NABIRE — Aroma bakar batu, keladi, betatas, hingga beragam olahan pangan lokal khas Papua memenuhi kawasan Lapangan Bandara Lama Nabire pada hari kedua Festival Cahaya Kreasi Pelajar Provinsi Papua Tengah 2026, Kamis (25/6/2026) sore.
Lomba Kuliner Khas Papua yang mempertemukan pelajar dari delapan kabupaten di Papua Tengah itu tak hanya menjadi ajang adu keterampilan memasak, tetapi juga ruang belajar untuk mengenali kembali identitas budaya melalui pangan lokal.
Sejak siang, para peserta tampak sibuk menyiapkan berbagai bahan masakan. Ubi-ubian, sayuran lokal, buah-buahan, hingga aneka daging diolah menjadi sajian tradisional maupun kreasi modern yang menggambarkan kekayaan kuliner dari daerah masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menariknya, sejumlah kelompok memilih menggunakan teknik memasak tradisional bakar batu. Beberapa peserta bahkan mengenakan pakaian adat Papua saat memasak, menciptakan suasana yang sarat nuansa budaya dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Panitia memberikan waktu 90 menit kepada setiap kelompok untuk menyelesaikan hidangan mereka. Selama proses memasak berlangsung, para dewan juri berkeliling ke setiap stan untuk mengamati teknik pengolahan, kebersihan, kreativitas, hingga penggunaan bahan pangan lokal.
Setelah waktu yang ditentukan berakhir, seluruh peserta menata hasil masakan mereka di atas meja pameran. Dewan juri kemudian kembali mendatangi setiap stan untuk mencicipi dan memberikan penilaian.
Sebelum lomba dimulai, salah satu dewan juri, Charles Toto atau yang dikenal sebagai Papua Jungle Chef, mengajak para pelajar untuk memahami bahwa makanan lokal memiliki nilai budaya yang sangat tinggi.
Menurutnya, pangan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan konsumsi, tetapi juga menjadi identitas suatu masyarakat yang kini semakin diperkuat melalui konsep gastronomi.
“Saya pikir ini momen yang baik bagi pelajar Papua Tengah untuk belajar kembali tentang budaya makan dan pola memasak yang diwariskan leluhur,” ujar Charles.
Ia menjelaskan bahwa Papua memiliki kekayaan tradisi bakar batu yang beragam. Mulai dari teknik bakar batu dalam tanah yang umum ditemukan di wilayah pegunungan, bakar batu di atas tanah yang banyak digunakan masyarakat pesisir selatan Papua, teknik mengguduk atau barapen menggunakan susunan batu panas berbentuk piramida, hingga teknik memasak sagu menggunakan batu panas yang masih dijumpai di wilayah Mamberamo Atas.
Menurut Charles, keragaman teknik memasak tersebut merupakan bagian dari kekayaan gastronomi Papua yang memiliki nilai budaya tinggi dan patut dilestarikan.
Senada dengan itu, dewan juri Suprianus Adi mengajak generasi muda untuk kembali mencintai pangan lokal sebagai bagian dari pola hidup sehat.
Ia menilai masyarakat Papua zaman dahulu memiliki pola konsumsi yang lebih alami dibandingkan saat ini yang banyak dipengaruhi makanan instan dan bahan tambahan kimia.
“Melalui kegiatan ini, saya mengajak pelajar Papua Tengah kembali belajar hidup sehat dengan mengonsumsi makanan lokal seperti sagu, keladi, dan ubi-ubian yang telah diwariskan oleh orang tua kita,” katanya.
Suprianus juga menegaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara profesional tanpa memihak peserta tertentu.
Sementara itu, Maya Yakadewa yang juga menjadi dewan juri menekankan pentingnya membangun kebiasaan mengonsumsi pangan lokal di tengah masyarakat.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengenal, tetapi juga mencintai dan mengembangkan berbagai bahan pangan yang tumbuh di lingkungan sekitar.
“Mari kita belajar mencintai makanan lokal seperti sagu, singkong, keladi, dan petatas. Begitu juga sayuran lokal yang ada di halaman rumah kita. Itu makanan sehat yang diwariskan oleh orang tua kita,” ujarnya.
Lomba kuliner tersebut semakin semarak dengan berbagai kuis berhadiah untuk masyarakat dan penampilan penyanyi lokal yang menghibur pengunjung sepanjang kegiatan berlangsung.
Menjelang malam, suasana festival semakin meriah saat DJ Sammy tampil menghibur para peserta dan penonton. Alunan musik yang dibawakan sukses menghidupkan panggung Festival Cahaya Kreasi Pelajar Papua Tengah dan menutup rangkaian kegiatan hari kedua dengan penuh antusiasme.
Festival Cahaya Kreasi Pelajar Papua Tengah 2026 masih akan berlangsung hingga 27 Juni mendatang. Sejumlah agenda lain yang masih akan digelar antara lain lomba bertutur cerita, stan pameran budaya, dan pertunjukan musik akustik.








