MIMIKA — Upaya penanganan stunting yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan menunjukkan hasil menggembirakan sepanjang tahun 2025.
Jumlah kasus stunting tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil evaluasi Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, jumlah kasus stunting pada 2025 berada di kisaran 1.100 hingga 1.200 kasus, turun dari 1.500 kasus pada tahun 2024.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold J. Ubra, mengatakan prevalensi stunting di Mimika pada tahun 2025 berada pada angka 9 hingga 11 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 14 persen.
Menurut Reynold, stunting tidak semata-mata disebabkan oleh kekurangan gizi, melainkan merupakan persoalan multidimensi yang juga berkaitan erat dengan penyakit infeksi.
“Stunting bukan hanya soal makanan. Ada faktor lain yang saling berkaitan, salah satunya penyakit infeksi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanganan stunting di Mimika dibagi ke dalam dua pendekatan utama, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif.
Saat ini, intervensi sensitif dinilai menjadi kebutuhan paling mendesak, terutama yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih dan rumah layak huni.
Sementara itu, dari sisi intervensi spesifik, Dinas Kesehatan terus melakukan pengendalian penyakit pada ibu hamil, bayi, balita, serta anak-anak, termasuk pemberian obat cacing.
Untuk kelompok remaja putri, dilakukan pemeriksaan kesehatan di sekolah-sekolah serta pemberian tablet Fe (zat besi) guna mencegah anemia sejak dini.
Reynold menambahkan, upaya pengendalian stunting juga diperkuat melalui dukungan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara dari Dinas Kesehatan sendiri, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) diberikan secara terukur berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan, seperti lingkar lengan ibu hamil, status anemia, keputihan tinggi, serta berat badan.
“Jadi ini tidak bisa jalan masing-masing. MBG bagi saya itu bagus. Kekebalan tubuh anak sekolah itu hanya bisa ditingkatkan jika nilai asupan gizinya cukup,” kata Reynold saat ditemui, Senin (2/2/2026).
“Nah, sekarang yang menjadi persoalan asupan gizinya cukup apa tidak? Jadi kembali lagi ke dalam rumah,” imbuhnya.
Lebih lanjut, pada tahun ini Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika akan melibatkan lebih dari seribu kader posyandu yang tersebar hingga ke wilayah kampung untuk memperkuat penanganan stunting di tingkat akar rumput.
Upaya tersebut juga akan disinergikan dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mimika agar penanganan stunting dapat dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.
Reynold berharap, dengan tema pembangunan Kabupaten Mimika dari kampung ke kota, serta keterlibatan langsung Bupati dan Wakil Bupati Mimika sebagai Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting, upaya penurunan stunting dapat berjalan lebih optimal dan menyentuh langsung masyarakat.










