MIMIKA — Proses perdamaian pascakonflik komunal bertahun-tahun di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kembali diuji.
Seorang pria berinisial GMU ditemukan tewas mengenaskan dengan puluhan anak panah menancap di sekujur tubuhnya di Kelurahan Harapan, Sabtu malam, 1 Agustus 2026.
Peristiwa berdarah ini terjadi di lahan bekas area bentrokan antara dua kelompok warga yang baru saja menyepakati moratorium perang suku, yakni kubu Dang dan kubu Newegalen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepolisian Resor Mimika menegaskan tidak akan menoleransi aksi main hakim sendiri yang berpotensi memantik kembali siklus kekerasan di wilayah tersebut.
Kapolres Mimika, AKBP Alredo Agustinus Rumbiak, memastikan aparat kepolisian tengah memburu seluruh pelaku penyerangan untuk diproses secara hukum.
“Untuk Kwamki Narama, saya tidak negosiasi-negosiasi, saya akan tangkap pelakunya, saya tidak ada toleransi masalah pembunuhan,” tegas Alredo kepada wartawan, Senin, 3 Agustus 2026.
Kronologi dan Pemicu Insiden
Insiden maut ini berawal pada Sabtu sekitar pukul 18.00 WIT. Berdasarkan hasil penyelidikan awal polisi, korban GMU diduga masuk ke kawasan pemukiman warga dalam kondisi terpengaruh minuman keras sembari mengayunkan senjata tajam.
Tindakan korban memicu kepanikan warga setempat. Merasa terancam, sejumlah orang merespons dengan menyerahkan serangan balasan menggunakan busur dan anak panah hingga korban meregang nyawa di lokasi kejadian.
Polsek Kwamki Narama yang menerima laporan sekitar pukul 19.00 WIT langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengevakuasi jasad korban ke rumah sakit.
Alredo menegaskan bahwa alasan ancaman maupun pengaruh alkohol tidak bisa menjadi pembenar atas tindakan pembunuhan massal tersebut.
Memutus Siklus Dendam Komunal
Aparat kepolisian kini memfokuskan upaya untuk memutus tradisi balas dendam yang kerap membayangi konflik komunal di Mimika. Polisi mengimbau keluarga dan kelompok korban agar menahan diri dan menyerahkan penanganan perkara sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.
“Saya akan tangkap semua pelakunya, saya minta masyarakat di pihak korban jangan mengambil tindakan sendiri, sudah terlalu lama mereka berperang, harus percayakan kepada kami polisi,” kata Alredo.
Menurut Alredo, penegakan hukum secara tegas tanpa pandang bulu menjadi syarat mutlak untuk menjaga stabilitas keamanan di Kwamki Narama yang baru saja berangsur kondusif.
Ia menekankan pentingnya pergeseran norma sosial menuju kepatuhan hukum modern guna menghentikan lingkaran setan konflik antarkelompok di Papua.
“Manusia mau berkembang harus berubah, tidak bisa lagi… saya selaku Kapolres saya tegaskan saya akan tangkap pelaku itu,” ujarnya.
Guna mengantisipasi eskalasi susulan, Tim Khusus Polres Mimika telah disiagakan dan diterjunkan ke Distrik Kwamki Narama untuk menyisir para pelaku sekaligus memastikan situasi keamanan tetap terkendali.







