Mahasiswa Papua Gelar Panggung Rakyat, Tolak PSN dan Militerisme

Minggu, 28 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peserta Panggung Rakyat membentangkan spanduk bertuliskan

Peserta Panggung Rakyat membentangkan spanduk bertuliskan "Kami Butuh Sagu Bukan Sawit" dan "Stop PSN Merauke, Stop Perampasan Hutan Adat" di Aula Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, Sabtu, 27 Juni 2026. GaleriPapua/Ikbal Asra

JAYAPURA – Tiga organisasi mahasiswa Papua, AMPERAMADA PAPUA, BEM USTJ, dan BEM FKM UNCEN, menggelar Panggung Rakyat di Aula Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, Sabtu, 27 Juni 2026. Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa dan masyarakat adat itu berlangsung hampir enam jam, pukul 10.00 hingga 15.38 WIT, sebagai bentuk penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional dan pendekatan militerisme di Papua.

Ketua panitia Rudi Jafata menegaskan pilihan seni sebagai strategi perlawanan yang disengaja. “Melakukan strategi perlawanan tidak hanya kita turun di jalan,” katanya. Ia menyebut Bob Marley, Lucky Dube, dan Arnold Ap sebagai referensi perjuangan melalui budaya. “Kita tidak bisa melawan pemerintah dengan satu strategi, tapi dengan berbagai cara,” ujarnya.

Baca Juga :  Simpatisan Eltinus Omaleng Demo Tolak JR Pimpin Mimika

Rudi menyebut film dokumenter Pesta Babi sebagai titik tolak acara dan membingkainya dalam kerangka dekolonisasi. “Apa yang terjadi di dalam film Pesta Babi adalah bagian daripada dekolonisasi tanah adat,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia juga mengkritik struktur militer di Papua sebagai “pemerintahan bayangan”, yakni hierarki dari Mabes hingga Babinsa di tingkat desa yang menurutnya membatasi ruang gerak masyarakat sipil. “Tugasnya militer adalah perang, bukan mengurus lahan,” katanya. Rudi mengklaim banyak tambang ilegal di Tanah Papua dimiliki militer, termasuk di Kabupaten Yahukimo, klaim yang belum dapat diverifikasi secara independen.

Baca Juga :  Masyarakat Papua Asal NTT Kecam Aksi Persekusi Terhadap AMP di Kupang

Rudi juga mengkritik absennya jaminan sosial bagi masyarakat adat di tengah masuknya korporasi asing. “Faktanya adanya perusahaan asing, tapi jaminan sosial untuk masyarakat adat itu tidak ada sama sekali,” ujarnya. Ia menyebut mama-mama yang meninggal saat melahirkan karena terhalang administrasi berbelit di rumah sakit Jayapura sebagai bukti konkret.

Seorang orator yang tidak sempat diidentifikasi menyebut masuknya dua perusahaan batu bara dan satu perusahaan tambang emas di Dogiyai, Papua Tengah, sebagai bagian dari pola ekspansi PSN yang lebih luas.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News
KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua
OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya
Enam Tahun Kematian Pendeta Yeremia, KontraS Pertanyakan Rantai Komando
Kepala Suku Makuba Bagikan Bibit Cabai untuk Perkuat Pangan Lokal Papua
Ahli Pers Minta Sengketa Bupati Mimika dan Media Ditempuh Lewat UU Pers
Keluarga Korban Pembunuhan di Mimika Desak Polisi dan Kejaksaan Beri Kepastian Hukum
Tahun Ini Korban Konflik Bersenjata di Papua Tembus 163 Orang, Komnas HAM Minta Presiden Bentuk Tim Khusus

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:27 WIT

AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News

Rabu, 30 September 2026 - 15:35 WIT

KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua

Minggu, 27 September 2026 - 23:25 WIT

OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya

Kamis, 24 September 2026 - 13:39 WIT

Enam Tahun Kematian Pendeta Yeremia, KontraS Pertanyakan Rantai Komando

Rabu, 23 September 2026 - 20:12 WIT

Kepala Suku Makuba Bagikan Bibit Cabai untuk Perkuat Pangan Lokal Papua

Berita Terbaru

Ilustrasi.

Ekonomi

Meraba Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Mimika

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:20 WIT

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Mimika, Samuel Yogi. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Ekonomi

Mimika Punya 17 Ribu UMKM, Baru 3 Ribu Masuk Pembinaan

Senin, 5 Okt 2026 - 22:35 WIT