NABIRE – Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Papua Tengah 2026 menjadi panggung bagi generasi muda untuk menunjukkan identitas budaya sekaligus mengembangkan prestasi.
Melalui ajang ini, pelajar dari delapan kabupaten mendapat ruang memperkenalkan kekayaan budaya daerah masing-masing kepada masyarakat
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nurhaidah, saat menjadi narasumber dalam sebuah podcast di Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Papua Tengah di Lapangan Bandara Lama Nabire, Sabtu (27/6/2026) sore.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Nurhaidah, penyelenggaraan festival yang kini memasuki tahun kedua berangkat dari komitmen pemerintah untuk menjaga warisan budaya Papua Tengah melalui generasi muda.
“Budaya adalah warisan yang menjadi identitas suatu daerah. Papua Tengah memiliki kekayaan budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus. Mereka nantinya yang akan melestarikan nilai-nilai budaya di daerahnya masing-masing,” ujarnya.
Ia mengatakan, festival ini menjadi wadah bagi pelajar dari delapan kabupaten untuk memperkenalkan keunikan budaya masing-masing sekaligus menunjukkan bakat dan prestasi yang dimiliki.
Lebih jauh, pemerintah berharap budaya Papua Tengah dapat dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga hingga mancanegara.
“Kami ingin budaya Papua Tengah semakin dikenal. Festival ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan prestasi sekaligus memperkenalkan budaya dari daerah mereka masing-masing,” katanya.
Tidak hanya menghadirkan perlombaan seni budaya seperti tari, musik, dan bertutur cerita rakyat, festival juga dipadukan dengan lomba cerdas cermat. Menurut Nurhaidah, hal itu dilakukan untuk memberi ruang yang sama bagi pelajar yang memiliki keunggulan di bidang akademik.
“Setiap anak memiliki bakat yang berbeda. Ada yang unggul di seni, ada yang berprestasi di akademik, bahkan di olahraga. Karena itu kami menghadirkan ruang agar semua potensi mereka bisa berkembang,” jelasnya.
Ia menambahkan, perpaduan berbagai cabang lomba juga menjadi sarana memperkuat persatuan antarpelajar dari delapan kabupaten di Papua Tengah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kebersamaan itu indah. Papua Tengah adalah rumah kita bersama. Tidak ada perbedaan gunung atau pantai, kita semua satu,” tuturnya.
Nurhaidah mengaku bangga melihat antusiasme peserta yang dinilai meningkat dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Menurutnya, para pelajar kini tampil lebih percaya diri, ekspresif, dan berani menunjukkan identitas budaya mereka di tengah derasnya arus teknologi informasi.
“Anak-anak lebih aktif, lebih berani, dan tidak malu menunjukkan jati diri melalui budaya mereka. Ini menjadi harapan besar bahwa Papua Tengah akan semakin maju dari berbagai sisi,” ujarnya.
Terkait pembinaan para juara, Nurhaidah menjelaskan Pemerintah Provinsi Papua Tengah telah menyiapkan uang pembinaan.
Namun, pembinaan berkelanjutan tetap memerlukan dukungan pemerintah kabupaten karena para pelajar berada dalam kewenangan masing-masing daerah.
Ia berharap dinas pendidikan kabupaten memberikan pendampingan yang serius agar para juara siap ketika mewakili Papua Tengah pada ajang yang lebih tinggi.
“Kalau kabupaten memberikan pembinaan yang serius kepada anak-anak yang menang, kami di provinsi siap membawa mereka ke tingkat berikutnya. Tetapi keberhasilannya harus didukung bersama,” tegasnya.
Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Papua Tengah 2026 sendiri digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah sebagai ajang pengembangan karakter, pelestarian budaya, sekaligus penguatan prestasi pelajar. U
Selama empat hari pelaksanaan, ratusan peserta dari delapan kabupaten mengikuti berbagai perlombaan seni budaya dan akademik yang berpuncak pada penutupan festival di Lapangan Bandara Lama Nabire.








