Mimika – Klaim kondisi di Kapiraya, Mimika Barat Tengah, Papua Tengah, berbeda antara aparat kepolisian dan tokoh pemuda setempat. Polisi menyebut situasi aman dan terkendali, sementara warga menilai konflik telah memicu krisis kemanusiaan.
Kepolisian Sektor Mimika Barat memastikan situasi keamanan di wilayah Kapiraya, Mimika Barat Tengah, dalam kondisi aman dan terkendali. Ini disampaikan menyusul beredarnya laporan mengenai perpindahan warga dari tiga kampung, yakni Kapiraya, Wumuka, dan Wakia.
Kapolsek Mimika Barat Inspektur Polisi Dua Muhamad Yani, mengatakan tidak ada pengungsian massal seperti yang dikhawatirkan. Aktivitas warga tetap berjalan meski sempat terjadi konsentrasi massa di sejumlah titik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Situasi di Kapiraya dan sekitarnya dalam keadaan terkendali tanpa ada gangguan kamtibmas lainnya,” kata Yani saat dihubungi, Sabtu, 28 Maret 2026.
Yani menjelaskan warga yang berada di kawasan Lopon bukan mengungsi, melainkan berkumpul sementara di lokasi yang dijadikan titik kumpul. Warga dari kilometer 4, khususnya yang berada di sekitar SD Negeri Inpres 2 Uta Kapiraya, disebut berkumpul di pelabuhan kilometer 0 Kapiraya.
“Mereka bukan mengungsi, hanya berkumpul di Lopon sebagai titik kumpul. Memang warga kilometer 4 yang dekat dengan sekolah banyak berkumpul di pelabuhan kilometer 0,” ujarnya.
Polisi telah mengimbau warga untuk kembali ke rumah masing-masing guna memastikan permukiman tidak kosong. Namun, sebagian warga masih memilih bertahan di lokasi tersebut.
“Kami sudah sampaikan agar kembali ke rumah masing-masing dan memastikan rumah tetap dihuni. Namun mereka masih bertahan dengan alasan berkumpul. Kami pastikan keamanan tetap terjamin,” kata dia.
Untuk fasilitas umum, klaim Yani, layanan kesehatan di Puskesmas Kampung Uta dilaporkan tetap beroperasi normal. Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di SDN Inpres Uta 2 Kapiraya masih belum berjalan karena tenaga pengajar belum kembali bertugas.
Sebelumnya diberitakan Galeripapua, Tokoh Pemuda Kapiraya Pius Minama menyebut situasi saat ini di Kapiraya telah memutus akses warga terhadap berbagai kebutuhan dasar. Aktivitas pendidikan, keagamaan, hingga pembangunan kampung dilaporkan terhenti total.
Pius berkata, sekolah-sekolah tidak lagi beroperasi, rumah ibadah ditinggalkan, dan proyek infrastruktur kampung tidak berjalan akibat kondisi yang tidak kondusif.
Selain itu, warga kehilangan sumber penghidupan karena tidak berani beraktivitas di lahan yang menjadi objek sengketa.
“Saat ini, kondisi kampung-kampung tersebut kosong. Kami butuh penjelasan transparan Tim Harmonisasi Kabupaten Mimika mengenai sudah sejauh mana upaya penyelesaian tapal batas Kapiraya,” tegas Pius.
Wartawan Galeri Papua, Ahmad berkontribusi dalam artikel ini.



















