PUPR Papua Tengah Upayakan Konektivitas Trans Nabire-Timika dan Enarotali-Sugapa

Ahmad

Rabu, 13 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas PUPR Papua Tengah, Ir. Yulianus Manuel Mambrasar, saat ditemui, Selasa malam 12 Mei 2036. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Kepala Dinas PUPR Papua Tengah, Ir. Yulianus Manuel Mambrasar, saat ditemui, Selasa malam 12 Mei 2036. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

MIMIKA — Pemerintah Provinsi Papua Tengah (PPT) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus memacu proyek infrastruktur jalan untuk membuka isolasi geografis di wilayah pegunungan tengah.

Langkah ini diambil sebagai strategi utama untuk menekan tingginya biaya logistik dan mempermudah akses pelayanan dasar bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada transportasi udara.

Kepala Dinas PUPR Papua Tengah, Ir. Yulianus Manuel Mambrasar, mengungkapkan bahwa pembangunan konektivitas antarwilayah ini tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah provinsi. Dibutuhkan sinergi pembiayaan dan koordinasi teknis yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami sedang membangun komunikasi dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) serta Bupati Deiyai dan Mimika untuk melakukan kolaborasi pembiayaan,” ujar Yulianus saat ditemui awak media di Hotel Horison Diana, Selasa malam, 12 Mei 2026.

Selain kendala medan yang ekstrem dan kebutuhan anggaran yang fantastis, faktor keamanan seringkali menjadi penghambat utama pengerjaan proyek strategis di wilayah pegunungan.

Menanggapi hal tersebut, Yulianus memastikan bahwa koordinasi dengan kepala daerah di tingkat kabupaten telah dilakukan guna menjamin kelancaran pekerjaan di lapangan.

Baca Juga :  DPC Partai Gerindra Mimika Siapkan 50 Bacaleg untuk Pileg 2024, Target Minimal 8 Kursi

“Faktor yang paling penting itu sekarang keamanan, tapi para Bupati memberikan jaminan keamanan untuk itu,” tegasnya. Komitmen ini dianggap krusial agar para pekerja dan alat berat dapat beroperasi tanpa gangguan di zona-zona rawan.

Fokus utama pembangunan saat ini adalah ruas jalan Waghete–Timika serta koneksi Enarotali (Paniai) menuju Sugapa (Intan Jaya). Ruas Enarotali–Sugapa menjadi perhatian khusus karena kondisi saat ini sangat memprihatinkan.

Perjalanan darat antar-kabupaten tersebut memakan waktu 9 hingga 12 jam dan hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua akibat medan yang menanjak dan rusak.

Yulianus optimis jika jalan standar berhasil dibangun, waktu tempuh akan terpangkas drastis. Dampak paling nyata adalah penurunan harga kebutuhan pokok yang selama ini melambung tinggi akibat biaya angkut pesawat.

“Pendekatan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi itu paling penting. Kalau jalan tembus, kita bisa menekan harga. Selain itu, akses darat sangat dibutuhkan untuk evakuasi orang sakit ke rumah sakit yang representatif di Enarotali atau Paniai,” jelas Yulianus.

Berdasarkan data awal dari BPJN, diperkirakan masih terdapat sekitar 40 hingga 60 kilometer jalan yang perlu diselesaikan. Pemerintah Provinsi kini tengah melakukan sinkronisasi data lapangan untuk memastikan sisa pengerjaan, termasuk pembangunan jembatan-jembatan penghubung yang terputus.

Baca Juga :  Pasar Obral Bakal Ramaikan Pasar Sentral Timika Setiap Minggu

Yulianus berharap kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) dapat menjadi mesin penggerak utama dalam pembiayaan infrastruktur jalan ini.

Mengingat fungsinya yang vital sebagai urat nadi kehidupan, pembangunan jalan darat adalah solusi jangka panjang yang paling masuk akal untuk menyejahterakan masyarakat di wilayah pegunungan.

“Kita berdoa supaya pemerintah pusat lewat kegiatan Otsus ini bisa betul-betul mengalokasikan dana untuk pengembangan infrastruktur ini,” pungkasnya.

Pembangunan jalan Trans Nabire-Timika dan Enarotali-Sugapa bukan sekadar proyek fisik, melainkan upaya kemanusiaan untuk melepaskan ketergantungan masyarakat Papua Tengah terhadap transportasi udara yang mahal.

Keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada tiga pilar utama, yakni kolaborasi pembiayaan antara Pemprov, Pemkab, dan BPJN; jaminan stabilitas keamanan dari pemerintah daerah; serta konsistensi alokasi Dana Otsus yang tepat sasaran.

Jika konektivitas ini terwujud, maka ketimpangan harga dan keterbatasan akses kesehatan di pelosok pegunungan dapat segera teratasi.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sekolah di Mimika Didorong Bangun Budaya Peduli Lingkungan Sejak Dini
Pemkab Mimika Rancang Kota Kapiraya sebagai Pusat Ekonomi Baru di Pesisir
Respons Pemerintah dan Aparat Keamanan Pasca Konflik Bersenjata di Jila Mimika
Dinas Perikanan Mimika Alokasikan Rp500 Juta untuk Budidaya Kepiting Bakau
Upacara Pengibaran Bendera HUT Ke-81 RI di Mimika Berlangsung Khidmat
HUT RI ke-81, Pemkab Mimika Tabur Bunga untuk Mengenang Jasa Pahlawan
BRIDA Mimika Pamerkan 15 Inovasi Terbaik Hasil Seleksi Daerah
DPMPTSP Mimika Jemput Bola Izin Usaha Gratis Lewat Program Pojok Nongkrong

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:25 WIT

Pemkab Mimika Rancang Kota Kapiraya sebagai Pusat Ekonomi Baru di Pesisir

Kamis, 20 Agustus 2026 - 23:13 WIT

Respons Pemerintah dan Aparat Keamanan Pasca Konflik Bersenjata di Jila Mimika

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:20 WIT

Dinas Perikanan Mimika Alokasikan Rp500 Juta untuk Budidaya Kepiting Bakau

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:39 WIT

Upacara Pengibaran Bendera HUT Ke-81 RI di Mimika Berlangsung Khidmat

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 14:59 WIT

HUT RI ke-81, Pemkab Mimika Tabur Bunga untuk Mengenang Jasa Pahlawan

Berita Terbaru