MIMIKA — Aparat keamanan gabungan TNI-Polri akan terus disiagakan di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, hingga seluruh rangkaian ritual adat perdamaian konflik antarkelompok masyarakat selesai dilaksanakan.
Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman mengatakan, pengamanan dilakukan untuk memastikan situasi tetap kondusif menjelang dan selama pelaksanaan ritual adat perdamaian antara kelompok Dang dan Newegalen.
“Kita tetap mensiagakan personel kita di sana sampai dengan hari H, kemudian kita melakukan patroli dialogis, kemudian menempatkan anggota di pos-pos yang sudah kita tentukan,” kata AKBP Billy saat ditemui wartawan di Pendopo, SP3, Mimika, Papua Tengah, Jumat (9/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ritual adat perdamaian yang diharapkan menjadi penanda berakhirnya konflik tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin, 12 Januari 2026, pada pagi hari.
Menjelang agenda adat tersebut, Kapolres Mimika mengimbau masyarakat di sekitar lokasi agar tidak membawa senjata tajam maupun benda lain yang berpotensi memicu gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Ia juga meminta agar warga yang masih membawa senjata tajam untuk secara sukarela menyerahkannya kepada aparat keamanan yang berjaga di sekitar lokasi, serta tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Sementara itu, berdasarkan kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan antara kedua kubu yang berkonflik dan aparat keamanan, disepakati bahwa apabila terjadi kembali konflik serupa, penyelesaiannya tidak langsung melalui proses hukum, melainkan melalui mekanisme pembinaan.
Namun demikian, aparat keamanan menegaskan bahwa setiap tindak pidana di luar kesepakatan tersebut tetap akan diproses sesuai dengan hukum positif yang berlaku.








