JAYAPURA – Tiga organisasi mahasiswa Papua, AMPERAMADA PAPUA, BEM USTJ, dan BEM FKM UNCEN, menggelar Panggung Rakyat di Aula Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, Sabtu, 27 Juni 2026. Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa dan masyarakat adat itu berlangsung hampir enam jam, pukul 10.00 hingga 15.38 WIT, sebagai bentuk penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional dan pendekatan militerisme di Papua.
Ketua panitia Rudi Jafata menegaskan pilihan seni sebagai strategi perlawanan yang disengaja. “Melakukan strategi perlawanan tidak hanya kita turun di jalan,” katanya. Ia menyebut Bob Marley, Lucky Dube, dan Arnold Ap sebagai referensi perjuangan melalui budaya. “Kita tidak bisa melawan pemerintah dengan satu strategi, tapi dengan berbagai cara,” ujarnya.
Rudi menyebut film dokumenter Pesta Babi sebagai titik tolak acara dan membingkainya dalam kerangka dekolonisasi. “Apa yang terjadi di dalam film Pesta Babi adalah bagian daripada dekolonisasi tanah adat,” katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga mengkritik struktur militer di Papua sebagai “pemerintahan bayangan”, yakni hierarki dari Mabes hingga Babinsa di tingkat desa yang menurutnya membatasi ruang gerak masyarakat sipil. “Tugasnya militer adalah perang, bukan mengurus lahan,” katanya. Rudi mengklaim banyak tambang ilegal di Tanah Papua dimiliki militer, termasuk di Kabupaten Yahukimo, klaim yang belum dapat diverifikasi secara independen.
Rudi juga mengkritik absennya jaminan sosial bagi masyarakat adat di tengah masuknya korporasi asing. “Faktanya adanya perusahaan asing, tapi jaminan sosial untuk masyarakat adat itu tidak ada sama sekali,” ujarnya. Ia menyebut mama-mama yang meninggal saat melahirkan karena terhalang administrasi berbelit di rumah sakit Jayapura sebagai bukti konkret.
Seorang orator yang tidak sempat diidentifikasi menyebut masuknya dua perusahaan batu bara dan satu perusahaan tambang emas di Dogiyai, Papua Tengah, sebagai bagian dari pola ekspansi PSN yang lebih luas.








