MIMIKA — Ratusan pemuda mengokang papan seluncur mereka di sepanjang Jalan Hassanudin menuju Pasar Sentral Timika, Papua Tengah, Sabtu (20/6/2026). Deru roda skateboard yang menggilas aspal menjadi penanda perayaan Go Skateboarding Day 2026 di Kabupaten Mimika.
Diinisiasi oleh Induk Organisasi Olahraga (Inorga) Komisi Indonesia Skateboarding (KIS) Mimika di bawah payung Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), ajang tahunan ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggung unjuk gigi sekaligus siasat mengejar ketertinggalan prestasi.
Perayaan yang sedianya jatuh pada 21 Juni dimajukan sehari lebih awal demi menjaring partisipasi massal. Agenda dimulai sejak pagi dengan fun games di area Car Free Day (CFD), lalu ditutup dengan kompetisi sengit hingga larut malam di Pasar Sentral Timika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Inorga KIS Kabupaten Mimika, Jamez Tambunan, mengungkapkan bahwa momentum ini menjadi ruang temu penting bagi ekosistem seluncur papan lokal.
“Ini acara yang dinanti-nantikan sama anak-anak skate karena mereka akan sama-sama berkumpul lagi. Teman-teman yang mungkin lama sudah tidak main dia akan datang, kemudian teman-teman yang mungkin sudah lama pensiun atau anak-anak baru juga banyak akan bergabung,” jelas Jamez.
Terapkan Standar Nasional
Ada yang berbeda dalam kompetisi tahun ini. KIS Mimika mulai menerapkan standardisasi ketat yang biasa diadopsi dalam Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS). Langkah ini diambil untuk mengikis mentalitas “sekadar hobi” dan membentuk insting kompetisi yang profesional sejak dini.
Sederet kategori dipertandingkan, mulai dari Game of Skate, High Ollie, Long Ollie, hingga variasi Best Trick pada rintangan Run (kategori Junior dan Senior/Beginner Open), Rail, Box, dan Quarter.
Melalui format baru ini, sejumlah skater lokal sukses mencatatkan namanya di papan juara. Di antaranya Abdi Manaf (Best Trick Rail), Bagas (Best Trick Box), Mahmiluddin (Long Ollie), dan Tarmizi Latuapo (High Ollie), dan Al-baits (Game of Skate).

Jamez menambahkan, pengenalan regulasi resmi pada kompetisi skala kecil merupakan investasi jangka panjang bagi atlet Mimika.
“Sehingga ketika mereka terbiasa dengan kelas-class tersebut, diharapkan di event kayak FORNAS atau mungkin event kabupaten dan provinsi mereka sudah siap,” imbuhnya.
Regenerasi atlet di Mimika juga menunjukkan tren positif. Peserta kompetisi kali ini merentang dari usia 8 tahun hingga jajaran skater senior berusia 38 tahun.
Menurut catatan KIS Mimika, dalam beberapa waktu terakhir, gelombang minat terbesar justru datang dari kalangan pelajar tingkat SMP, SMA, dan SMK.
Menghalau Kenakalan Remaja Lewat Papan Seluncur
Di balik antusiasme yang tinggi, tersimpan kegelisahan kolektif mengenai keberlanjutan pembinaan pemuda di Mimika.
Jamez menegaskan, masa transisi remaja yang sedang mencari jati diri memerlukan intervensi dan dukungan nyata dari tiga poros utama: pemerintah daerah, media massa, serta sektor swasta. Tanpa wadah positif, energi besar para pemuda rentan terdistorsi ke arah destruktif.
“Tetapi, ketika peran mungkin dari pemerintah kurang, kemudian peran dari beberapa perusahaan swasta yang sebenarnya mampu men-support tetapi memilih untuk tidak men-support itu kurang, anak-anak ini akan menjadi—bisa yang kita kenal—anak-anak aibon, nakal, berantem, kemudian suka bikin onar. Karena mereka tidak punya wadah positif yang mereka dapat tuangkan,” kata Jamez.

Ia berharap kolaborasi ke depan dapat lebih solid. “Harapan saya event selanjutnya, ya saya berharap pengusaha-pengusaha lokal ya mungkin kita bisa sama-sama build up, membangun nama baik sama-sama,” tuturnya.
Sinyal dukungan datang dari Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Mimika. Sekretaris KORMI Mimika, Slamet Dwiyono, mengapresiasi konsistensi komunitas dalam menggalang aktivitas positif yang melintasi sekat usia.
Menurutnya, olahraga rekreasi seperti skateboarding memiliki dampak signifikan pada aspek motorik dan mental pemuda.
Slamet menegaskan KORMI akan terus mengawal pergerakan olahraga ini di Mimika. “Harapan kami dari KORMI selalu mendukung kegiatan-kegiatan positif untuk penyaluran aspirasi, semangat, dan bakat yang ada pada diri para adik-adik semuanya,” ujarnya.
Kolaborasi Subkultur Urban
Go Skateboarding Day 2026 di Timika bertransformasi menjadi festival subkultur urban yang inklusif. Hajatan ini turut merangkul berbagai komunitas arus bawah di Mimika, mulai dari pegiat seni mural, komunitas graffiti, hingga pencinta sepeda.
Meski dukungan dari korporasi skala besar masih minim, perhelatan ini berhasil bergulir berkat sokongan dari KORMI Mimika, kemitraan beberapa perusahaan swasta lokal, serta sokongan dari sejumlah jenama (brand) pakaian lokal setempat. Kolaborasi swadaya ini menjadi modal sosial penting bagi masa depan pemuda Mimika di atas papan seluncur.








