Era Modern dan Peran Generasi Muda Lestarikan Budaya Kamoro

Ahmad

Rabu, 26 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu kelompok peserta yang tampil mempersembahkan Tarian Seka Kamoro pada ajang Timika Art Creation Festival di Graha Eme Neme Yauware, Selasa (25/11/2025). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Salah satu kelompok peserta yang tampil mempersembahkan Tarian Seka Kamoro pada ajang Timika Art Creation Festival di Graha Eme Neme Yauware, Selasa (25/11/2025). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

MIMIKA – Peran generasi muda dalam melestarikan budaya menjadi salah satu tantangan terbesar di era modern.

Pasalnya, kemajuan teknologi yang begitu pesat mengakibatkan terkadang tak dapat dibendung oleh masyarakat secara luas, terutama kalangan generasi muda.

Di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah terdapat dua suku besar yang merupakan pemilik negeri ini, yaitu Suku Amungme dan Kamoro.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari kedua suku ini, salah satu suku yang sangat dikenal dengan tarian adatnya yaitu suku Kamoro atau yang juga dikenal Mimika Wee.

Tarian adat yang paling dikenal secara luas dari Suku Kamoro yaitu tari Seka. Tantangan generasi muda di Mimika dalam melestarikan budaya suku Kamoro, khususnya Tarian Seka, cukup besar.

Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain kurangnya pengetahuan dan minat, gempuran budaya luar yang disebabkan oleh media sosial, tidak adanya dukungan dari pemerintah dan lembaga adat, perubahan gaya hidup dan urbanisasi yang mengakibatkan generasi muda lebih sibuk, hingga kesalahpahaman.

Baca Juga :  LMA-Tsingwarop Mulai Pertahankan Adat dan Kearifan Lokalnya yang Diterpa Zaman

Frits Padwa selaku Founder PKBM Tabea Ebenhaezer kepada media ini saat ditemui, Selasa (25/11/2025), pada gelaran Timika Art Creation Festival menyampaikan keluh kesah-nya mengenai hal tersebut.

Menurutnya, untuk mengatasi tantangan ini, perlu adanya upaya bersama dari generasi muda, pemerintah, dan lembaga adat untuk melestarikan budaya suku Kamoro.

Berangkat dari persoalan di atas, Pihaknya sendiri kini tengah menggelar sebuah ajang yang dirancang untuk bisa menjadi ajang tahunan dengan tujuan untuk melestarikan tarian suku Kamoro.

Di Graha Eme Neme Yauware, event bertajuk Timika Art Creation Festival itu digelar. Antusias peserta dari sanggar-sanggar tari, sekolah hingga kelompok tari dari masyarakat umum mewarnai jalannya festival.

“Kita punya anak-anak ini semakin lama lupa identitas dan budaya mereka. Sehingga, kita sama-sama bertanggung jawab untuk bagaimana melestarikan ini supaya adat dan budaya itu tetap melekat di kita punya anak-anak ini,” sahut Frits.

Frits pun meringkas sepenggal cerita tentang perjalanannya dalam mengamati budaya Kamoro, terutama tentang tarian Seka semasa ia masih aktif sebagai guru.

Baca Juga :  YPKB Dongkrak Kemampuan Anak-anak Suku Kamoro Lewat Pendidikan

Frits mengakui jika di era modern telah terjadi perkembangan yang sangat luar biasa dibarengi dengan kemajuan teknologi.

Sejak tahun 1990-an, kata Frits sempat menjadi tahun-tahun emas budaya Kamoro sangat digemari. Akan tetapi, perlahan redup setelah modernisasi.

Ia pun berinisiatif membentuk suatu lembaga dengan nama Pusak Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Tanea Ebenhaezer.

Lembaga ini telah didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan akan fokus pada isu budaya dan pendidikan.

“Jadi inti daripada itu adalah kami tetap melestarikan budaya Kamoro ini supaya jangan hilang atau punah,” ujarnya.

Menurut Frits, tarian Seka merupakan satu dari sekian banyak kekayaan budaya suku Kamoro yang masih dilestarikan hingga kini.

Dalam festival yang digelar pada hari ini merupakan babak penyisihan untuk mencari 6 peserta kelompok tari terbaik yang akan tampil pada puncak acara di tanggal 28 November 2025 mendatang, di lapangan depan Sentra Kuliner Pasar Sentral Timika.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tifa Creative Rancang Gallery TIFA sebagai Ruang Pertunjukan Seni Budaya di Mimika
Film “Teman Tegar Maira”, Suara Lirih Papua di Tengah Ancaman Deforestasi
‘Tabola Bale’ Meledak di AMI Awards 2025: Lagu Cinta dari Timur yang Taklukan Panggung Nasional
Ratusan Pelajar Mimika Ikut Pembinaan Kesenian, Perkuat Pelestarian Budaya Lokal
Mince Pakage dan Noken Agya: Menenun Kasih, Merajut Warisan dari Hutan Papua
Gelar Rapat Kerja, Dekranasda Kabupaten Mimika: Produk Budaya Lokal Harus Berdaya Saing
Hadir di TIFA 2025, Kabupaten Deiyai Raih 3 Nominasi Terbaik
Elpama Prison dan Skena Hip Hop di Balik Jeruji Besi

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 10:10 WIT

Tifa Creative Rancang Gallery TIFA sebagai Ruang Pertunjukan Seni Budaya di Mimika

Sabtu, 17 Januari 2026 - 04:15 WIT

Film “Teman Tegar Maira”, Suara Lirih Papua di Tengah Ancaman Deforestasi

Rabu, 26 November 2025 - 01:33 WIT

Era Modern dan Peran Generasi Muda Lestarikan Budaya Kamoro

Kamis, 20 November 2025 - 09:14 WIT

‘Tabola Bale’ Meledak di AMI Awards 2025: Lagu Cinta dari Timur yang Taklukan Panggung Nasional

Senin, 17 November 2025 - 20:28 WIT

Ratusan Pelajar Mimika Ikut Pembinaan Kesenian, Perkuat Pelestarian Budaya Lokal

Berita Terbaru

Peresmian MCK sekolah di Pulau Karaka, Distrik Mimika Timur Jauh, Mimika, Papua Tengah, Senin (25/6/2026). (Foto: Istimewa/Polres Mimika)

Pendidikan

Kapolda Papua Tengah Resmikan MCK Sekolah di Pulau Karaka

Senin, 15 Jun 2026 - 19:19 WIT

Lebih dari 3000 Minuman keras ilegal yang berhasil diamankan dan dimusnahkan aparat gabungan dalam operasi pengawasan yang berlangsung sepanjang Januari hingga Juni 2026. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Hukrim

Sindikat Miras Ilegal Kuasai Jalur Logistik Mimika

Senin, 15 Jun 2026 - 19:13 WIT

Momen pemusnahan barang bukti minuman keras di Mapolres Mimika, Jalan Agimuga, Mile 32, Mimika, Papua Tengah, Senin (15/6/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Hukrim

Polres Mimika Musnahkan 3.000 Liter Lebih Miras Ilegal

Senin, 15 Jun 2026 - 19:09 WIT