MIMIKA – Bunyi pahat memecah kesunyian pagi di sebuah galeri di Jalan Nawaripi Dalam, Distrik Wania, Kabupaten Mimika. Tak… tak… tak…. Bilah besi itu menghantam permukaan kayu, mengikis sedikit demi sedikit bagian yang tak diperlukan.
Di hadapan Simson Samin, sebatang kayu besi perlahan kehilangan bentuk aslinya. Tangannya bergerak terukur. Wajahnya serius. Ia tak banyak bicara. Sesekali ia berhenti, mengamati lekukan yang baru dibuat, lalu kembali mengetukkan pahat.
Serpihan kayu berserakan di lantai. Aroma kayu mentah memenuhi ruangan. Di sekelilingnya berdiri patung-patung Kamoro dengan beragam bentuk dan motif — sebagian kecil, sebagian menjulang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di dalam galeri, karya-karya yang telah selesai dipajang berdampingan dengan foto, sertifikat, dan dokumentasi perjalanan seni yang membawa nama Kamoro hingga ke luar negeri.

Simson bukan sekadar sedang membuat sebuah patung. Ia sedang meneruskan pekerjaan ayahnya, Timotius Samin, salah satu pemahat Kamoro yang telah membawa karya seni ukir Mimika ke berbagai negara.
“Saya belajar itu dengan melihat tete (kakek). Dari kecil saya selalu di samping tete.” katanya.
Bagi Simson, tidak ada sekolah khusus ketika ia mulai mengenal pahat. Ia tumbuh di antara suara kayu yang dipukul, serpihan yang jatuh, dan patung-patung yang dibuat ayahnya.
Dari tujuh bersaudara, Simson adalah satu dari empat laki-laki. Namun, menurut Simson, dirinya yang kini aktif menekuni seni ukir.
“Yang aktif (mengukir) sekarang saya. Kakak yang tua bisa mengukir, tetapi pekerjaannya ada.”
Dari Kepala Kampung Menjadi Pemahat
Perjalanan Timotius menuju dunia ukir justru dimulai dari kehidupan yang berbeda. Pada 1991 silam, Timotius mulai menjabat sebagai kepala Kampung Kiyura ketika wilayah Mimika masih berada dalam administrasi Kabupaten Fak-Fak.
Dua tahun kemudian, ia memutuskan meninggalkan jabatan tersebut. Pemicu keputusannya datang dari sebuah berita surat kabar tentang pengukir Asmat yang membawa kebudayaannya hingga ke Amerika Serikat.
Dari sana muncul sebuah pertanyaan dalam dirinya: jika budaya Asmat bisa dikenal dunia, mengapa budaya Kamoro tidak?
Timotius kemudian memilih jalan yang berbeda. Ia mulai menekuni seni ukir pada usia sekitar 40 tahun. Ia belajar dari tokoh adat Kamoro, Ayub Nayuta, sekaligus mulai memahami bahwa sebuah patung tidak berhenti pada bentuk fisiknya.

Bagi Timotius, jabatan dapat berganti. Tetapi ketika budaya hilang, sesuatu yang jauh lebih besar ikut lenyap.
“Jabatan bisa berganti, tetapi kalau budaya hilang, semuanya akan hilang.”
Keyakinan itu kemudian membawanya melangkah jauh. Pada 2003, Timotius tiba di Belanda. Perjalanan ini menjadi salah satu titik penting dalam upayanya memperkenalkan seni ukir Kamoro kepada dunia.
Ia kemudian tampil dalam berbagai kegiatan budaya, diantaranya di Bulgaria pada 2007, Jerman pada 2010, kembali ke Amsterdam pada 2014, hingga Swiss dan Jenewa pada 2018 serta Australia pada 2020. Karya-karyanya juga pernah dipamerkan di Museum Pusat Universitas Leiden, Belanda.
Perjalanan itu membuat Timotius bukan hanya dikenal sebagai pemahat, tetapi sebagai salah satu tokoh yang membawa cerita Kamoro keluar dari tanah kelahirannya.
Dari Kayu Menjadi Ingatan
Bagi masyarakat Kamoro, ukiran bukan semata benda dekoratif. Ia menjadi media untuk merekam hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan kehidupan masyarakat pesisir Mimika.
Salah satu karya yang memiliki kedudukan khusus adalah Bitoro dan Obitoro. Menurut Simson, keduanya berkaitan erat dengan rumah adat Karapao, sebuah ruang penting dalam proses adat masyarakat Kamoro.
“Kalau Bitoro dan Obitoro sudah berdiri di depan rumah Karapao, berarti rumah adat itu sah,” jelasnya.
Bitoro merupakan patung induk yang memiliki kedudukan sakral. Dalam pengetahuan adat yang diwariskan kepada pengukir tertentu, proses pembuatannya tidak dapat dilakukan sembarangan. Ada aturan, ada pantangan, dan ada pengetahuan yang tidak semua orang boleh mengetahuinya.
Karena itu, bagi Simson, menjadi pengukir bukan hanya persoalan kemampuan tangan. Ada kesabaran yang harus dijaga. “Kalau buru-buru, barang rusak. Kita harus teliti dan bekerja dengan tenang.”
Bahkan ketika bekerja bersama ayahnya, ada batas-batas adat yang tidak boleh dilanggar. Simson mengatakan seorang pengukir tidak boleh sembarangan melampaui garis atau kemampuan yang diwariskan dari seniornya.
Pengetahuan tersebut sebagian memang dapat diajarkan. Namun sebagian lainnya tetap menjadi rahasia para pengukir.
Pahat, Kayu Besi, dan Kesabaran
Di galeri Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, aktivitas para pengukir dimulai dengan memilih kayu. Kayu besi menjadi salah satu material yang disukai Simson. Serat yang lurus membuatnya lebih mudah dipahat. Sebaliknya, serat kayu yang menyilang membutuhkan ketelitian lebih tinggi.
“Kalau uratnya lurus, paling enak dipahat. Hasilnya juga bagus,” kata Simson.
Peralatan yang digunakan relatif sederhana: pahat, kampak, parang, gergaji, dan dalam kondisi tertentu bor untuk membantu membuat bagian tertentu.

Satu patung sederhana dapat diselesaikan dalam sehari apabila tidak ada pekerjaan lain. Namun bagian finishing membutuhkan waktu lebih lama karena setiap detail harus diperiksa kembali.
Di tengah panasnya udara Kota Timika, Simson tetap bekerja. Matahari membuat keringat mengalir di wajahnya. Angin sesekali masuk membawa sedikit udara segar.
Tangannya kembali mengangkat pahat. Tak… tak… tak…. Serpihan kayu jatuh. Dari sebuah batang kayu, bentuk manusia, hewan, atau simbol leluhur perlahan muncul.
Darah Pengukir
Simson menyebut kemampuan mengukir yang dimiliki keluarganya sebagai bagian dari warisan yang terus mengalir. “Kita tidak banyak berlatih. Kita melihat dan meneruskan apa yang sudah diajarkan.”
Namun bagi keluarga Samin, pewarisan tidak berhenti pada kemampuan membuat patung. Yang jauh lebih penting adalah memahami kapan sebuah motif boleh dibuat, bagaimana prosesnya, dan nilai apa yang terkandung di dalamnya.
Hal itulah yang kini menjadi persoalan lebih besar bagi seni ukir Kamoro. Di tengah kehidupan modern, minat generasi muda terhadap seni tradisional menghadapi tantangan.
Simson melihat banyak anak muda lebih dekat dengan dunia digital daripada dengan bahasa, tradisi, dan keterampilan leluhur mereka. Namun ia juga melihat harapan.
Ketika Yayasan Maramowe melakukan pendataan pengukir di sejumlah kampung pesisir, mereka menemukan anak-anak muda yang mulai meneruskan pekerjaan orang tua mereka.
“Kalau orang tua mau menjaga dan mengajarkan anaknya, seni ini masih bisa diteruskan,” yakinnya.
Yayasan yang Menjadi Jembatan
Upaya menjaga seni ukir Kamoro juga dilakukan melalui Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe. Yayasan ini didirikan pada September 2014. Namun upaya pelestarian yang menjadi cikal bakalnya telah dimulai sejak 1996 oleh Kal Muller.
Yayasan ini kemudian menjadi salah satu wadah yang menghubungkan pengukir di kampung-kampung pesisir dengan pasar di Kota Timika dan daerah lain.
Sinta, pengelola administrasi yayasan, mengatakan pihaknya secara rutin turun ke kampung untuk membeli karya para pengukir. Cara ini dilakukan agar para pengrajin tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk membawa sendiri karya mereka ke kota.
“Kami biasanya turun langsung ke kampung untuk menjemput karya para pengukir,” tuturnya.
Menurut Sinta, yayasan saat ini memberdayakan kurang lebih sekitar 500 pengukir. Karya mereka tidak hanya dipasarkan di Timika, tetapi juga melalui mitra di Bali, Jakarta dan Tangerang, serta berbagai pameran dan kegiatan seni di luar daerah.
Bagi Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Herman Kiripi, wadah seperti itu diperlukan karena masyarakat pesisir membutuhkan akses menuju pasar. “Kami menjadi wadah agar karya masyarakat kampung bisa dipasarkan ke luar.”
Dari Kampung ke Dunia
Bagi Herman, seni ukir Kamoro merupakan warisan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Ia menjelaskan bahwa motif-motif yang muncul dalam ukiran memiliki hubungan dengan lingkungan hidup dan leluhur masyarakat Kamoro.
Buaya, ikan, ular, babi dan berbagai bentuk lainnya bukan sekadar ornamen. Motif tersebut berkaitan dengan hubungan manusia Kamoro dengan alam dan sumber kehidupannya.

Dalam kehidupan masyarakat Kamoro, terdapat tiga unsur penting yang dikenal sebagai 3S: sungai, sampan, dan sagu. Sungai menjadi jalur utama. Sampan menjadi alat transportasi. Sementara sagu menjadi salah satu sumber pangan utama.
“Supermarket orang Kamoro bukan di mall. Saat air surut, pantai menjadi supermarket mereka,” jelasnya.
Karena itu, ketika sebuah ukiran dibuat, yang muncul bukan sekadar bentuk dari kayu. Ada lingkungan, sejarah, dan cara hidup yang ikut ditorehkan.
Ancaman yang Datang Perlahan
Namun warisan itu menghadapi persoalan regenerasi. Sofia Razak, istri Simson, melihat semakin sedikit anak muda yang tertarik mempelajari seni ukir.
“Kalau bukan anak-anak muda yang meneruskan, siapa lagi?” kata Sofia.
Menurutnya, persoalan bukan hanya hilangnya sebuah keterampilan. Seni ukir juga menjadi bagian dari identitas sekaligus mata pencaharian masyarakat Kamoro.
Di sisi lain, karya yang dibuat para pengukir terkadang belum dihargai secara layak di daerah sendiri. Sementara di luar Papua, karya dengan motif dan nilai budaya Kamoro dapat memiliki harga yang jauh lebih tinggi.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri: bagaimana membuat seni ukir tetap hidup sebagai warisan budaya sekaligus mampu memberikan penghidupan bagi pengukirnya.
Mimpi Sebuah Museum
Simson menilai pelatihan dan pembinaan saja belum cukup. Menurutnya, Mimika membutuhkan ruang yang secara khusus dapat menjadi tempat menyimpan, memamerkan, sekaligus memperkenalkan karya budaya masyarakat asli Mimika.
“Kalau hanya pembinaan tanpa wadah seperti museum, semuanya akan tetap menjadi cerita,” tandasnya.
Baginya, museum bukan hanya tempat menyimpan benda lama. Tempat itu dapat menjadi ruang pertemuan antara pengukir, generasi muda, wisatawan, peneliti dan pasar.
Di sana, karya-karya dari kampung pesisir dapat dipamerkan. Festival dapat digelar. Anak-anak dapat belajar. Pengunjung dapat melihat langsung bahwa di Mimika terdapat tradisi seni yang memiliki sejarah panjang.
Dari Timotius ke Simson
Di tengah galeri yang dipenuhi patung, perjalanan Timotius kini menemukan babak baru. Ia telah berkeliling dunia membawa ukiran Kamoro.
Kini, salah satu anaknya memilih tinggal lebih dekat dengan kayu, pahat dan warisan yang ditinggalkan sang ayah.
Simson sebenarnya memiliki kesempatan untuk memilih jalan lain. Ia pernah bekerja di sejumlah perusahaan, termasuk di sektor pertambangan.
Bahkan, menurut pengakuannya, beberapa pihak masih menawarkan pekerjaan kepadanya. Namun ia memilih kembali ke seni.
“Banyak yang menawarkan saya pekerjaan, tetapi saya tidak tertarik. Saya memilih ini.”
Keputusan itu bukan semata soal pekerjaan. Ada sesuatu yang membuatnya merasa terikat dengan kayu dan ukiran. Ia ingin memastikan perjalanan ayahnya tidak berhenti pada sebuah generasi.
Kini, setiap pagi ketika datang ke galeri, ia memilah kayu, membuat kopi, menyiapkan pahat, lalu mulai bekerja.
Tak… tak… tak…. Suara itu kembali terdengar. Serpihan kayu jatuh ke lantai.
Di satu sudut galeri, karya-karya Timotius masih terpajang. Foto perjalanan ke berbagai negara menjadi saksi bahwa ukiran dari pesisir Mimika pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer.
Di sudut lain, Simson berdiri dengan pahat di tangannya. Sebuah patung baru sedang ia bentuk. Belum selesai.
Seperti warisan yang diterimanya dari sang ayah, pekerjaan itu pun belum selesai. Karena bagi Simson, yang harus diwariskan bukan sekadar cara memahat kayu, tetapi juga cara memahami mengapa kayu itu dipahat.
Dan selama suara pahat masih terdengar di galeri kecil di Nawaripi, cerita tentang Kamoro belum berakhir.







