NABIRE — Penyanyi sekaligus pegiat literasi budaya Papua, Michael Jakarimilena, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Provinsi Papua Tengah yang dinilainya menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan membanggakan identitas budayanya sendiri.
Hal itu disampaikannya usai menjadi juri lomba bertutur cerita rakyat bersama sang istri, Floranesia Lantang, pada hari ketiga festival yang berlangsung di Lapangan Bandara Lama Nabire, Jumat (26/6/2026).
Menurut Michael, festival budaya seperti ini memiliki peran strategis di tengah derasnya arus budaya populer dari luar yang kini mudah diakses melalui media sosial dan gawai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini satu ajang, satu festival bagaimana kita sebagai anak-anak Papua, khususnya anak-anak Papua Provinsi Papua Tengah, bisa terus mengenal lebih dekat, mencintai, kita bisa merasa bahwa satu kebudayaan yang adalah kita punya identitas itu tidak mungkin diakui sama orang lain, kalau bukan kita sendiri. Dan acara-acara seperti ini, ini satu apresiasi yang sangat luar biasa di tengah gempuran budaya yang dari luar,” ujar Michael.
Ia menilai lomba bertutur cerita rakyat, lagu tradisional, hingga berbagai perlombaan budaya lainnya menjadi pengingat bahwa Papua memiliki kekayaan budaya yang tidak dimiliki daerah lain.
“Tanah ini dia menghasilkan alam yang begitu kayanya, yang menginspirasi kita sampai barang ini ada — ada lomba lagu tradisional, ada lomba bertutur. Itu lahir dari kita punya rahim Tanah Papua tercinta ini, yang bikin bahwa inilah kita punya warisan, kita punya budaya, kita punya identitas yang kita harusnya banggakan. Orang lain bolehlah cerita kamu punya keren, tapi kita juga punya juga ada,” kata Michael.
Michael mengaku bersyukur Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menghadirkan festival yang secara khusus memberi ruang bagi pelajar untuk menampilkan kekayaan budaya dari delapan kabupaten.
Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya sebatas perlombaan, tetapi juga sebuah investasi untuk menjaga identitas budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Berawal dari Anak yang Gemar Dinosaurus
Dalam kesempatan itu, Michael juga menceritakan lahirnya serial buku anak Sampari, karya yang ia bangun bersama istrinya, Floranesia Lantang.
Inspirasi tersebut muncul dari kebiasaan putranya yang setiap hari meminta dibacakan buku tentang dinosaurus.
Sebagai seorang ayah, Michael mulai berpikir mengapa anak Papua justru lebih mengenal hewan purba dibanding kekayaan alam di tanah kelahirannya sendiri.
“Sampari Cendrawasih sendiri ini adalah kita punya inisiatif, saya sama Flora. Karena saya punya anak kecil, saya punya anak yang umur 3-4 tahun, dia sangat suka dengan cerita dinosaurus. Setiap hari dia hafal dan setiap hari saya harus baca. Padahal dinosaurus dia sudah punah,” jelas Michael.
“Anak ini dia lahir di Karawaci, Tanggerang. Jadi saya bilang, bah tidak bisa. Bapak senang baca, tapi Bapak bosan baca barang yang sudah mati yang sudah punah. Dan kau ini anak Papua. Bapak baca-baca sampai Bapak bilang, besok Bapak akan bikinkan kau buku. Dia punya budaya yang kaya, dia punya banyak hewan endemik yang orang seluruh dunia datang, mereka tidak bisa ketemu di mana-mana,” imbuhnya.
Nama Sampari dipilih setelah melalui riset selama hampir satu tahun. Kata tersebut berasal dari bahasa Biak yang berarti Bintang Kejora atau bintang dari timur yang bersinar terang.
Michael sengaja memilih nama itu sebagai simbol harapan agar anak-anak Papua dapat menjadi pribadi yang bersinar tanpa melupakan akar budayanya.
Ia juga mengaku memilih nama dari bahasa Biak karena memiliki garis keturunan Biak dari sang ibu sekaligus ingin menghadirkan identitas Papua yang dapat diterima secara luas.
Mengangkat Cerita dari Kehidupan Sehari-hari
Michael mengatakan seluruh cerita dalam serial Sampari lahir dari pengalaman sederhana yang ditemui dalam kehidupan masyarakat Papua.
Menurutnya, inspirasi tidak harus dicari jauh-jauh karena lingkungan sekitar Papua menyimpan begitu banyak kisah yang belum banyak diangkat.
“Kaka Michael bikin cerita burung sampari Cenderawasih ini, bukan jauh-jauh. Barangnya ada di depan mata yang setiap hari kita main, duduk di luar, menyanyi, tiba-tiba satu dia tasalah, itu yang jadi cerita. Dan itu di luar negeri, sangat dihargai,” ungkapnya.
Ia menambahkan, justru cerita-cerita yang berakar pada budaya lokal itulah yang banyak dicari dunia internasional karena memiliki keaslian yang tidak dimiliki daerah lain.
Michael mengungkapkan bahwa dalam berbagai undangan ke luar negeri, budaya Papua menjadi daya tarik utama yang ingin dikenalkan kepada masyarakat dunia.
“Bukan Kaka Michael punya profesi sebagai penyanyi Indonesian Idol, Kaka Michael dapat undangan ke luar. Tapi, waktu Kaka Michael berdiri dengan cerita budaya, itu yang mereka undang. Kenapa alasan saya beberapa kali dapat undangan ke luar? Karena saya merepresentasikan budaya Papua. Bukan karena saya Indonesian Idol, bukan,” terang Michael.
“Mereka cari yang unik, mereka cari yang original, mereka cari yang dari mana kamu berasal,” pungkasnya.
Sampari Jadi Motivasi Anak Papua Bermimpi
Serial buku Sampari tidak hanya menghadirkan cerita tentang Burung Cenderawasih, tetapi juga dirancang sebagai media literasi yang mengenalkan satwa endemik, alam, bahasa, serta nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak Papua sejak usia dini.
Melalui tokoh Sampari, Michael berharap anak-anak tumbuh dengan rasa bangga terhadap identitasnya, berani bermimpi besar, sekaligus memahami bahwa inspirasi terbaik bisa lahir dari lingkungan tempat mereka dibesarkan.
Seluruh buku diproduksi secara mandiri bersama tim kecil yang terdiri dari Michael, Floranesia, dan putra mereka. Untuk menghasilkan ilustrasi berkualitas, mereka bahkan menggandeng ilustrator terbaik melalui proses seleksi khusus.
Saat ini, buku-buku Sampari dapat diperoleh di pusat oleh-oleh kreatif di Jayapura, Toko Buku Gumi di Yogyakarta, serta melalui platform daring Sampari.id.








