Vebian Magal: Demo 18 April Bukan Berasal dari Amungme – Kamoro dan Suku Kekerabatan di Mimika

Ahmad

Senin, 15 April 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur YPMAK, Vebian Magal, didampingi sejumlah kepala suku dari suku kerabat di Mimika saat jumpa pers di Kantor YPMAK, Jalan Yos Soedarso, Mimika, Papua Tengah, Senin (15/4/2024). (Foto: Galeri Papua/Moh. Wahyu Welerubun)

Direktur YPMAK, Vebian Magal, didampingi sejumlah kepala suku dari suku kerabat di Mimika saat jumpa pers di Kantor YPMAK, Jalan Yos Soedarso, Mimika, Papua Tengah, Senin (15/4/2024). (Foto: Galeri Papua/Moh. Wahyu Welerubun)

MIMIKA – Yayasan Pengembangan Masyarakat Adat Amungme dan Kamoro (YPMAK) serta perwakilan lima suku kekerabatan di Mimika menanggapi adanya isu demonstrasi yang akan dilakukan pada 18 April 2024 mendatang.

Direktur YPMAK, Vebian Magal, didampingi beberapa kepala suku dan perwakilan suku kekerabatan menegaskan bahwa oknum kelompok yang ingin melalukan demo terkait pengelolaan dana 1 persen bukanlah bagian dari dua suku besar di Mimika.

Ia juga menyatakan, kelompok itu bukan berasal dari lima suku kekerabatan di Mimika.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mereka hanya kelompok yang memiliki kepentingan tertentu dan mengklaim mewakili serta mengatasnamakan masyarakat,” tegas Vebian Magal pada jumpa pers bersama awak media di Kantor YPMAK, di Jalan Yos Soedarso, Mimika, Papua Tengah, Senin (15/4/2024).

Semua orang diminta dewasa dalam menyikapi hal tersebut sehingga proses pelayanan kepada masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi tetap berjalan dan tidak terganggu.

Baca Juga :  LBH Papua Merauke Desak Presiden Terima Sikap PGI dan Hentikan PSN

Selain itu, Vebian membantah adanya isu yang dinilainya tidak benar tentang YPMAK yang disampaikan oleh kelompok tersebut.

“Apakah mereka (oknum yang membentuk kelompok tertentu) merasakan (dana 1 persen dan mengelolanya) ini sudah dewasa lalu meminta pemerataan atau hanya karena kepentingan tertentu?” Tanya Vebian Magal.

Adapun pengelolaan dana qkemitraan 1 persen merupakan langkah penyelamatan yang ditempuh oleh PT Freeport Indonesia melalui peralihan bentuk Lembaga ke Yayasan yang terjadi di YPMAK.

Peralihan bentuk lembaga ke yayasan diterangkan Vebian Magal terjadi lantaran banyak aset yang dulunya mencatut nama pribadi dan bukannya institusi.

Pertanggungjawaban penggunaan anggaran pun disebut Vebian Magal tidak dilakukan dengan baik.

“Hanya saja Freeport tidak terbuka soal itu kenapa bisa terjadi (peralihan bentuk lembaga ke yayasan),” lanjut Vebian.

Lebih lanjut, dirinya menegaskan jika kelompok yang ingin melakukan demo pada 18 April nanti menginginkan adanya evaluasi, maka hal itu bisa dilakukan dengan catatan dirinya sebagai direktur ingin kembali melanjutkan masa kepemimpinannya.

Baca Juga :  Sengketa Tapal Batas Kapiraya: Warga Tiga Kampung Dilaporkan Mengungsi

“Untuk saat ini, (saya) belum menyatakan apa-apa. Maka dari itu semua orang mendukung proses seleksi yang dilakukan tim seleksi yang saat ini berjalan sehingga tidak menganggu proses pelayanan kepada masyarakat,” ungkap Vebian.

Meskipun begitu, ia tetap mempertanyakan tujuan dari rencana dilakukannya demo.

“Atas dasar apa dan evaluasi apa yang ingin dilakukan serta letak dimana permasalahannya,” sebutnya.

Vebian menegaskan jika demo tetap berjalan nanti, maka pihaknya akan meminta kepolisian untuk menangkap para demonstran.

Sementara itu, Kepala Suku Nduga, Elipanus Susareat; Wakil Kepala Suku Mee, Deki Tenouye; Tokoh masyarakat Suku Damal, Yohanis Magai; Perwakilan Suku Dani, Yakobus Kogoya; dan Sekretaris Suku Moni, Beatrix Songgonau, menyepakati apa yang disampaikan Vebian Magal.

Kelimanya menegaskan ada jalur yang mestinya ditempuh oleh kelompok tersebut jika ingin melalukan evaluasi tanpa harus melakukan aksi demo.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

CSR Freeport Disorot, Masyarakat Tsinga, Banti dan Aroanop Dinilai Masih Tertinggal
Mamberamo Raya: Warga Anggreso Desak Pemprov Papua Bangun Jalan ke Sarmi
Dewan Adat Daerah Mimika Desak Kejari Usut Tuntas Dugaan Korupsi Pembangunan Rumah di Hoya
Mimika: Tumpukan “Sampah” Regulasi, Program Inovasi, dan Kampanye Lingkungan
Perubahan Iklim Global: Ketika Iklim Menghangat, Malaria Menguat di Mimika
Arnold Beanal ke MRP Papua Tengah: Urus Konflik Papua, Soal Saham Freeport Sudah Selesai
Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport
MRP Papua Tengah Dorong Perdamaian Konflik Kwamki Narama, 16 Korban Jiwa Jadi Perhatian

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:31 WIT

CSR Freeport Disorot, Masyarakat Tsinga, Banti dan Aroanop Dinilai Masih Tertinggal

Jumat, 12 Juni 2026 - 19:21 WIT

Mamberamo Raya: Warga Anggreso Desak Pemprov Papua Bangun Jalan ke Sarmi

Senin, 8 Juni 2026 - 16:19 WIT

Dewan Adat Daerah Mimika Desak Kejari Usut Tuntas Dugaan Korupsi Pembangunan Rumah di Hoya

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:04 WIT

Mimika: Tumpukan “Sampah” Regulasi, Program Inovasi, dan Kampanye Lingkungan

Senin, 18 Mei 2026 - 09:35 WIT

Perubahan Iklim Global: Ketika Iklim Menghangat, Malaria Menguat di Mimika

Berita Terbaru