Sekitar 300 dari 471 siswa SD Negeri Inpres Kasonaweja, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, terbiasa pergi ke sekolah tanpa alas kaki karena keterbatasan ekonomi keluarga. Sebagian lainnya datang tanpa perlengkapan sekolah yang lengkap.
Galeri Papua mendatangi sekolah di pedalaman Papua itu pada 8 Agustus 2026 bersama Rumah Zakat Papua dan Yayasan Damai Aqsha, yang membawa 300 pasang sepatu untuk dibagikan kepada para siswa.
Pagi itu, anak-anak duduk di ruang kelas masing-masing. Mereka dibagi berdasarkan kelas dan menunggu nama dipanggil satu per satu. Sesekali beberapa anak melihat ke arah pintu, sementara di kantor guru kardus-kardus sepatu dibuka. Para guru mencari ukuran yang sesuai dan mencocokkannya dengan kaki siswa. Tidak semua ukuran tersedia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika namanya dipanggil, seorang anak maju dan menerima sepasang sepatu. Ia memandangnya sebentar sebelum memasukkan kaki ke dalamnya. Ada yang langsung mencoba berjalan, ada yang tersenyum ketika ukurannya pas, sementara beberapa anak lainnya mulai berlari kecil di halaman sekolah.
Orang tua yang berada di sekitar sekolah ikut menyaksikan anak-anak mereka mencoba alas kaki baru.
Dari luar, bangunan utama SD Negeri Inpres Kasonaweja tampak sederhana. Bangunan kayu berukuran sekitar 100 x 500 meter itu memiliki enam ruang kelas. Kelas 4, 5 dan 6 kini menempati gedung baru yang berdiri tidak jauh dari bangunan utama. Namun, tambahan bangunan itu belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan ruang belajar. Di beberapa kelas, satu meja yang semestinya digunakan dua siswa masih harus ditempati tiga hingga empat anak.
“Setelah adanya bantuan berupa sepatu dan alat tulis, jumlah siswa yang tadinya sangat banyak tidak memakai alas kaki atau sepatu ke sekolah menjadi berkurang,” kata Wakil Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Kasonaweja, Diana Tulak.
Sekolah berdinding kayu

Kasonaweja bukan tempat yang mudah dijangkau. Dari Kota Jayapura, perjalanan menuju kampung itu membutuhkan sekitar dua hari satu malam menggunakan kapal. Tidak ada jalan darat yang menghubungkan Kasonaweja dengan kota-kota lain di Papua. Sungai menjadi jalur utama masyarakat, sementara pesawat menjadi pilihan lain bagi mereka yang mampu membayar ongkosnya.
Sebanyak 471 siswa tercatat dalam Data Pokok Pendidikan atau Dapodik, terdiri dari 260 laki-laki dan 211 perempuan. Akan tetapi, jumlah itu belum sepenuhnya menggambarkan keadaan sekolah. Menurut Diana, masih ada sejumlah anak yang belum tercatat dalam Dapodik karena persoalan kartu keluarga. Sebelum bantuan sepatu datang, sekitar 300 siswa disebut biasa datang ke sekolah tanpa alas kaki. Kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu penyebabnya.
Cerita tentang anak-anak tersebut sebelumnya sampai kepada Rumah Zakat Papua dan Yayasan Damai Aqsha melalui laporan media. Saat mengunjungi Kasonaweja, seorang jurnalis menemukan sejumlah siswa datang ke sekolah tanpa alas kaki. Laporan itu kemudian mendorong kedua lembaga tersebut datang langsung untuk melihat kondisi anak-anak dan sekolah. Dari Jayapura, mereka menumpang kapal Cantika Lestari 77 menuju Kasonaweja.
Representative Manager Rumah Zakat Cabang Jayapura, Yusup Siranda Muhammad Nur, mengatakan kondisi yang mereka temukan sesuai dengan informasi yang diterima. “Kami melihat bahwa benar, sekolah di sana masih banyak sekali anak-anak yang belum menikmati pendidikan seperti di luar Papua. Sepatu, tas, bahkan pakaian seragam pun masih banyak yang tidak punya,” kata Yusup.
Menurut Yusup, sekolah yang gratis tidak berarti seluruh kebutuhan pendidikan juga bebas biaya. “Memang sekolah itu gratis, tapi perlengkapan sekolah tetap membutuhkan biaya. Itu yang bisa jadi luput dari pandangan pemerintah,” ujarnya.

Tiga atau empat anak dalam satu meja
Sepatu hanyalah satu bagian dari persoalan di sekolah tersebut. Di dalam kelas, keterbatasan fasilitas terlihat dari jumlah anak yang harus berbagi meja. Satu meja yang seharusnya digunakan dua siswa kini ditempati tiga, bahkan empat anak.
“Masih ada yang duduk empat orang, masih ada yang duduk tiga orang, dan seharusnya mereka duduk dua,” kata Diana.
Sekolah membutuhkan ruang kelas baru, meja dan kursi tambahan. Karena lahan sekolah terbatas, pihak sekolah mengusulkan pembangunan gedung bertingkat. Menurut Diana, pemerintah daerah pernah membantu pembangunan empat pintu rumah guru dan gedung perpustakaan. Namun, untuk meja dan kursi, sekolah belum mendapat bantuan dalam beberapa tahun terakhir.
Sekolah juga mendapat Chromebook dan Smart TV dari pemerintah pusat untuk mendukung proses belajar mengajar. Tetapi perangkat tersebut menghadapi persoalan lain, yakni listrik. Listrik di Kasonaweja tidak selalu menyala. Ketika listrik padam, jaringan internet ikut terganggu.
“Kadang tidak stabil karena lampu yang kadang padam. Jadi membuat jaringan kurang bagus,” kata Diana.
Sekolah juga belum pernah menerima beasiswa untuk siswa, sejauh yang diketahui Diana. Bantuan pakaian sekolah dan alat tulis pernah diterima saat pandemi, tetapi setelah itu bantuan serupa belum kembali datang.
Bagi Diana, kebutuhan sekolah saat ini lebih mendasar daripada perangkat teknologi. “Yang sangat-sangat dibutuhkan itu adalah ruangan sekolah. Yang kedua meja kursi yang sangat-sangat terbatas bagi kami. Dan kalau bisa, rumah guru,” katanya. Sekolah juga membutuhkan komputer PC, laptop dan perangkat pendukung pembelajaran lainnya.
“Masih ada yang melihat kami”
Rumah Zakat Papua dan Yayasan Damai Aqsha berada di Kasonaweja selama tiga hari, 8-10 Agustus 2026. Selain membagikan 300 pasang sepatu dan alat tulis kepada siswa, mereka membagikan 23 paket sembako kepada warga Kampung Anggreso.
Ketua Dewan Adat Mamberamo Raya, Albert Bilasi, mengapresiasi bantuan tersebut. Menurut Albert, perhatian terhadap masyarakat pedalaman tidak selalu datang dari pusat pemerintahan. “Ketika kami luput dari perhatian masyarakat maupun pemerintah, masih ada pihak yang melihat kami,” kata Albert.
Namun, Albert juga menyampaikan kritik kepada pemerintah daerah. “Kami butuh pimpinan yang harus ada di tempat. Jangan selalu keluar daerah terus,” ujarnya.
Bagi Albert, bantuan yang datang dari luar tidak serta-merta menyelesaikan persoalan pendidikan di Mamberamo Raya. Masih ada ruang kelas yang perlu dibangun, meja dan kursi yang perlu ditambah, serta anak-anak yang membutuhkan perlengkapan sekolah.
Dari 300 menjadi 1.000 pasang
Bantuan sepatu di Kasonaweja merupakan langkah awal bagi Rumah Zakat Papua. Yusup mengatakan mereka berencana menggalang 1.000 pasang sepatu untuk anak-anak di pedalaman Papua. Menurutnya, kebutuhan anak-anak tidak hanya sepatu, tetapi juga tas sekolah, seragam dan fasilitas pendidikan lainnya.
“Masih banyak sekali permasalahan di sana. Masih cukup kompleks permasalahan pendidikan di sana,” kata Yusup.
Di halaman sekolah, pembagian sepatu hampir selesai. Anak-anak yang mendapat ukuran sesuai masih sibuk mencoba sepatu mereka. Ada yang berjalan pelan, ada yang berlari kecil, sementara sebagian lainnya masih memegang sepatu karena ukurannya belum sesuai.
Mereka masih menunggu.
Di dalam bangunan kayu sekolah, meja-meja yang penuh oleh anak-anak juga masih menunggu tambahan kursi.

Di Kasonaweja, persoalan pendidikan tidak selesai ketika seorang anak akhirnya memiliki sepatu. Namun pagi itu, ketika sebagian anak meninggalkan halaman sekolah, ada sesuatu yang berbeda dari langkah mereka.
Untuk pertama kalinya, sebagian dari mereka berjalan pulang dengan sepasang sepatu di kaki.







