SOMAP: Segera Hentikan Kekerasan Militer di Papua

Ikbal Asra

Senin, 27 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang mahasiswa menyampaikan orasi saat aksi Solidaritas Mahasiswa Papua (SOMAP) di Lingkaran Abepura, Jayapura, Senin, 27 April 2026. Aksi tersebut menyoroti situasi yang mereka sebut sebagai darurat militer dan krisis kemanusiaan di Tanah Papua. Galeripapua/Ikbal Asra

Seorang mahasiswa menyampaikan orasi saat aksi Solidaritas Mahasiswa Papua (SOMAP) di Lingkaran Abepura, Jayapura, Senin, 27 April 2026. Aksi tersebut menyoroti situasi yang mereka sebut sebagai darurat militer dan krisis kemanusiaan di Tanah Papua. Galeripapua/Ikbal Asra

Jayapura,GaleriPapua – Solidaritas Mahasiswa Papua (SOMAP) menyatakan situasi di Tanah Papua telah masuk dalam kondisi darurat militer dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat. Pernyataan itu disampaikan melalui siaran tertulis pada 2026, di tengah aksi mahasiswa yang berujung pembubaran oleh aparat di Jayapura.

Penanggung jawab SOMAP, Kamus Bayage, mengatakan aksi tersebut merupakan respons atas meningkatnya kekerasan bersenjata di sejumlah wilayah sejak awal tahun ini. Ia menyebut sedikitnya enam daerah menjadi titik konflik, yakni Yahukimo, Sorong, Dogiyai, Teluk Bintuni, Tolikara, dan Puncak.

“Kami merespons kondisi dari Januari hingga April, di mana kekerasan bersenjata terus terjadi di wilayah-wilayah tersebut,” kata Kamus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam pernyataannya, SOMAP menilai pendekatan negara yang dinilai militeristik dan represif telah memicu pelanggaran HAM berulang serta berdampak luas pada warga sipil. Mereka juga menyoroti praktik eksploitasi sumber daya atas nama pembangunan dan investasi yang disebut memperburuk kondisi sosial masyarakat.

“Kami menyatakan bahwa situasi Tanah Papua masuk dalam zona darurat militer dan HAM berat,” demikian pernyataan SOMAP.

SOMAP menyebut lebih dari 103 ribu warga menjadi pengungsi internal akibat konflik bersenjata di sejumlah wilayah, antara lain Nduga, Intan Jaya, Maybrat, Yahukimo, Teluk Bintuni, Puncak, dan Pegunungan Bintang. Para pengungsi, menurut mereka, menghadapi keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar seperti pangan, layanan kesehatan, dan perlindungan.

Baca Juga :  Ratusan Liter Miras Lokas Diamankan di Pelabuhan Poumako Timika

Selain itu, laporan sejumlah lembaga gereja dan HAM disebut menemukan pola kekerasan baru, termasuk serangan udara dan pengeboman di wilayah permukiman warga. SOMAP juga menuding adanya pembunuhan di luar proses hukum terhadap warga sipil.

SOMAP mencatat hingga akhir Maret 2026 terdapat lebih dari 107 ribu warga sipil terdampak konflik bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Eskalasi operasi militer disebut memperluas dampak konflik, termasuk terganggunya akses pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi.

Pada awal 2026, SOMAP juga mencatat sejumlah insiden kekerasan, termasuk penangkapan warga sipil di Sorong serta peristiwa di Dogiyai yang dilaporkan menewaskan sejumlah orang. Mereka juga menyinggung kasus penembakan terhadap warga, termasuk anak-anak dan perempuan, serta penembakan seorang aparatur sipil negara di Yahukimo.

Di tengah aksi yang digelar di Jayapura, Kamus menyebut aparat membubarkan massa menggunakan gas air mata. Ia mengklaim sedikitnya 12 peserta aksi terdampak di sekitar kawasan Denzipur.

Selain itu, ia mengatakan sejumlah peserta aksi terkena peluru karet di depan Kampus Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ).

“Ini aksi kemanusiaan, tapi ruang kami dibungkam dan ditutupi oleh negara,” ujar Kamus. Ia juga menuding adanya upaya penutupan informasi terkait berbagai peristiwa kekerasan di Papua, meski pernyataan tersebut belum mendapat tanggapan dari pihak terkait.

Baca Juga :  Film “Teman Tegar Maira”, Suara Lirih Papua di Tengah Ancaman Deforestasi

Selain kekerasan fisik, SOMAP menyoroti meningkatnya kriminalisasi terhadap anak dan pelajar Papua. Mereka menyebut anak-anak usia 12 hingga 17 tahun ditangkap dan diinterogasi tanpa pendamping, serta diduga mengalami kekerasan.

SOMAP juga mengangkat dugaan kekerasan seksual terhadap perempuan di wilayah operasi militer yang disebut belum ditangani secara hukum.

Melalui pernyataan dan aksi tersebut, SOMAP mengajak mahasiswa, kelompok masyarakat sipil, gereja, dan berbagai elemen bangsa untuk bersuara terhadap situasi yang mereka nilai sebagai krisis kemanusiaan di Papua.

Menanggapi aksi tersebut, Kepala Kepolisian Resort Jayapura Kota, Komisaris Besar Frederickus Maclarimboen mengatakan aksi itu berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di [Kabupaten] Puncak dan kami menurunkan 1.200 personel gabungan TNI-Polri

“Kalau chaos tadi itu karena ada pelemparan kepada petugas begitupun juga di [depan kampus] USTJ dilempar juga diserang oleh massa jadi kita pasti merespons,” kata Maclarimboen.

Setelah menyampaikan pernyataan sikap, mahasiswa turut menyerahkan dokumen aspirasi “Papua Darurat Militer dan Kemanusiaan” kepada Ketua DPR Papua.

“Kami akan menindaklanjuti aspirasi kepada pemerintah pusat dalam hal ini Presiden, Panglima TNI dan Kapolri. Terima kasih,” kata Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonay didepan massa aksi.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aktivis HAM Papua: Pelemparan Bom Molotov ke Komnas HAM Bentuk Teror
Sebelum Bom Molotov, Kantor Komnas HAM Papua Pernah Diteror
Polres Mimika Musnahkan 161.37 Gram Ganja
Polisi Tetapkan 3 Tersangka atas Kasus Pembunuhan Tukang Ojek di Mimika
Kasus Sajam di Kwamki Narama: Polisi Tetapkan 4 Tersangka, 5 Dipulangkan
Kejari Mimika Musnahkan Barang Bukti dari 19 Perkara, Ada Sabu dan Uang Palsu
Rilis Video Penembakan Konvoi Freeport, OPM Klaim Bertanggung Jawab
Konflik Kwamki Narama: Polisi Tangkap 9 Pembawa Sajam, Terjerat UU Darurat

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 23:22 WIT

Aktivis HAM Papua: Pelemparan Bom Molotov ke Komnas HAM Bentuk Teror

Rabu, 9 September 2026 - 22:16 WIT

Sebelum Bom Molotov, Kantor Komnas HAM Papua Pernah Diteror

Selasa, 8 September 2026 - 15:20 WIT

Polres Mimika Musnahkan 161.37 Gram Ganja

Selasa, 8 September 2026 - 15:15 WIT

Polisi Tetapkan 3 Tersangka atas Kasus Pembunuhan Tukang Ojek di Mimika

Selasa, 8 September 2026 - 15:12 WIT

Kasus Sajam di Kwamki Narama: Polisi Tetapkan 4 Tersangka, 5 Dipulangkan

Berita Terbaru

Kepala BPBJ Mimika, Anton Pasoro. (Foto: Istimewa)

Pemerintahan

76,83 Persen Paket Proyek Mimika Didelegasikan ke BPBJ

Jumat, 11 Sep 2026 - 15:29 WIT

Tim Satuan Reskrim Polres Mimika melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dugaan pembunuhan seorang warga di area belakang Indekos Warna Warni, Jalan Kelimutu, Timika, Papua Tengah. (Foto: Istimewa)

Peristiwa

Seorang Pria Ditemukan Tewas dalam Indekos di Mimika

Kamis, 10 Sep 2026 - 15:16 WIT