Penjelasan Lengkap Persoalan Ruang Privat Pastoran Dimasuki TNI di Mimika

Endy Langobelen

Rabu, 29 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertemuan antara pihak Kodim 1710 Mimika bersama Pastor Amandus Rahadat, Pr., beserta pihak Keuskupan Timika di Aula Bobaigo, Keuskupan Timika, Rabu (29/4/2026). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Pertemuan antara pihak Kodim 1710 Mimika bersama Pastor Amandus Rahadat, Pr., beserta pihak Keuskupan Timika di Aula Bobaigo, Keuskupan Timika, Rabu (29/4/2026). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

MIMIKA — Pernyataan Pastor Amandus Rahadat, Pr., di akhir misa Minggu (26/4/2026) pagi di Gereja Katedral Tiga Raja Timika memicu perhatian luas.

Pastor yang selama ini dikenal vokal menyuarakan isu kemanusiaan di Papua itu secara terbuka mengungkapkan kegelisahannya setelah beberapa anggota TNI memasuki ruang privat pastoran saat kunjungan Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, ke Mimika, Papua Tengah.

Menurut Pastor Amandus, sejumlah prajurit berseragam loreng masuk tanpa koordinasi, tanpa permisi, bahkan hingga ke ruang tidur para pastor. Ia menyampaikan keberatannya secara langsung kepada umat dalam ritus penutup misa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hari waktu wakil presiden datang, ada beberapa tentara. Saya perhatikan pangkatnya, ada praka, ada pratu, ada prada. Mereka datang, sangat mengherankan. Mereka langsung naik ke ruang privat para pastor. Itu ruang tidur,” ujar Pastor Amandus di hadapan umat.

Pastor Amandus mengatakan dirinya sebenarnya marah atas kejadian itu, tetapi memilih menyampaikannya sebagai peringatan agar tidak terulang.

“Ini terakhir ya, bapak-bapak tentara tidak boleh lagi semacam ini. Kau menghargai, itu ruang privat, baru kau naik ke atas, periksa-periksa. Emangnya kami ini teroris? Atau anda pikir pastor menyimpan OPM di pastoran ini kah? Terlalu. Sangat terlalu. Tidak boleh lagi,” tegasnya.

Pastor Amandus Rahadat, Pr., menyampaikan pengumuman di akhir misa Minggu (26/4/2026) pagi di Gereja Katedral Tiga Raja Timika. (Foto: Tangkapan layar di YouTube Multimedia Tiga Raja Timika)
Pastor Amandus Rahadat, Pr., menyampaikan pengumuman di akhir misa Minggu (26/4/2026) pagi di Gereja Katedral Tiga Raja Timika. (Foto: Tangkapan layar di YouTube Multimedia Tiga Raja Timika)

Ia juga menyinggung adanya orang-orang tak dikenal yang disebut sering hadir saat misa, berdiri di sudut tersembunyi, serta merekam dan memotret jalannya ibadah, termasuk ketika Uskup memimpin misa.

“Menurut kesaksian THS-THM, orang-orang itu berdiri di tempat yang seperti tersembunyi dan dia foto-foto. Saat Uskup pimpin, mereka rekam dan foto Bapak Uskup,” ungkapnya.

Pastor Amandus menegaskan, gereja bukan ruang intimidasi. Jika aparat membutuhkan komunikasi, menurutnya, seharusnya dilakukan secara terbuka dan prosedural.

“Kalau perlu dengan pastor, saya ada nomor telepon. Panggil. Panggil ke kantormu dan kita bicara. Dan tidak boleh datang semacam intimidasi. Tidak boleh,” tandasnya.

Ia bahkan mengingatkan bahwa tugas pastor adalah menjaga wilayah moral: keadilan, kebenaran, dan kejujuran.

“Kalau kau melakukan tugas militermu dengan baik, Gereja akan menghargai dan menghormatimu. Tapi kalau terjadi hal-hal yang di luar prosedur, minta maaf, sebagai nabi, pastor akan bicara. Dan kau jangan marah.”

Baca Juga :  Sampah Petasan Cemari Timika Usai Tahun Baru, DLH Catat 100 Ton Limbah dalam Dua Hari

Narasi “Interogasi” Beredar di Facebook

Beberapa hari setelah pernyataan itu, tepatnya Selasa (28/4/2026), sejumlah anggota TNI dari Kodim 1710/Mimika datang ke Pastoran untuk menemui Pastor Amandus dan meminta penjelasan lebih lanjut terkait peristiwa tersebut.

Pertemuan itu berlangsung baik. Namun, ada pihak lain yang diam-diam memotret rombongan TNI saat memasuki halaman Gereja Katedral Tiga Raja, lalu mengunggahnya ke Facebook dengan narasi bahwa aparat datang untuk “menginterogasi” Pastor Amandus.

Foto yang diambil secara diam-diam dan disebarkan di sosial media dengan narasi yang keliru. (Foto: unggahan di Facebook)
Foto yang diambil secara diam-diam dan disebarkan di sosial media dengan narasi yang keliru. (Foto: unggahan di Facebook)

Narasi yang beredar berbunyi, “Aparat TNI Kodim Mimika memasuki area Gereja Katedral – Pastoran Tiga Raja Timika untuk menginterogasi Bapa Pastor Amandus, Pr. selaku Pastor Paroki Tiga Raja, Keuskupan Timika Papua Tengah. Mohon pantauan seluruh umat.”

Narasi itu kemudian menyebar dan bahkan dimuat oleh salah satu media tanpa konfirmasi kepada pihak terkait.

Melihat hal itu, Pastor Amandus kemudian memberikan klarifikasi melalui akun Facebook pribadinya. Ia menegaskan bahwa rombongan yang datang dipimpin oleh Kepala Staf Kodim 1710/Mimika, Mayor Inf Abdul Munir, dan tidak melakukan interogasi.

“Yang datang ke Pastoran pada hari Senin tanggal 27 April 2026 adalah rombongan yang dipimpin oleh Bapak Kasdim,” tulisnya.

Ia menjelaskan bahwa kedatangan mereka merupakan tindak lanjut dari perintah Pangdam kepada Dandim, yang kemudian diwakili Kasdim karena Dandim sedang berada di Jakarta.

Pihak Kodim 1710 Mimika mengunjungi Pastor Amandus Rahadat, Pr., untuk menanyakan lebih lanjut informasi terkait penyampaian pastor di Gereja Katedral Tiga Raja
Pihak Kodim 1710 Mimika mengunjungi Pastor Amandus Rahadat, Pr., untuk menanyakan lebih lanjut informasi terkait penyampaian pastor di Gereja Katedral Tiga Raja

Menurut Pastor Amandus, tujuan utama kunjungan itu adalah meminta informasi mengenai anggota yang masuk ke pastoran saat kunjungan wapres.

“Bukan Menginterogasi tetapi minta informasi: apakah prajurit yang datang itu bepakaian sipil atau berpakaian dinas militer/loreng.”

Ia menjawab bahwa para prajurit saat itu mengenakan seragam loreng.

Kasdim, lanjut Pastor Amandus, juga menegaskan bahwa jika benar demikian, maka anggota tersebut telah melakukan kesalahan prosedur.

“Kasdim menegaskan bahwa kalau benar seperti itu maka prajuritnya sudah salah karena mereka yang berpakaian loreng itu posisinya menjaga Keamanan di Jalan Raya, bukan masuk dalam rumah (Pastoran) dan lagi mereka harus membawa Surat Tugas dari atasan, khususnya dalam kasus penggeledahan!!”

Baca Juga :  Bentrok Antarpemuda Pecah di Gorong-Gorong Timika

Di akhir pertemuan itu, menurut Pastor Amandus, Kasdim menyampaikan permintaan maaf atas nama Dandim dan Pangdam.

“Kasdim atas nama Dandim Dan Pagdam, mohon maaf atas kesalahan Anggota dan pastor Ben menanggapi: jangan mengulangi lagi kesalahan ini,” tulis Pastor Amandus dalam unggahannya.

Pertemuan Kedua dan Permintaan Maaf Langsung

Pada Rabu (29/4/2026), pihak Kodim 1710/Mimika kembali datang ke Keuskupan Timika, masih dipimpin langsung Kepala Staf Kodim 1710/Mimika, Mayor Inf Abdul Munir. Mereka datang bersama lima anggota TNI yang sebelumnya masuk ke ruang privat pastor.

Mereka pun menemui Pastor Amandus dan jajaran Keuskupan Timika untuk mediasi serta penyampaian permintaan maaf secara langsung.

Pertemuan antara pihak Kodim 1710 Mimika bersama Pastor Amandus Rahadat, Pr., beserta pihak Keuskupan Timika di Aula Bobaigo, Keuskupan Timika, Rabu (29/4/2026). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Pertemuan antara pihak Kodim 1710 Mimika bersama Pastor Amandus Rahadat, Pr., beserta pihak Keuskupan Timika di Aula Bobaigo, Keuskupan Timika, Rabu (29/4/2026). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Usai pertemuan di Ruang Bobaigo, Keuskupan Timika, Kasdim menjelaskan bahwa TNI telah melakukan investigasi internal setelah menerima foto dari Pastor Amandus.

“Hari ini kita hadirkan mereka, menyampaikan permohonan maaf kepada Bapak Pastor ataupun di Katedral Tiga Raja dengan kejadian kemarin,” ujar Kasdim.

Ia mengakui terdapat kesalahan prosedur dan “over semangat” dari anggota.

“Intinya hasil investigasi itu ada over semangat dari anggota yang tidak seharusnya seperti itu. Jadi dia titik pengamannya tidak seharusnya seperti itu. Tetapi karena over semangat, dia sampai ke atas, tidak seharusnya seperti itu,” jelasnya.

Selain itu, ia menyebut ada miskomunikasi dan kelalaian dalam etika dasar. “Harusnya kalau orang Jawa bilang kulonuwun, minta permisi, sebagainya. Harusnya prosedur yang seperti itu tapi itu tidak dilaksanakan sehingga terjadi miskomunikasi.”

Kasdim juga membantah bahwa kedatangan aparat itu berkaitan dengan kotbah-kotbah Pastor Amandus yang selama ini kritis terhadap situasi Papua.

“Tidak ada sama sekali, itu hanya karena ketidaktahuannya anggota itu tentang prosedural itu tadi.”

Kepala Staf Kodim 1710/Mimika, Mayor Inf Abdul Munir. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)
Kepala Staf Kodim 1710/Mimika, Mayor Inf Abdul Munir. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Ia menegaskan bahwa TNI menghormati rumah ibadah dan menyebut tindakan anggota tersebut murni kesalahan personal, bukan instruksi institusi.

“TNI pada dasarnya sangat menjunjung tinggi dan menghormati rumah keagamaan, tempat-tempat ibadah. Walaupun mungkin ada kemarin kesalahan anggota, itu murni dari mereka sendiri,” tegasnya.

Terkait narasi yang berkembang di media sosial soal intimidasi dan interogasi, Kasdim menyebutnya sebagai informasi yang tidak sesuai fakta.

“Kami difoto dari arah belakang dan narasinya yang sangat menyimpang itu seakan-akan kami melakukan intimidasi, melaksanakan interogasi kepada Bapak Pastor dan itu tidak benar adanya,” terangnya.

“Dan Bapak Pastor sudah mengonter itu, sudah menyampaikan. Itu pun tidak ada paksaan dari kami. Bapak Pastor sendiri lakukan setelah membaca itu ternyata tidak sesuai dengan kenyataan apa yang kami laksanakan bersama Bapak Pastor dengan yang diberitakan dari media sosial,” pungkasnya.

Kasdim juga mengimbau kepada masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak serta merta menyebarkan informasi yang belum diketahui secara pasti kebenarannya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OPM Bertanggung Jawab Atas Penembakan di Dekai, Minta Pendatang Keluar dari Yahukimo
Seorang Warga Sipil Ditembak di Yahukimo, Kritis dan Dirujuk ke Jayapura
Hujan Lebat di Tembagapura: Jalan Putus, Longsor Ancam RS Waa Banti
Bentrok Antarpemuda Pecah di Gorong-Gorong Timika
Tawuran Pemuda di Jalan Yos Sudarso Mimika Lumpuhkan Akses ke Nawaripi
Kremasi Jenazah di Kwamki Narama Diwarnai Ketegangan, Aparat Sempat Diserang
Dogiyai Memanas: Aparat dan Warga Sipil Tewas, Koalisi HAM Desak Hentikan Operasi
Pria Ditemukan Tewas di Trans Timika–Nabire, Diduga Kecelakaan Tunggal

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 23:09 WIT

Penjelasan Lengkap Persoalan Ruang Privat Pastoran Dimasuki TNI di Mimika

Senin, 27 April 2026 - 23:57 WIT

OPM Bertanggung Jawab Atas Penembakan di Dekai, Minta Pendatang Keluar dari Yahukimo

Senin, 27 April 2026 - 22:56 WIT

Seorang Warga Sipil Ditembak di Yahukimo, Kritis dan Dirujuk ke Jayapura

Senin, 27 April 2026 - 18:21 WIT

Hujan Lebat di Tembagapura: Jalan Putus, Longsor Ancam RS Waa Banti

Sabtu, 25 April 2026 - 23:59 WIT

Bentrok Antarpemuda Pecah di Gorong-Gorong Timika

Berita Terbaru

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Mimika, Yoga Pribadi, usai mengikuti kegiatan konsultasi publik pendahuluan di Ruang Rapat Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Jalan SP3. (Foto: Galeri Papua/Kevin Kurni)

Pemerintahan

Pemkab Mimika Percepat Raperda Perumda Air Minum dan Limbah

Kamis, 30 Apr 2026 - 00:50 WIT

Suasana pemaparan materi dalam sosialisasi nikah, talak, dan rujuk di Multipurpose Room Grand Tembaga Hotel, Rabu (29/4/2026). (Foto: Galeri Papua/Kevin Kurni)

Pemerintahan

Urgensi Ketahanan Keluarga dan Tertib Administrasi di Mimika

Rabu, 29 Apr 2026 - 17:14 WIT