Mince Pakage dan Noken Agya: Menenun Kasih, Merajut Warisan dari Hutan Papua

Endy Langobelen

Senin, 20 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

i

Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

MIMIKA — Di bawah terik matahari Sabtu (18/10/2025) siang, halaman GOR Futsal Mimika tampak ramai oleh deretan stan pelaku UMKM lokal.

Di antara tumpukan noken, aroma kulit kayu, hingga gelantungan asesoris warna-warni, seorang perempuan duduk tenang di kursi plastik hijau. Tangannya lincah bergerak, seolah memiliki irama sendiri.

Ia adalah Mince Pakage, pengrajin noken asal pegunungan Papua Tengah, yang menamai setiap karyanya dengan satu kata sakral: Agya.

“Agya itu artinya noken dalam bahasa kami, orang Suku Mee di pegunungan Papua Tengah,” katanya menjelaskan sambil tersenyum, matanya menatap hasil rajutannya dengan bangga. “Saya mau angkat kembali nama itu, supaya terkenal. Itu warisan dari nenek moyang kami.”

Noken Lebih dari Sekadar Tas

Bagi sebagian orang, noken mungkin hanya sebuah tas rajut khas Papua. Namun bagi Mince, noken adalah bahasa cinta.

“Kalau engkau tidak punya noken, berarti engkau tidak punya kasih. Tidak pernah berdamai antara sesama,” ujarnya pelan, seolah mengulang ajaran lama yang diwariskan para leluhur.

Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Noken bukan hanya benda pakai — ia adalah simbol kehidupan. Di dalamnya, para mama Papua menaruh hasil bumi, membawa bayi mereka, atau memikul harapan keluarga.

“Orang bilang kalau bawa noken itu kelihatan jorok,” kata Mince, “tapi bagi kami itu tanda kasih, tanda cinta terhadap anak, terhadap suami, terhadap orang lain.”

Rajutan yang Mengajarkan Kesabaran

Mince tumbuh di lingkungan yang sederhana, di mana keterampilan merajut bukanlah pilihan, melainkan warisan.

“Mama dulu rajut-rajut noken sambil duduk, kami anak-anak duduk di samping, lihat, lalu ikut. Jadi, dari kecil sudah terbiasa,” kenangnya.

Kini, di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, ia melanjutkan tradisi itu sambil memperluas cakrawalanya.

Dari noken kulit kayu, noken anggrek, hingga produk turunan seperti anting, bando, kalung, gelang, bahkan baju rajut. Semua ia buat dengan tangan, satu demi satu, tanpa mesin.

Baca Juga :  Aksi di Jayapura: KNPB Minta Pemerintah Tutup Freeport dan Beri Hak Referendum Papua

“Kalau dari benang pabrik, sehari bisa jadi,” katanya, “tapi kalau dari kulit kayu, dua hari, bahkan lebih. Harus sabar. Semua pakai tenaga. Ambil bahan di hutan, pintal manual, rajut pelan-pelan. Tidak bisa buru-buru.”

Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Proses panjang itu membuat noken kulit kayu dan noken anggrek bernilai tinggi. Beberapa bahkan bisa mencapai harga jutaan rupiah.

“Itu bukan mahal, karena yang dijual bukan cuma barang, tapi tenaga, waktu, dan kesabaran.” ujarnya.

Warisan dari Hutan

Di balik keindahan Noken Agya, tersimpan hubungan mendalam antara manusia dan alam. Bahan utama noken — kulit kayu genemo, mani, dan anggrek hutan — hanya bisa ditemukan di lokasi tertentu.

“Tidak semua pohon bisa dipakai. Hanya pohon-pohon tertentu di rawa atau di gunung,” jelas Mince.

Oleh karena itu, ketika hutan-hutan mulai ditebang demi proyek pembangunan, hati Mince ikut waswas. “Kalau proyek di hutan itu tidak menghasilkan tapi merugikan, lebih baik dibatasi,” tandasnnya.

“Kalau pohon-pohon habis, nanti kami ambil bahan dari mana? Noken ini sudah diakui UNESCO. Kalau hutan hilang, mau bagaimana generasi nanti bisa buat noken lagi?”

Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Baginya, menjaga hutan sama dengan menjaga budaya. Noken tidak akan hidup tanpa pepohonan. Dan pohon tidak akan tumbuh tanpa manusia yang mau melindunginya.

Dari Jalanan ke Sentra UMKM

Perjalanan Mince sebagai pengrajin noken tak selalu mulus. Ia memulai usahanya lebih dari sepuluh tahun lalu, berjualan di pinggir jalan Yos Sudarso, tepat di depan kantor YPMAK.

“Dulu saya duduk di pinggir jalan, panas, noken luntur kena matahari. Tapi tetap jual, karena itu penghidupan saya,” kenangnya.

Baca Juga :  Wakili Papua Tengah, 2 Anggota TIFA Creative Ikut Ajang PPKN di Jakarta

Kini, ia sudah menempati tempat yang lebih layak — Sentra UMKM Kabupaten Mimika, hasil program Dinas Koperasi setempat.

Di sana, ia bisa memajang Noken Agya dengan bangga, dan melayani pelanggan yang datang dari berbagai daerah.

Jika pengunjung tak sempat datang langsung, mereka bisa menemukan produknya di berbagai platform daring: Shopee (Noken Kreatif Minjepage), TikTok Shop (Kreatif Rajutan Minjepage), dan Facebook/Instagram: Mince Pakage Pakage Pakage.

“Kalau minat, hubungi saja saya,” ujarnya menutup dengan senyum hangat. “Cintailah Noken Agya, berkat akan melimpah.”

Membangkitkan Generasi Penerus

Namun di balik semangat itu, Mince menyimpan satu kekhawatiran besar: regenerasi. “Anak-anak muda sekarang tidak banyak yang mau belajar,” katanya.

“Kalau tidak ada pembeli, tidak ada semangat. Tapi kalau ada yang pesan, mereka semangat bantu. Jadi saya mau bangkitkan anak-anak muda supaya ikut bikin,” imbuhnya.

Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Mince Pakage, pengrajin noken di Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Mince percaya, jika noken bisa menembus pasar luar Papua, bahkan dunia, maka kebanggaan itu akan tumbuh kembali di dada anak-anak muda Papua.

“Kalau sudah terkenal sampai ke luar negeri, mereka akan lihat ini bukan barang kampungan. Ini kebanggaan kita,” ujarnya.

Menganyam Masa Depan

Di akhir wawancara, Mince menatap noken yang belum selesai dirajut. Jari-jarinya berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil.

“Kalau kita buat noken, kita harus tenang. Tidak boleh marah-marah, tidak boleh terburu-buru. Kalau hati rusuh, hasilnya tidak bagus.”

Mungkin di situlah rahasia noken: ia bukan sekadar kerajinan tangan, tapi juga latihan jiwa. Di setiap simpul benang, ada kesabaran. Di setiap helai kulit kayu, ada kisah hutan. Dan di setiap noken Agya, ada kasih yang ditenun oleh seorang perempuan Papua — untuk dunia.

Sebagai informasi, noken adalah tas rajut tradisional masyarakat Papua yang telah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity sejak 2022.

Noken terbuat dari serat alami kulit kayu, noken melambangkan kedamaian, kerja keras, dan kasih sayang.

Noken digunakan untuk membawa hasil bumi, menggendong anak, dan kini berkembang menjadi ikon budaya yang menembus batas mode dan seni kontemporer.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Film “Teman Tegar Maira”, Suara Lirih Papua di Tengah Ancaman Deforestasi
Era Modern dan Peran Generasi Muda Lestarikan Budaya Kamoro
‘Tabola Bale’ Meledak di AMI Awards 2025: Lagu Cinta dari Timur yang Taklukan Panggung Nasional
Ratusan Pelajar Mimika Ikut Pembinaan Kesenian, Perkuat Pelestarian Budaya Lokal
Gelar Rapat Kerja, Dekranasda Kabupaten Mimika: Produk Budaya Lokal Harus Berdaya Saing
Hadir di TIFA 2025, Kabupaten Deiyai Raih 3 Nominasi Terbaik
Elpama Prison dan Skena Hip Hop di Balik Jeruji Besi
PTFI Hadirkan Seniman Kamoro di Festival Noken Tanah Papua 2024 di Jakarta

Berita Terkait

Sabtu, 17 Januari 2026 - 04:15 WIT

Film “Teman Tegar Maira”, Suara Lirih Papua di Tengah Ancaman Deforestasi

Rabu, 26 November 2025 - 01:33 WIT

Era Modern dan Peran Generasi Muda Lestarikan Budaya Kamoro

Kamis, 20 November 2025 - 09:14 WIT

‘Tabola Bale’ Meledak di AMI Awards 2025: Lagu Cinta dari Timur yang Taklukan Panggung Nasional

Senin, 17 November 2025 - 20:28 WIT

Ratusan Pelajar Mimika Ikut Pembinaan Kesenian, Perkuat Pelestarian Budaya Lokal

Senin, 20 Oktober 2025 - 07:43 WIT

Mince Pakage dan Noken Agya: Menenun Kasih, Merajut Warisan dari Hutan Papua

Berita Terbaru

Solidaritas Merauke melakukan aksi spontan pada saat pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, Jumat (30/1/2026). (Foto: Istimewa/Solidaritas Merauke)

Suara

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:32 WIT