TPNPB Klaim Tewaskan 8 Anggota TNI, Sebagian Jenazah Belum Dievakuasi

Endy Langobelen

Senin, 27 November 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasukan TPNPB-OPM KODAP III Ndugama-Derakma di bawah pimpinan Panglima Brigjen Egianus Kogeya.

Pasukan TPNPB-OPM KODAP III Ndugama-Derakma di bawah pimpinan Panglima Brigjen Egianus Kogeya.

NDUGA – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Komando Daerah Pertahanan (Kodap) III Ndugama Derakma menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa kontak tembak di Distrik Paro, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan pada Sabtu 25 November 2023 lalu.

Melalui siaran pers yang disebarkan Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, TPNPB Kodap III mengklaim telah menewaskan sebanyak 8 personel TNI.

“Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB-OPM telah terima laporan resmi dari pasukan TPNPB wilayah Ndugama, Papua, dan dalam laporannya mereka mengatakan bahwa pasukan TPNPB di bawah pimpinan Perek Jelas Kogoya telah berhasil tembak mati 8 anggota Kopassus di Distrik Paro. Panglima Kodap III Ndugama Derakma, Bridgen Egianus Kogoya, dan pasukannya bertanggung jawab,” ujar Sebby.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan laporan dari Komandan Lapangan TPNPB Kodap III, Perek Jelas Kogoya, dijelaskan bahwa peristiwa kontak tembak ini terjadi sekitar pukul 11.59 waktu setempat. Kontak tembak berlangsung selama empat jam.

“Baku tembak telah dimulai tepat pukul 11.59 – 16.15 waktu Nugama-Papua, di mana Tim Kopassus ini memata-matai pos penjagaan pasukan TPNPB, dan hal (pengintaian) ini sudah (berlangsung) cukup lama,” jelas Perek dalam laporannya.

Baca Juga :  Kasus Molotov di Kantor Jubi Lambat Diusut, Jurnalis dan Pembela HAM Turun Aksi

“Dan pada tanggal 25 November 2023, mereka melakukan serangan terhadap pasukan TPNPB yang sedang melintasi jalur pos penjagaan tersebut,” imbuhnya.

Atas serangan itu, lanjut Perek, pasukannya pun langsung melakukan serangan balik kepada para personel TNI.

Dalam kontak tembak tersebut, Perek dan pasukannya mengklaim telah menembak mati delapan anggota TNI.

“Kami tembak delapan (8) orang anggota Kopassus tewas di tempat dan itu ukuran pas. Sementara yang terkena peluru nyasar kami tidak hitung dan kami sudah pastikan yang tersisa dari Tim Kopassus itu hanya 3 orang yang masih hidup,” tuturnya.

“Sementara pihak kami pasukan TPNPB yaitu saya dan pasukan saya tidak ada yang korban maupun luka-luka. Kami lolos dari serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Tim Kopassus tersebut,” ungkap Perek.

Dikatakan pada pukul 15.00 WIT, terdapat tiga helikopter milik TNI yang melakukan serangang dari atas udara.

“Maka kami lakukan tembakan ke tiga helikopter tersebut sehingga 2 helikopter kena bodi enam peluru di sasaran dan kami yakin akan jadi barang rongsokan. Sementara helikopter yang satu, peluru mengenai bagian bodi bawah sehingga itu pasti baik-baik saja,” terang dia.

Baca Juga :  Kapendam XVII/Cenderawasih Sebut 3 Orang Tewas di Puncak Jaya Anggota OPM

Perek menyebutkan bahwa anggota personel TNI yang melakukan serangan sudah sejak lama didatangkan ke Paro, Kabupaten Nduga, saat terjadinya peristiwa pembakaran pesawat Susi Air dan penyanderaan pilot asal Selandia Baru pada 7 Februari 2023 silam.

Sampai dengan Minggu (26/11/2023) kemarin, kata Perek, sebagian jenazah belum dievakuasi keluar dari TKP.

“Helikopter juga beroperasi di atas udara, namun kami tidak melakukan tembakan terhadap helikopter tersebut karena hari ini (Minggu) adalah hari ke-7 Tuhan beristirahat setelah menciptakan langit dan bumi serta seisinya,” tutur Perek.

“Kalau besok ada serangan lagi, maka kami siap melayani. Kami (selama ini) menunggu niat baik Jakarta untuk negosiasi pembebasan pilot asal Selandia Baru ini, tetapi kami melihat Indonesia masih kepala batu melakukan serangan-serangan terhadap kami TPNPB kodap III Ndugama-Derakma, maka kami siap melayani Indonesia,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dewan Adat Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Benahi Mamberamo Raya
Film Dokumenter Pesta Babi Resmi Dirilis di YouTube JubiTV
MRP Papua Tengah Tampung Aspirasi Perempuan Mimika, Berbagai Persoalan Disorot
Fakhiri dan FPHS Tsingwarop Perkuat Komitmen Kawal Dana 4 Persen Freeport
Dari “Kolam Mancing” ke “Arena Tamiya”: Kritik Warga Timika Berujung Aksi Nyata
Petrosea–Distrik Miru Bangun RTH Terintegrasi, Dorong Lingkungan Sehat dan UMKM OAP
Petrosea Dorong Ketahanan Keluarga, Edukasi Catin Perdana Digelar di Mimika
Polisi dan Warga Beda Versi soal Situasi Kapiraya

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 00:01 WIT

Dewan Adat Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Benahi Mamberamo Raya

Sabtu, 23 Mei 2026 - 01:00 WIT

Film Dokumenter Pesta Babi Resmi Dirilis di YouTube JubiTV

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:41 WIT

MRP Papua Tengah Tampung Aspirasi Perempuan Mimika, Berbagai Persoalan Disorot

Minggu, 10 Mei 2026 - 21:21 WIT

Fakhiri dan FPHS Tsingwarop Perkuat Komitmen Kawal Dana 4 Persen Freeport

Selasa, 21 April 2026 - 19:05 WIT

Dari “Kolam Mancing” ke “Arena Tamiya”: Kritik Warga Timika Berujung Aksi Nyata

Berita Terbaru

Peresmian MCK sekolah di Pulau Karaka, Distrik Mimika Timur Jauh, Mimika, Papua Tengah, Senin (25/6/2026). (Foto: Istimewa/Polres Mimika)

Pendidikan

Kapolda Papua Tengah Resmikan MCK Sekolah di Pulau Karaka

Senin, 15 Jun 2026 - 19:19 WIT

Lebih dari 3000 Minuman keras ilegal yang berhasil diamankan dan dimusnahkan aparat gabungan dalam operasi pengawasan yang berlangsung sepanjang Januari hingga Juni 2026. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Hukrim

Sindikat Miras Ilegal Kuasai Jalur Logistik Mimika

Senin, 15 Jun 2026 - 19:13 WIT

Momen pemusnahan barang bukti minuman keras di Mapolres Mimika, Jalan Agimuga, Mile 32, Mimika, Papua Tengah, Senin (15/6/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Hukrim

Polres Mimika Musnahkan 3.000 Liter Lebih Miras Ilegal

Senin, 15 Jun 2026 - 19:09 WIT