Yayasan Somatua Terus Berkomitmen Kembangkan SDM Orang Asli Papua Lewat Training Center

Kamis, 16 Juni 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto bersama dalam kunjungan tim asesor akreditasi ke Somatua Training Center, Kamis (16/6/2022).

Foto bersama dalam kunjungan tim asesor akreditasi ke Somatua Training Center, Kamis (16/6/2022).

Timika – Yayasan Somatua yang berdiri sejak tahun 2017 di Kabupaten Mimika senantiasa berkomitmen untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) orang asli Papua lewat lembaga pelatihan kerjanya, yakni Somatua Training Center (STC).

Pendiri sekaligus Direktur Yayasan Somatua, Maximus Tipagau menjelaskan maksud dan tujuan dibangunnya training center ini adalah untuk melatih serta mengasah kemampuan dan skill para peserta sehingga nantinya bisa diserap oleh perusahaan-perusahaan di Kabupaten Mimika atau pun di tanah Papua.

“Sejauh ini sudah ada sekitar 400-an lulusan dari sini yang diserap oleh berbagai perusahaan seperti PT Freeport Indonesia, Petrosea, dan perusahan lainnya di Papua,” terangnya saat ditemui dalam acara kunjungan Asesor Akreditasi ke STC, Kamis (16/6/2022).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut dijelaskan bahwa STC sangat terbuka menerima peserta yang berasal dari suku Kamoro dan Amungme, sebab dia menilai di dalam dunia industri, orang Kamoro dan Amungme belum begitu nampak atau kurang menonjol.

“Oleh karena itu Yayasan Somatua taruh harapan dan benar-benar berkomitmen untuk membantu orang Kamoro dan Amungme,” ucapnya.

Baca Juga :  Rata-rata Guru Swasta di Timika Belum "Dilindungi", Yayasan Bisa Dituntut Jika Terjadi Kecelakaan Fatal

Selain Kamoro dan Amungme, Somatua Training Center juga membuka peluang bagi tujuh suku besar lainnya yang ada di Papua untuk memeroleh ilmu dan keterampilan.

Yayasan Somatua
Sejumlah peserta yang mengikuti pelatihan di Somatua Training Center.

“Tujuh suku Papua yang ada di Puncak, Nabire, Paniai, Intan Jaya, dan wilayah pegunungan itu pun bisa datang. Walapun mereka tidak sekolah tinggi atau sama sekali tidak sekolah pun akan kita bantu,” katanya.

Maximus juga mengungkapkan saat ini STC sudah memiliki berbagai aset dengan nilai sebesar Rp 16 miliar.

“Itu termasuk bangunan, kelas, mesin, alat berat seperti eksevator ada 5, truk 3, doser 2 dan lowder 1. Itu semua murni swasta,” ungkapnya.

Dia juga membeberkan kabar positif bahwa STC tengah disiapkan untuk mendapatkan akreditasi. Harapannya proses akreditasi tersebut dapat berjalan tanpa hambatan.

“Kali ini kami akan selesaikan akreditasi. Harapan kita akreditasi ini tidak ada hambatan hingga selesai, sehingga metode pembelajarannya kita bisa pakai dua sistem, yaitu face to face dan sistem online,” kata Maximus.

Untuk sistem face to face, para peserta tentunya dapat mengikuti pelatihan di Timika secara langsung dengan fasilitas yang sudah disiapkan untuk melatih keterampilan dan menambah pengalaman.

Baca Juga :  Equity and Access in Indonesian Education: Addressing Disparities

Sementara untuk sistem online, jelas Maximus, akan menggunakan aplikasi yang mana semua materi sudah ada di dalamnya. Siswa yang sudah mendaftar bisa langsung mengikuti program secara online dan mendapatkan sertifikat yang sama.

“Jadi mereka yang ada di Puncak, di Nabire, Paniai, Serui, atau Waropen, dan sebagainya tidak ada soal. Asalkan dia ada internet, dia sudah bisa ikuti pelatihan melalui sistem online. Ini juga mengikuti zaman digitalisasi,” tuturnya.

Di samping itu, Maximus juga menitipkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung STC dalam mengembangkan SDM orang asli Papua.

“Kami juga mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Mimika, yaitu terkait perizinan, dukungan moril, juga sempat ada biaya renovasi melalui Kesbangpol,” ucapnya.

“Juga kepada Freeport yang telah memberikan pekerjaan kepada saya sehingga hasil dari situ bisa saya sumbangkan membangun training center ini di timika untuk membantu banyak orang,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hindari Tumpang Tindih, Pemkab Mimika Minta YPMAK Fokus ke Mahasiswa OAP
Menolak Lupa Sejarah: Anak-Anak Sekolah Belajar Warisan Leluhur di Ekowisata Mangrove Pigapu
SPMB 2026 Dibuka, SMP Negeri 7 Mimika Siapkan Kuota 256 Siswa
Ribuan Pelajar Padati Hari Pertama Pendaftaran SMAN 1 Mimika, Sistem Antrean Membeludak
Kapolda Papua Tengah Resmikan MCK Sekolah di Pulau Karaka
Rumah Pintar Hadir di Pedalaman Puncak Jaya, Buka Akses Belajar Anak-anak Papua
Pendidikan di Waa Banti Mimika Belum Maksimal, Polisi Buka Kelas Darurat
Tiga Tahun Belajar di Luar Papua, Lulusan ADEM Kembali dan Siap Raih Bangku Kuliah

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 21:12 WIT

Hindari Tumpang Tindih, Pemkab Mimika Minta YPMAK Fokus ke Mahasiswa OAP

Senin, 29 Juni 2026 - 09:57 WIT

Menolak Lupa Sejarah: Anak-Anak Sekolah Belajar Warisan Leluhur di Ekowisata Mangrove Pigapu

Senin, 22 Juni 2026 - 14:54 WIT

SPMB 2026 Dibuka, SMP Negeri 7 Mimika Siapkan Kuota 256 Siswa

Senin, 22 Juni 2026 - 14:47 WIT

Ribuan Pelajar Padati Hari Pertama Pendaftaran SMAN 1 Mimika, Sistem Antrean Membeludak

Senin, 15 Juni 2026 - 19:19 WIT

Kapolda Papua Tengah Resmikan MCK Sekolah di Pulau Karaka

Berita Terbaru

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Mimika, Inosensius Yoga Pribadi (kiri), dan Vice President Government Relations PT Freeport Indonesia, Lenny Josephina (kanan), menandatangani Berita Acara Serah Terima hibah 11 kilometer pipa HDPE di area operasional dataran rendah PTFI, Mile 34, Mimika, Papua Tengah, Kamis, 9 Juli 2026. Dok. PTFI

Freeport

PTFI Serahkan Hibah 11 Km Pipa HDPE ke Pemkab Mimika

Jumat, 10 Jul 2026 - 14:39 WIT