MIMIKA – Pemerintah Kabupaten Mimika mengambil langkah tanggap darurat guna mengatasi penurunan kualitas udara yang memburuk akibat fenomena kemarau panjang El Nino.
Tingginya polusi debu dan paparan asap pembakaran sampah serta lahan di wilayah perkotaan kini dinilai mulai mengancam kesehatan serta aktivitas warga.
Merespons laporan Kepala Distrik Mimika Baru terkait maraknya keluhan masyarakat, Bupati Mimika Johannes Rettob menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mimika untuk segera menerjunkan armada guna melakukan penyiraman di titik-titik rawan polusi debu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Johannes meminta BPBD berkoordinasi langsung dengan para kepala distrik di wilayah perkotaan, meliputi Distrik Mimika Baru, Wania, dan Kuala Kencana, guna memetakan zona sasaran penanganan.
“Koordinasikan dengan Kadistrik Miru, Wania, dan Kuala Kencana untuk menyampaikan wilayah yang memerlukan perhatian, terutama di sekitar sekolah, fasilitas kesehatan, permukiman padat, ruas dengan debu berat, serta taman yang terancam rusak,” ujar Johannes dalam instruksinya, Sabtu (12/9/2026).
Guna mempercepat pendataan laporan warga, Bagian Tata Pemerintahan (Tapem) Setda Kabupaten Mimika ditugaskan mengonsolidasikan seluruh distrik dalam memverifikasi aduan masyarakat yang masuk melalui saluran layanan publik “LAPOR KAKA MIRU”.
Johannes menegaskan bahwa penanganan polusi udara dan potensi kebakaran ini tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan kolaborasi lintas sektor yang mencakup BPBD, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Disperindag, Dinas Kesehatan, hingga pengelola taman dan aktivitas pembukaan lahan pertanian.
Di sisi lain, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Mimika diperintahkan untuk memperketat imbauan publik guna memutus kebiasaan warga yang memperburuk kualitas udara selama musim kering.
“Dinas Kominfo untuk terus memperkuat imbauan kepada masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar selama musim kering, karena dapat memperburuk kualitas udara sekaligus meningkatkan risiko kebakaran,” tegas Johannes.
Langkah terpadu ini diharapkan dapat menekan laju polusi udara sekaligus meminimalisasi potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Mimika selama puncak musim kemarau.










