Aksi Teatrikal Greenpeace Soroti PSN Tebu Merauke, Suarakan Perampasan Wilayah Adat Papua

Endy Langobelen

Sabtu, 20 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Greenpeace Indonesia menggelar aksi teater untuk memprotes Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Greenpeace mengutuk deforestasi besar-besaran yang terjadi di Merauke akibat proyek tebu ini; setidaknya 560.000 hektar hutan telah hancur di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. Greenpeace - Jurnasyanto Sukarno)

Greenpeace Indonesia menggelar aksi teater untuk memprotes Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Greenpeace mengutuk deforestasi besar-besaran yang terjadi di Merauke akibat proyek tebu ini; setidaknya 560.000 hektar hutan telah hancur di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. Greenpeace - Jurnasyanto Sukarno)

JAKARTA – Greenpeace Indonesia menggelar aksi damai kreatif di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (18/12/2025).

Aksi itu menjadi panggung perlawanan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke yang dinilai mengancam hutan, ekosistem, dan ruang hidup Masyarakat Adat di Papua bagian selatan.

Melalui penampilan teatrikal dan instalasi seni bertuliskan “STOP PSN” yang dibangun dari banner serta batang tebu daur ulang, para aktivis Greenpeace bersama sejumlah anak muda Papua menyuarakan penolakan terhadap deforestasi besar-besaran di Merauke.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka juga membentangkan berbagai pesan protes, seperti “Stop PSN Merauke”, “Save Forest, Stop Sugarcane”, dan “Papua Bukan Tanah Kosong”.

Greenpeace Indonesia menggelar aksi teater untuk memprotes Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Greenpeace mengutuk deforestasi besar-besaran yang terjadi di Merauke akibat proyek tebu ini; setidaknya 560.000 hektar hutan telah hancur di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. Greenpeace - Jurnasyanto Sukarno)
Greenpeace Indonesia menggelar aksi teater untuk memprotes Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Greenpeace mengutuk deforestasi besar-besaran yang terjadi di Merauke akibat proyek tebu ini; setidaknya 560.000 hektar hutan telah hancur di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. Greenpeace – Jurnasyanto Sukarno)

Aksi ini menyoroti rencana ekspansi perkebunan skala raksasa yang dinilai akan memperparah krisis ekologis di Tanah Papua.

Ancaman tersebut, menurut Greenpeace, kembali ditegaskan melalui pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat percepatan pembangunan Papua pada Selasa, 16 Desember lalu.

Baca Juga :  Demo di Kantor KPU Mimika, Pendukung AIYE Tuntut Suara Dikembalikan

Dalam forum tersebut, Prabowo menyampaikan keinginan memperluas kebun sawit, tebu, dan singkong di Papua demi kebutuhan bahan bakar minyak dan bioetanol.

Greenpeace menilai pernyataan itu ironis, mengingat wilayah Indonesia bagian barat—khususnya Sumatera—masih bergulat dengan krisis iklim dan bencana ekologis akibat deforestasi puluhan tahun.

Namun, ambisi pembangunan berbasis ekstraksi alam justru diarahkan ke wilayah timur Indonesia.

Greenpeace Indonesia menggelar aksi teater untuk memprotes Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Greenpeace mengutuk deforestasi besar-besaran yang terjadi di Merauke akibat proyek tebu ini; setidaknya 560.000 hektar hutan telah hancur di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. Greenpeace - Jurnasyanto Sukarno)
Greenpeace Indonesia menggelar aksi teater untuk memprotes Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Greenpeace mengutuk deforestasi besar-besaran yang terjadi di Merauke akibat proyek tebu ini; setidaknya 560.000 hektar hutan telah hancur di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. Greenpeace – Jurnasyanto Sukarno)

Belgis Habiba, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, menyebut PSN Tebu Merauke sebagai proyek deforestasi terbesar di dunia saat ini, dengan potensi kerusakan ekosistem kunci yang sangat besar di Papua selatan.

“Kita baru saja menyaksikan besarnya dampak krisis iklim dan kerusakan ekologis terjadi di Sumatera akibat deforestasi besar-besaran yang dilakukan dalam beberapa dekade terakhir. Bencana serupa berpotensi sangat besar mengintai Papua, jika pemerintah masih bersikeras mengejar ambisi ketahanan pangan dan energi dengan cara merusak alam.”

Baca Juga :  Pos Brimob di Mimika Diserang Sekelompok Orang

Aksi damai ini juga dihadiri Vincen Kwipalo, Masyarakat Adat Yei yang pekan lalu dipanggil aparat dan menjalani pemeriksaan sebagai pelapor dugaan tindak pidana perkebunan serta perampasan wilayah adat Marga Kwipalo oleh PT MNM.

“Pemerintah bilang mau fokus ke pembangunan, tetapi mereka tidak melihat nasib Masyarakat Adat yang tanahnya digusur. Mau mereka ke manakan kami ini? Kehadiran perusahaan di kampung juga malah melahirkan konflik horizontal, tapi pemerintah tidak melihat itu toh? Pemerintah hanya mau kejar pembangunan tanpa melihat dampaknya bagi kami. Yang katanya pembangunan dari pemerintah ini justru membuat kami Masyarakat Adat menderita,” ujar Vincen.

Greenpeace Indonesia juga merilis laporan terbaru berjudul “Kenyataan Pahit di Balik Janji Manis PSN Tebu Merauke”.

Greenpeace Indonesia menggelar aksi teater untuk memprotes Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Greenpeace mengutuk deforestasi besar-besaran yang terjadi di Merauke akibat proyek tebu ini; setidaknya 560.000 hektar hutan telah hancur di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. Greenpeace - Jurnasyanto Sukarno)
Greenpeace Indonesia menggelar aksi teater untuk memprotes Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Greenpeace mengutuk deforestasi besar-besaran yang terjadi di Merauke akibat proyek tebu ini; setidaknya 560.000 hektar hutan telah hancur di Merauke, Papua Selatan. (Foto: Istimewa/Dok. Greenpeace – Jurnasyanto Sukarno)

Dalam laporan tersebut, ditemukan konsesi seluas 560.000 hektare—setara luas Pulau Bali—yang telah ditetapkan pemerintah untuk proyek perkebunan tebu raksasa di Merauke.

Dari luasan itu, sekitar 419.000 hektare merupakan hutan alam, disusul lahan basah seluas 83.000 hektare dan sabana 34.000 hektare.

Refki Saputra, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, menegaskan proyek yang diklaim sebagai jalan menuju swasembada gula dan energi terbarukan ini justru merupakan solusi palsu.

“Mengejar pemenuhan bioetanol dari Merauke justru mendorong konversi hutan alam skala besar. Ambisi mengejar energi terbarukan malah akan meningkatkan emisi dan menggeser fokus dari perbaikan produksi gula petani. Singkatnya, PSN Tebu ini adalah salah satu bentuk nyata praktik kolonial politik tanah kosong di Papua yang menukar keanekaragaman hayati dan ruang hidup Masyarakat Adat demi bahan bakar nabati,” tegasnya.

Melalui aksi damai ini, Greenpeace bersama Masyarakat Adat menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh dibangun di atas perusakan hutan dan penghilangan hak-hak Masyarakat Adat Papua.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kehadiran Aparat Non-Organik Timbulkan Rasa Takut Masyarakat Papua
Aksi Front Rakyat Papua di DPRK Mimika, Soroti Otsus hingga Investasi
Sengketa Tapal Batas Kapiraya: Warga Tiga Kampung Dilaporkan Mengungsi
Kritikan Mahasiswa dan Pemuda di Tengah Pujian Capaian Positif JOEL Pimpin Mimika
Pengungsi Nduga Dinilai Terabaikan, Pemerintah Diminta Bertindak Serius
Kepala Suku Mee Tekankan Penyelesaian Adat Sengketa Batas Kapiraya
Aksi 1.000 Lilin di Timika, Desak Pengusutan Kasus Andrie Yunus
Soroti Aksi Mogok, Pemuda Mimika Usul Petugas Sampah Diangkat Jadi PPPK

Berita Terkait

Sabtu, 11 April 2026 - 14:04 WIT

Kehadiran Aparat Non-Organik Timbulkan Rasa Takut Masyarakat Papua

Selasa, 7 April 2026 - 22:38 WIT

Aksi Front Rakyat Papua di DPRK Mimika, Soroti Otsus hingga Investasi

Jumat, 27 Maret 2026 - 23:12 WIT

Sengketa Tapal Batas Kapiraya: Warga Tiga Kampung Dilaporkan Mengungsi

Jumat, 27 Maret 2026 - 16:22 WIT

Kritikan Mahasiswa dan Pemuda di Tengah Pujian Capaian Positif JOEL Pimpin Mimika

Senin, 23 Maret 2026 - 16:18 WIT

Pengungsi Nduga Dinilai Terabaikan, Pemerintah Diminta Bertindak Serius

Berita Terbaru

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, berkomunikasi dengan para pejabat usai apel gabungan di pelataran Kantor Pusat Pemerintahan, SP3, Timika, Papua Tengah, Senin (13/4/2026). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Pemerintahan

Wabup Mimika Tegur Pejabat Tahan Kendaraan Dinas Usai Mutasi

Senin, 13 Apr 2026 - 15:02 WIT

Salah satu toko penjual plastik di Kabupaten Mimika yang terdampak kenaikan harga bahan baku. Galeripapua/ Kevin Kurni

Ekonomi

Lonjakan Harga Plastik Tekan Usaha di Mimika

Minggu, 12 Apr 2026 - 06:37 WIT

Finalis Duta Bahasa Papua 2026 pada malam puncak pemilihan duta bahasa Papua di Kota Jayapura, Sabtu, 11 April 2026. Galeripapua/Ikbal Asra

Event

Isak-Melani Jadi Wajah Baru Duta Bahasa Papua 2026

Minggu, 12 Apr 2026 - 06:01 WIT