Pengungsi Nduga Dinilai Terabaikan, Pemerintah Diminta Bertindak Serius

Endy Langobelen

Senin, 23 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Intan Gwijangge, seorang hamba Tuhan muda asal Nduga sekaligus pemerhati kemanusiaan, mendatangi warga pengungsi di Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. (Foto: Tangkapan layar video)

Intan Gwijangge, seorang hamba Tuhan muda asal Nduga sekaligus pemerhati kemanusiaan, mendatangi warga pengungsi di Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. (Foto: Tangkapan layar video)

WAMENA – Kondisi warga pengungsi asal Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, yang tersebar di sejumlah titik di Wamena dan sekitarnya kembali menjadi sorotan.

Minimnya pemenuhan kebutuhan dasar hingga layanan kesehatan dan pendidikan yang dinilai tidak berjalan optimal memunculkan keprihatinan mendalam dari kalangan pemerhati kemanusiaan.

Intan Gwijangge, seorang hamba Tuhan muda asal Nduga sekaligus pemerhati kemanusiaan, menyampaikan langsung kondisi tersebut melalui sebuah pernyataan terbuka yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Nduga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mohon maaf, saya bicara sedikit demi nasib warga pengungsi Nduga. Saya bicara jujur di sini sesuai kajian saya di lapangan, bukan saya bicara omong kosong alias hoaks,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Galeripapua.com, Senin (23/3/2026)

Intan mengaku telah melihat langsung kondisi para pengungsi yang berada di sejumlah lokasi, seperti Muliama, Tikilmo-Welisi, dalam Kota Wamena, hingga wilayah Keneyam, Nogolaid atas dan bawah, serta daerah sekitarnya.

Ia menilai, kehadiran pemerintah belum mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat.

“Saya melihat keadaan warga kita di Muliama, Tikilmo-Welisi, dalam Kota Wamena dan sekitarnya, dan tidak hanya di Wamena tetapi di Keneyam di belakang pasar baru, Nogolaid atas dan Nogolaid bawah dan sekitarnya. Satu kebutuhan dasar pun belum dipenuhi oleh pemerintah itu sendiri walaupun sering Pemerintah Nduga kunjungi secara langsung,” ungkapnya.

Baca Juga :  Siswa SMA YPK Tabernakel di Nabire Demo Kepala Sekolah

Lebih lanjut, Intan juga menyinggung soal anggaran penanganan pengungsi yang disebut pernah disampaikan oleh Ketua DPRD Nduga pada tahun 2020.

“Tahun 2020 yang lalu saya pernah ketemu dengan Ketua DPRD Nduga dalam hal ini Bapak Ikabus Gwijangge untuk memberitahukan kondisi masyarakat. Waktu itu beliau sampaikan bahwa pemerintah telah anggarkan Rp10 miliar atas nama pengungsi. Namun, sayangnya Rp10 miliar tesebut tidak satu persen pun datang kepada masyarakat pengungsi,” tegasnya.

Menurutnya, sejak tahun 2018 hingga 2025, pemerintah daerah belum memberikan pelayanan dasar yang layak bagi para pengungsi.

Ia merinci kebutuhan mendasar yang hingga kini belum terpenuhi, yakni penerangan, akses air bersih, serta tempat tinggal yang layak.

“Sejak tahun 2018-2025 Pemerintah Nduga tidak memberikan pelayanan yang paling dasar atau kebetuhan yang paling dasar bagi masyarakat pengungsi yaitu lampu, air bersih, dan rumah yang layak,” katanya.

Selain itu, Intan juga menyoroti kondisi anak-anak pengungsi yang terlantar dari sisi pendidikan. Ia menyebut, banyak anak yang tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak selama berada di pengungsian.

Baca Juga :  Serahkan Diri, Pelaku Pembakaran Mr.X di Mimika Mengaku Hidup Tak Tenang

Tak hanya itu, ia juga menilai sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Kabupaten Nduga tidak bekerja secara maksimal dan tidak memiliki data yang jelas dalam penanganan pengungsi.

“Beberapa dinas di Kabupaten Nduga kerjanya tidak terdata dan tidak serius dalam tugas dan tanggung jawabnya yaitu Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Penanggulangan Bencana,” ujarnya.

Ia menambahkan, dampak dari lemahnya pelayanan tersebut sangat dirasakan langsung oleh masyarakat. Banyak warga yang meninggal tanpa penanganan medis, ibu melahirkan tanpa tenaga kesehatan, serta anak-anak yang kehilangan hak pendidikan.

“Karena banyak orang mati tanpa mendapatkan obat, banyak anak-anak sekolah yang sudah lanjut usia, dan banyak ibu-ibu melahirkan tanpa bantuan tenaga medis di tempat-tempat pengungsian ini. Sesungguhnya, posyandu darurat, pendidikan darurat, pos tanggap darurat harus ada di tempat-tempat pengungsian, karena kami warga Nduga statusnya masih pengungsi,” lanjutnya.

Intan berharap pemerintah dapat memberikan solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sementara seperti sembako.

“Harapan saya, ke depan pemerintah mohon berikan bantuan yang sifatnya permanen tidak hanya sembako. Karana sembako makanan itu habis dalam sehari tetapi bantuan permanen adalah beberapa kebutuhan di atas,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kepala Suku Mee Tekankan Penyelesaian Adat Sengketa Batas Kapiraya
Aksi 1.000 Lilin di Timika, Desak Pengusutan Kasus Andrie Yunus
Soroti Aksi Mogok, Pemuda Mimika Usul Petugas Sampah Diangkat Jadi PPPK
Masyarakat Distrik Konda Pasang Patok Adat, Tolak Kehadiran Sawit di Hutan Ulayat
Marga Beanal Tegaskan Larangan Pembukaan Jalur Pendakian Ilegal di Puncak Carstensz
Terima Jenazah Korban, Keluarga Eanus Mom Minta Aparat Tanggung Jawab
Keluarga Bantah Korban Operasi di Mimika Terlibat TPNPB-OPM, Minta Jenazah Segera Dipulangkan
Kepala Suku Yahukimo Minta Semua Pihak Jaga Keamanan dan Kedamaian

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 16:18 WIT

Pengungsi Nduga Dinilai Terabaikan, Pemerintah Diminta Bertindak Serius

Senin, 23 Maret 2026 - 16:13 WIT

Kepala Suku Mee Tekankan Penyelesaian Adat Sengketa Batas Kapiraya

Selasa, 17 Maret 2026 - 19:40 WIT

Aksi 1.000 Lilin di Timika, Desak Pengusutan Kasus Andrie Yunus

Senin, 9 Maret 2026 - 15:12 WIT

Soroti Aksi Mogok, Pemuda Mimika Usul Petugas Sampah Diangkat Jadi PPPK

Jumat, 6 Maret 2026 - 04:59 WIT

Masyarakat Distrik Konda Pasang Patok Adat, Tolak Kehadiran Sawit di Hutan Ulayat

Berita Terbaru

Petugas mengevakuasi jenazah korban kecelakaan tunggal di Jalan Ahmad Yani, Timika, Kabupaten Mimika, Minggu (22/3/2026) pagi. (Foto: Humas Polres Mimika)

Peristiwa

Ngebut Subuh Hari, Pengendara Motor Tewas Tabrak Pagar di Mimika

Minggu, 22 Mar 2026 - 13:32 WIT