NABIRE — Festival Cahaya Kreasi Pelajar Provinsi Papua Tengah 2026 resmi dibuka oleh Gubernur Meki Nawipa di Lapangan Bandara Lama Nabire, Rabu (24/6/2026) sore.
Ajang yang mempertemukan para pelajar dari delapan kabupaten itu menjadi panggung pelestarian budaya sekaligus wadah membangun karakter generasi muda di era digital.
Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan tifa oleh Gubernur Papua Tengah didampingi Wakil Gubernur, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak awal acara, suasana berlangsung semarak. Sebuah video singkat ditayangkan untuk menggambarkan perjuangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah yang menjangkau kampung-kampung pedalaman guna mengajak anak-anak kembali bersekolah.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Triton, sebuah tarian kolosal Papua yang mengangkat pesan tentang persatuan, kebersamaan, dan pentingnya membangun pendidikan.
Ketua Panitia, Deni Tenouye, mengatakan Festival Cahaya Kreasi Pelajar diselenggarakan sebagai upaya mendorong pengembangan potensi peserta didik sekaligus melestarikan kebudayaan asli Papua.
“Festival ini diikuti oleh delapan kabupaten, yaitu Nabire, Mimika, Paniai, Deiyai, Dogiyai, Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya,” ujar Deni.
Adapun cabang yang diperlombakan meliputi lomba tari kreasi, musik akustik lokal, pameran stan, fashion show, dan lomba bertutur cerita.
Panitia juga menyiapkan berbagai bentuk apresiasi. Juara pertama setiap lomba akan menerima hadiah Rp5 juta, juara kedua Rp3 juta, dan juara ketiga Rp2 juta. Sementara juara umum akan mendapatkan hadiah sebesar Rp25 juta.
Selain itu, tujuh kabupaten yang tidak meraih juara umum tetap akan menerima dana pembinaan sebesar Rp4 juta, sedangkan setiap peserta memperoleh uang pembinaan Rp1 juta per orang.
Dalam sambutannya, Gubernur Meki Nawipa menegaskan bahwa budaya merupakan identitas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Ia menyebut, festival tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya meletakkan fondasi bagi generasi muda untuk mengenal jati diri dan asal-usul mereka.
“Budaya ini lebih mahal dari emas dan tembaga yang kita punya hari ini. Ini menunjukkan identitas kita bahwa kita adalah orang Melanesia yang ada di atas tanah ini,” kata Meki.
Menurutnya, pelajar yang terlibat dalam festival tersebut sedang mewarisi nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Gubernur juga menitipkan dua pesan penting kepada para pelajar. Pertama, agar generasi muda mampu beradaptasi dengan era digital dan bijak menggunakan media sosial.
Ia mengajak para pelajar memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya Papua Tengah ke tingkat nasional hingga dunia internasional.
“Dokumentasikan tarian, musik, dan kerajinan kalian hari ini, lalu sebarkan melalui media sosial agar dunia tahu betapa indahnya budaya kita,” pesannya.
Di sisi lain, ia mengingatkan para pelajar untuk tidak menggunakan teknologi sebagai sarana menyebarkan informasi bohong maupun konten negatif.
Pesan kedua berkaitan dengan pembangunan karakter dan masa depan generasi muda Papua Tengah.
Menurut Meki, pelajar merupakan motor penggerak pembangunan daerah sehingga harus menjauhi berbagai perilaku negatif.
“Oleh karena itu, katakan tidak pada narkoba, tidak pada minuman keras, dan kenakalan remaja lainnya. Jaga diri, jaga kesehatan, dan fokus pada prestasi. Masa depan Papua Tengah ada di pundak kalian masing-masing,” ujarnya.
Usai pembukaan, para peserta dari delapan kabupaten mengikuti parade budaya dengan mengenakan pakaian adat dan membawakan yel-yel khas daerah masing-masing.
Pada hari pertama ini, dua cabang lomba langsung dipertandingkan, yakni Lomba Tari Kreasi dan Fashion Show.
Kemeriahan acara juga semakin terasa dengan penampilan spesial Amoye Band yang membawakan sejumlah lagu dan menghibur masyarakat yang memadati lokasi kegiatan.
Festival Cahaya Kreasi Pelajar Papua Tengah dijadwalkan berlangsung hingga 27 Juni 2026 dan menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kreativitas, memperkuat identitas budaya, serta membangun karakter generasi penerus Papua Tengah.








