sebenarnya sudah ada, tetapi belum semua masyarakat bisa mengaksesnya secara optimal. Ini yang harus kita perbaiki bersama,” tuturnya.

Baca Juga :  SMA Taruna Optimis Hadapi Laga Final Kapolda Cup II 2026

Ia menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting hanya dapat dicapai melalui pendekatan yang terintegrasi dengan program pengendalian malaria dan penyakit infeksi lainnya.

Kerja sama antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan lembaga swadaya masyarakat dinilai sangat penting untuk memutus “lingkaran risiko” antara gizi buruk dan penyakit yang saling memperparah kondisi anak.

Selain intervensi pada tingkat pelayanan, dr. Enny juga mendorong masyarakat untuk mengambil peran aktif melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak besar.

Langkah tersebut diantaranya menggunakan kelambu untuk mencegah malaria, menuntaskan pengobatan jika terinfeksi malaria, rutin memeriksakan kehamilan serta mengonsumsi Tablet Tambah Darah, memberikan ASI eksklusif dan makanan bergizi bagi anak, memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga, serta aktif membawa anak ke Posyandu setiap bulan.

Menurutnya, perubahan perilaku di tingkat keluarga, didukung oleh layanan yang kuat dan kolaborasi lintas sektor, merupakan kunci dalam meningkatkan kualitas hidup anak-anak di Mimika dan Papua secara keseluruhan.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PAM GKI Klasis Mimika Dukung Eliminasi Malaria
PC PMI Mimika Dorong Program Eliminasi Malaria
Kasus Malaria Mimika Tembus 118 Ribu, YACP Dorong Media Jadi Penggerak Pencegahan
Pemuda Muslim Dorong Pelajar Jadi Agen Pencegahan Malaria di Mimika
Asap Karhutla Ancam Kelompok Rentan, Amungsa Cares Papua Imbau Penggunaan Masker
Kabut Asap Picu Kenaikan Kasus ISPA di Mimika, Dinkes Catat Lebih dari 63 Ribu Penderita
Kasus Malaria Puskesmas Timika Naik 6,4 Persen, Pemeriksaan Diperluas
Dinas Kesehatan Mimika Bekali Kader Posyandu Deteksi Dini Penyakit Balita

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:54 WIT

PAM GKI Klasis Mimika Dukung Eliminasi Malaria

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:59 WIT

PC PMI Mimika Dorong Program Eliminasi Malaria

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:00 WIT

Kasus Malaria Mimika Tembus 118 Ribu, YACP Dorong Media Jadi Penggerak Pencegahan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 19:08 WIT

Pemuda Muslim Dorong Pelajar Jadi Agen Pencegahan Malaria di Mimika

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:02 WIT

Asap Karhutla Ancam Kelompok Rentan, Amungsa Cares Papua Imbau Penggunaan Masker

Berita Terbaru

Kepala Seksi PAM GKI Klasis Mimika, Alfred Toridu. (Foto: Istimewa)

Kesehatan

PAM GKI Klasis Mimika Dukung Eliminasi Malaria

Rabu, 7 Okt 2026 - 16:54 WIT