Kapuspen TNI Sebut Pengungsian di Intan Jaya karena Propaganda OPM

Endy Langobelen

Kamis, 22 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kapuspen TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Kapuspen TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

INTAN JAYA – Sejumlah warga masyarakat dari beberapa kampung di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, telah meninggalkan rumahnya untuk mengungsi menyelamatkan diri dari konflik bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) dan militer Indonesia.

Pengungsian besar-besaran itu terjadi setelah adanya operasi penyerangan oleh Satuan Tugas Harus Berhasil Maksimal (Satgas Habema) TNI terhadap kelompok TPNPB-OPM pimpinan Aibon Kogoya dan Undius Kogoya di Distrik Sugapa dan Hitadipa pada 13 Mei 2025 lalu.

Dilaporkan 18 orang menjadi korban dalam operasi serangan itu. TNI mengklaim seluruh korban adalah anggota TPNPB.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sedangkan TPNPB menyatakan hanya 5 anggotanya yang menjadi korban. Tiga di antaranya meninggal dunia, sementara dua orang luka-luka. Sisanya disebut korban dari warga sipil.

Beberapa waktu setelah penyerangan itu, warga masyarakat mulai bergerak mengungsi. Mereka pergi mencari perlindungan dan keselamatan atas dirinya.

Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial Facebook, terlihat masyarakat dikumpulkan dan diangkut menggunakan kendaraan roda empat. Adapun yang berjalan kaki di jalan-jalan setapak yang dikelilingi hutan pepohonan.

Baca Juga :  Sore Ini Pj Bupati Mimika Lantik Beberapa Pejabat Eselon II

Sebagian besar pengungsi juga terlihat disatukan pada satu titik tepatnya di halaman Kantor Bupati Intan Jaya.

Menanggapi persoalan ini, Kapuspen TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menegaskan bahwa pengungsian itu terjadi akibat propaganda yang kerap dilakukan oleh pihak TPNPB-OPM.

“Ya, (pengungsian) itu kan karena propaganda, hoaks yang diberikan oleh OPM kepada masyarakat. Dia menakuti-nakuti bahwa dia akan balas dendam. Bagi masyarakat yang tidak mengungsi, akan dibunuh, diintimidasi. Nanti setelah kosong kampungnya, datang dia mengambil ternak, mengambil barang-barang milik warga. Itu yang biasa dilakukan (OPM),” ujar Sianturi saat diwawancarai di Rimba Papua Hotel, Timika, Papua Tengah, Rabu (21/5/2025).

“Jadi, makanya kepada warga masyarakat jangan takut. Berikan laporan kepada pihak TNI, yakinlah bahwa TNI akan melindungi mereka dari aksi-aksi intimidasi, ancaman, atau pembunuhan seperti yang kemarin terjadi, nakes, guru juga diancam,” imbuhnya.

Menurut Sianturi, masyarakat Papua di wilayah konflik saat ini lebih mendukung pihak TNI ketimbang OPM. Hal itu terbukti dari laporan-laporan yang diberikan masyarakat kepada TNI untuk menindak OPM.

Baca Juga :  Polisi Gagalkan Peredaran 230 Liter Sopi di Pelabuhan Poumako Mimika

“Masyarakat sudah makin pintar, bisa melihat mana sih yang benar-benar mendukung untuk kesejahteraan Papua dan mana yang tidak. Toh kemarin juga hasil operasi itu atau hasil penindakan itu kita dapatkan bagian-bagian informasi dari masyarakat. Itu Karena apa? Karena masyarakat sudah mulai muak dengan aksi-aksi atau propaganda dari OPM,” tuturnya.

Lebih lanjut Sianturi memastikan pihaknya akan memberikan pengawalan dan perlindungan maksimal kepada para pengungsi.

“Ya, selagi mereka mau melaporkan kepada TNI, artinya meminta bantuan, pasti kita ikuti. Kalau dia pergi mengungsi sendiri-sendiri kan kita nggak tahu ke mana posisinya,” kata Sianturi.

“Jadi itu, bahwa mari kita bersama-sama membangun Papua, menjaga Papua. Yakin dan percaya bahwa keberadaan prajurit TNI di sini itu untuk mempercepat proses pembangunan Papua dari gangguan-gangguan tadi yang mengancam tidak berlanjutnya pembangunan,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Operasi Sikat Noken di Mimika: Polisi Sita Sabu, Tembakau Sintetis, dan Sajam
Pelajar 16 Tahun Tewas Dikeroyok di Timika, Dua Pelaku Ditangkap
LBH Tong Pu Ruang Aman Laporkan Dugaan Pemerasan Terkait Mediasi Kasus di Polres Mimika
Tukang Ojek Tewas Dibacok Penumpang di Parit Mimika, Polisi Buru Komplotan Pelaku
Kapolda Papua Tengah Pastikan Penyidikan Kasus Dana Hibah KPU Mimika Tetap Berjalan
Buru Pelaku Kriminal, Polres Mimika Gelar Operasi Sikat Noken
TNI Evakuasi Jenazah Sipil Korban Penembakan di Yahukimo
OPM Klaim Tembak 3 Mata-mata dan 1 Polisi di Yahukimo

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 20:37 WIT

Operasi Sikat Noken di Mimika: Polisi Sita Sabu, Tembakau Sintetis, dan Sajam

Rabu, 29 Juli 2026 - 21:26 WIT

Pelajar 16 Tahun Tewas Dikeroyok di Timika, Dua Pelaku Ditangkap

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:15 WIT

LBH Tong Pu Ruang Aman Laporkan Dugaan Pemerasan Terkait Mediasi Kasus di Polres Mimika

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WIT

Tukang Ojek Tewas Dibacok Penumpang di Parit Mimika, Polisi Buru Komplotan Pelaku

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:23 WIT

Kapolda Papua Tengah Pastikan Penyidikan Kasus Dana Hibah KPU Mimika Tetap Berjalan

Berita Terbaru

Anggota Bawaslu Mimika, Diana Dayme menegaskan masyarakat di Distrik Kwamki Narama harus mengawasi jalannya Pemilu disamping menggunakan hak pilih. Pesan itu disampaikan dalam Forum Diskusi Politik

Politik

Bawaslu Mimika: Politik Uang Bikin Sengsara Lima Tahun

Jumat, 31 Jul 2026 - 20:49 WIT