WAMENA – Sebuah Pondok Natal unik hadir di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Berbeda dari pondok Natal pada umumnya, instalasi bertajuk “Honai Suka Cita” ini menampilkan potret persoalan kemanusiaan dan lingkungan yang masih membelit Tanah Papua.
Karya tersebut menjadi sorotan publik setelah videonya diunggah akun Facebook Matinus Kogoya. Dalam video berdurasi hampir tiga menit itu, pengunjung diajak menyusuri rangkaian simbol yang merepresentasikan realitas Papua hari ini—dari konflik bersenjata hingga kerusakan lingkungan.
Salah satu instalasi yang paling mencolok adalah kolam air mancur berwarna merah, simbol implisit pertumpahan darah yang kerap terjadi di Papua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sudut lain, terdapat “penjara pengungsi” yang menggambarkan kondisi ribuan warga yang terpaksa mengungsi akibat konflik berkepanjangan.
Pesan kritik juga disampaikan melalui tulisan-tulisan yang dipasang terbalik, seperti “Pembunuhan”, “Perang Suku”, “Rasis”, “HIV/AIDS”, “Korup”, “Begal”, “Deforestasi”, “Narkoba”, hingga “Aborsi”.
Penempatan terbalik itu dimaknai sebagai keadaan yang “tidak beres” dan perlu dibenahi bersama.

Tak hanya itu, panggung pengungsi turut dihadirkan dengan backdrop lukisan perlawanan masyarakat adat di Merauke terhadap Proyek Strategis Nasional.
Lukisan tersebut memuat pesan tegas, “Selamatkan hutan adat Papua”, menyoroti ancaman deforestasi dan konflik agraria.
Pondok Natal Honai Suka Cita diketahui sedang diikutkan dalam lomba pondok Natal tingkat daerah. Namun lebih dari sekadar kompetisi, karya ini menjadi medium refleksi sosial dan seruan damai.
Dalam video tersebut, seorang pria yang diwawancarai menegaskan makna Natal sebagai kedamaian.

Ia menyebut, Natal seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk hidup tanpa diskriminasi, intimidasi, dan teror.
“Untuk hari ini di Wamena, hari ini kita berbicara tentang Natal, maka Natal itu adalah kedamaian. Artinya manusia itu harus hidup damai tanpa diskriminasi, intimidasi, dan diteror oleh siapa pun,” ujarnya.
“Karena Tuhan sudah menciptakan manusia untuk hidup aman, nyaman, di hidup di tanah yang aman begitu,” imbuhnya.
Menurutnya, kondisi Papua tidak bisa disamakan dengan daerah lain karena situasi sosial dan keamanan yang berbeda.

Ia pun mengapresiasi instalasi ini karena dinilai jujur menampilkan keadaan yang sedang dirasakan masyarakat Papua.
“Saya sangat mengapresiasi pondok ini karena pondok ini menunjukkan keadaan dan situasi Papua yang saat ini sedang dirasakan. Dan itu memang sangat luar biasa. Teman-teman top,” tuturnya.
Melalui bahasa seni yang kuat dan simbolik, Honai Suka Cita menghadirkan pesan Natal yang kontekstual: ajakan berdamai, pengakuan atas luka, dan harapan akan keadilan serta keselamatan bagi seluruh warga Papua.


























