MIMIKA – Panitia Timika Inside Festival of Art (TIFA) 2024 telah melakukan kurasi terhadap 25 sanggar, komunitas, dan sekolah di Kabupaten Mimika untuk tampil di panggung budaya yang akan berlangsung sepanjang event TIFA 2024 pada pertengahan Juli mendatang.
Proses tahapan kurasi yang dilakukan sejak bulan Februari hingga akhir Mei 2024 itu berhasil menetapkan 10 peserta terbaik yang akan difasilitasi dan dibiayai oleh panitia menuju ajang pertunjukkan seni budaya pada pagelaran TIFA 2024.
“Kami kemarin sudah terjun langsung untuk melakukan kurasi pada tanggal 24, 30, dan 31 Mei 2024. Seluruh peserta, baik dari sanggar, komunitas, maupun sekolah, totalnya ada sekitar 25 peserta. Dan kami telah menetapkan 10 yang terbaik,” ujar Koordinator Tim Kurator, Celo, saat ditemui di Sekretariat TIFA, Jalan Busiri, Timika, Papua Tengah, Kamis (20/6/2024).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Adapun kesepuluh peserta yang terpilih yakni Sanggar Seni Pregor, Sanggar Siklop, Sanggar Seni Yakarima, Sanggar Dwipa Bali, SMP YPK Ebenhaezer, SMP Santa Maria, SMP Yapis, SMA Tiga Raja, SMA Negeri 1, dan Sekolah Luar Biasa Timika.
Celo menjelaskan, dalam proses kurasi, Tim Kurator TIFA 2024 melakukan penilaian pada aspek wiraga, wirasa, dan wirama.
“Kita lihat geraknya, gestur, mimiknya, koreografinya, hingga bagaimana penjiwaannya dalam menampilkan sebuah tarian. Di samping itu, kita juga menilai pada sistem pola lantainya, blocking, dan juga level dalam pertunjukan,” tutur Celo.
“Dari 10 yang terpilih ini, memang ada beberapa yang masih kurang, namun kami melihat semangat dan usahanya yang menurut kami memiliki nilai khusus,” jelasnya.
Senada dengan itu, Ocean yang merupakan Duta TIFA 2023, juga menilai bahwa kesepuluh peserta terpilih telah menampilkan yang terbaik pada saat proses kurasi.
“Mereka layak dipilih karena mereka menari bagus terus membawakan budaya Papua. Tampilan juga berbeda-beda, ada yang tarian Yospan dari Sanggar Pregor, kemudian tarian nusantara dari SLB dan Santa Maria,” kata Ocean.
Sementara Johan yang juga merupakan Anggota Tim Kurator TIFA 2024 mengatakan begitu tertarik dengan penampilan dari Sanggar Dwipa Bali.
“Sanggar Dwipa Bali itu mantap, mulai dari segi kekompakan hingga keseriusan. Bagi saya mereka layak untuk tampil di event bulan Juli nanti,” tutur Johan.
Di samping itu, Koordinator Panggung Budaya, menyampaikan saat ini, persiapan pertunjukan untuk panggung budaya masih terus berjalan.
“Untuk penjadwalan masih dalam proses. Ada beberapa yang menjadi evaluasi kami dari tahun sebelumnya, seperti soal waktu. Tahun lalu, masih ada yang kurang tepat waktu. Untuk itu, kita terus genjot agar para peserta yang sudah terpilih dapat memerhatikan atensi itu,” jelasnya.
Alfo Smith sebagai Artist Director di TIFA Creative menyebut tahapan proses kurasi telah berlangsung kurang lebih 120 lebih hari sejak Februari 2024.
“Saat ini, kita sudah kasih keputusan total dan keputusan ini juga tidak hanya melewati sekali dua kali pertemuan, tetapi melewati beberapa tahap dengan experience yang kita sudah pernah lalui sama-sama,” ujarnya.

Meski hanya memilih 10 peserta, Alfo menyampaikan bahwa TIFA 2024 tetap membuka kesempatan bagi sanggar lainnya yang belum terpilih untuk berpartisipasi menampilkan hasil karyanya di event TIFA 2024.
“Itu tentunya sudah ada, tetapi kita juga akan memilih supaya performing-nya kelihatan tetap seirama dengan mereka yang sudah terpilih ini, karena kalau dilihat dari pertunjukannya sendiri kan ada bebebrapa yang dari luar Timika, bahkan luar Papua. Jadi, benar-benar kita buat untuk experience-nya mereka itu bisa tertata dengan rapi,” terangnya.
Alfo mengungkapkan, antusias dari semua peserta sangat tinggi dalam mengikuti proses kurasi.
“Apa lagi tahun ini kan TIFA sudah masuk dalam Kharisma Event Nusantara, program dari Kemenparekraf,” imbuhnya.
Dijelaskan lebih lanjut, setelah menentukan 10 peserta ini, panitia TIFA 2024 akan lebih intens berkoordinasi untuk proses latihan para peserta.
“Jadi, kita akan tentukan latihan durasinya begini, proses latihan begini, tidak boleh acak-acak. Itu kita akan intens sampai pada hari H event TIFA 2024,” pungkasnya.

Sebagai informasi, 10 peserta terpilih ini akan difasilitasi mulai dari transportasi, konsumsi, dan biaya performing senilai Rp4,2 juta.
Rp2,5 juta dari anggaran tersebut akan digunakan sebagai bentuk income dengan stan bazar pameran budaya. Di stan tersebut, para peserta dapat memamerkan, mempromosikan, dan menjual produk hasil buah karya tanganya.
Adapun Rp700 ribu dari anggaran bakal dipakai untuk menghadirkan salah satu perwakilan dari masing-masing sanggar untuk tampil pada Papua Culture Week dan memperebutkan juara Duta TIFA 2024.
Oleh karena itu, para peserta diharapkan dapat secara maksimal menampilkan pertunjukan terbaiknya.
“Untuk para peserta sanggar, lakukanlah yang semaksimal mungkin karena ini bisa menjadi kalian punya batu loncatan untuk ke depan. Terus sesi latihan dipakai baik supaya hasilnya bisa lebih maksimal,” tutup Joe, salah satu kordinator dalam kepanitiaan TIFA 2024.











