Beda RT, Sejumlah Warga di TPS 20 Kelurahan Kebun Sirih Mimika Dilarang Coblos

Endy Langobelen

Rabu, 27 November 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tampak oknum pria bertopi merah yang melarang warga dari RT lain untuk menggunakan hak suara di TPS 20, Kelurahan Kebun Sirih, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Tampak oknum pria bertopi merah yang melarang warga dari RT lain untuk menggunakan hak suara di TPS 20, Kelurahan Kebun Sirih, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

MIMIKA – Sejumlah warga di Kelurahan Kebun Sirih, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mengungkapkan kekecewaannya lantaran tidak diizinkan untuk melakukan pencoblosan di tempat pemungutan suara (TPS) 20, Rabu (27/11/2024).

Warga-warga tersebut dilarang menggunakan hak suaranya karena di TPS itu telah dilakukan kesepakatan sendiri bahwa yang boleh memilih hanyalah warga masyarakat dari RT 06.

Sementara warga dari RT lainnya tidak diperbolehkan sama sekali. Padahal nama-nama warga yang dilarang itu telah tertera jelas di kertas salinan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Model A-Kabko Daftar Pemilih yang ditempelkan di TPS 20.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pantauan Galeripapua.com di lapangan, sempat terjadi adu mulut antara warga dengan oknum seorang pria yang bertugas mengecek KTP dan mencegat warga dari RT lain.

“Yang boleh memilih di sini hanya warga RT 06. Ini KTP RT 013, minta maaf bapak. Undangan bukan jadi dasar untuk memilih. Ini TPS untuk RT 06 saja,” ujar pria bertopi merah itu saat memeriksa KTP salah seorang warga.

“Ini juga RT 012, minta maaf, tidak ada hak memilih di sini. Saya fokus untuk warga saya. Tadi, kita sudah debat banyak, pergi sana dulu. Kita sudah atur, sudah ada kesepakatan kalau TPS ini hanya untuk RT 06. (RT) yang lain tidak boleh,” katanya lagi usai mengecek KTP warga lainnya.

Baca Juga :  Jelang Idul Fitri, Puluhan Napi di Lapas Kelas IIB Timika Diusulkan Terima Remisi

Sementara itu, AS salah seorang warga yang dicegat mengaku kecewa dengan kesepakatan sepihak itu. Ia menilai kesepakatan itu hanya malah merugikan masyarakat dari RT lain.

“Sangat disayangkan sekali, di acara pesta demokrasi ini, ada salah satu orang yang menjegal kami untuk menggunakan hak suara kami,” tuturnya saat diwawancarai awak media.

AS yang merupakan warga RT 012 itu pun sempat menjelaskan kepada petugas dan bahkan telah menunjukkan namanya yang terdaftar di salinan DPT. Namun, dia bersama istrinya tetap saja dilarang untuk memilih hanya karena beda RT.

“Di sini nama saya jelas ada dan di online pun nama saya ada. Pas saya ke sana, saya ditolak karena alasannya saya bukan RT 06. Mereka tidak terima orang dari RT lain,” ungkapnya.

Di samping itu, AS juga mengeluhkan bahwasanya para petugas, baik dari pihak penyelenggara, pengawas, maupun keamanan, tidak berinisiatif untuk meluruskan persoalan itu.

“Harusnya mereka memberi tahu oknum tersebut bahwa pemahamannya itu keliru. Saya lihat petugas terkesan masih lengah. Petugas dari pengawas dan panitia penyelenggara juga tidak mengambil perannya dengan baik. Mereka tidak ada sama sekali inisiatifnya untuk menjelaskan hal ini ke pria itu,” sesalnya.

Baca Juga :  45 Sapi Disalurkan untuk Idul Adha, Bupati Mimika: Yang Belum Dapat Jadi Prioritas Selanjutnya

Dalam kasus itu, AS bersama warga lainnya tidak diberikan solusi apapun agar dapat menggunakan hak pilihnya. Mereka akhirnya meninggalkan TPS dengan rasa kecewa.

“Tidak ada solusi sama sekali karena solusinya hanya cari aman saja. Mereka bilang cari aman saja, mending kita pergi. Kita pergi pun dengan berat hati dan rasa kecewa karena ini adalah pesta rakyat, memilih pemimpin lima tahun ke depan. Ini sangat disayangkan karena sama saja ini kami dipaksa untuk golput. Saya berharap pihak terkait bisa mengusut apa yang sebenarnya terjadi di sana,” pungkasnya.

Untuk diketahui, sebelum dibuatnya kesepakatan bahwa yang boleh memilih hanya RT 06, sempat terjadi juga penutupan TPS 20 secara sepihak pada pagi hari. Beberapa oknum sempat meminta warga untuk pulang dengan alasan seluruh suara yang ada di TPS tersebut telah dibungkus (penggunaan sistem noken) untuk salah satu Paslon.

Hal itu pun tidak diterima oleh warga lainnya karena Mimika adalah salah satu dari dua kabupaten di Provinsi Papua Tengah yang tidak lagi menggunakan sistem noken.


Update berita terbaru lainnya dengan mengikuti saluran Galeripapua.com WhatsApp Channel. Klik link berikut https://whatsapp.com/channel/0029VafbmilChq6Dj7IL2i46

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tifa Creative Bawa UMKM Mimika ke Perhatian Staf Khusus Presiden, Tiar Diundang ke TIFA 2027
Petrosea Hadirkan Inovasi Pemanfaatan Air Hujan untuk Memperluas Akses Air Layak Minum di Sorong
Gaun Biru Vina, Duta TIFA Asal Kamoro yang Bersinar di Panggung Nasional
Satgas ODC Tangkap DPO Kasus Penembakan Karyawan Freeport
Dua Pemuda di Mimika Ditangkap Polisi Gara-gara Lakukan Pemerkosaan dan Mencuri
Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana, “Search and Rescue Goes to School” Edukasi Pelajar di Mimika
IA-ITB Dorong Investasi dan Pengembangan SDM untuk Percepat Pembangunan Papua
Nancy Raweyai Dorong Perubahan Mimika Lewat Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan Perempuan

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 00:39 WIT

Tifa Creative Bawa UMKM Mimika ke Perhatian Staf Khusus Presiden, Tiar Diundang ke TIFA 2027

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:35 WIT

Gaun Biru Vina, Duta TIFA Asal Kamoro yang Bersinar di Panggung Nasional

Selasa, 27 Oktober 2026 - 04:32 WIT

Satgas ODC Tangkap DPO Kasus Penembakan Karyawan Freeport

Selasa, 27 Oktober 2026 - 04:23 WIT

Dua Pemuda di Mimika Ditangkap Polisi Gara-gara Lakukan Pemerkosaan dan Mencuri

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:42 WIT

Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana, “Search and Rescue Goes to School” Edukasi Pelajar di Mimika

Berita Terbaru